Rabu, 13 Mei 2009

eshtarwind Fic ( ikatan )

A Team Gai Fic

Ikatan

----------------------------------------------------------------

Fly higher and higher towards a great future
Brightening wave of light shining on us
Lift up your hands, reach for the vast sky
True courage casting straight forward
Kick the ground and move forward!

Kumoko: Higher and Higher

---------------------------------------------------------------------

Semuanya berawal dari hari itu.

Hari saat Iruka-sensei mengumumkan kelulusan mereka sekaligus tim Genin mereka. Neji tidak pernah berharap dapat sekelompok dengan Lee. Lee tidak pernah tahu dia akan satu kelompok dengan Tenten. Tenten pun tidak pernah mengira dia akan satu kelompok dengan SANG Hyuuga Neji. Tapi mereka masuk ke dalam satu kesatuan. Atau seharusnya begitu.

Gai-sensei selalu berkata teman adalah segalanya.

Itulah yang diajarkan olehnya di hari tes pertama mereka. Mungkin Gai-sensei memang orang yang sangat aneh dan eksentrik. Jounin itu terlalu sering tersenyum dan senyumnya terlalu terang untuk ditahan oleh mata tanpa perlindungan—Neji biasanya mengeluh karena matanya sangat sensitif pada cahaya. Tapi Gai-sensei adalah Jounin yang baik, dan seorang manusia yang berhati lembut. Bagi timnya, sosoknya lebih daripada sekedar mentor mereka. Gai-sensei adalah seorang ayah, ayah yang menyayangi dan mengajari ketiga anaknya dengan baik.

Lee selalu berkata bahwa kerja keras akan membuahkan hasil yang sepadan.

Neji berkata bahwa takdir telah menuliskan segalanya untuk mereka semua dan tidak ada yang bisa mengubah itu.

Mereka biasanya bertengkar mengenai hal ini.

Mengenai takdir.

Lee mengajak Neji bertarung. Neji menyanggupi. Keduanya bersaing dan Neji selalu menang. Tenten tidak senang melihat Lee terluka dan menyuruhnya untuk menyerah tapi Lee menolak hal itu. Dia ingin membuktikan segalanya. Dia ingin memperlihatkan pada Neji keyakinannya.

Namun Lee gagal.

Dan entah mengapa, Neji tidak merasa bahagia akan hal itu. Lee adalah Lee. Lee yang kehilangan semangat bukanlah Lee. Dan Neji tidak merasa nyaman akan kenyataan itu. Dia tidak mengerti namun dia tidak suka. Dia ingin Lee kembali.

Neji mendorong Lee untuk melakukan apa yang bisa dia lakukan.

Neji mendorong Lee untuk sembuh.

Mungkin dia memang bukan orang yang dapat memperlihatkannya secara langsung. Namun paling tidak setelah pertarungan dengan Naruto, dia belajar sedikit mengenai bagaimana cara mengekpresikan perasaannya dengan benar. Paling tidak dia bisa jujur pada dirinya sendiri. Paling tidak dia bisa meminta Lee untuk bangkit.

Lee menjawab dengan melewati operasi itu dan berhasil.

Tenten selalu berkata bahwa wanita dapat menjadi sekuat pria, atau bahkan lebih.

Tsunade-sama memperlihatkan itu padanya.

Tidak ada yang menertawakannya saat dia berlatih. Mungkin dia memang tidak sekuat kedua teman satu timnya dan dia tidak akan berdalih semuanya itu karena dia perempuan. Tidak. Kedua teman satu timnya kuat dan dia bangga dapat berada di antara mereka. Dia dapat bertahan dengan Hyuuga Neji dan Rock Lee. Dibanding dengan semua kunoichi lain, dialah yang memiliki gaya bertarung paling bersifat fisik.

Mungkin Sakura memang menggunakan kepalan tangan dan tendangan yang kuat namun dia menggunakan chakra dengan baik. Sakura bertipe genjutsu karena kontrol chakranya. Lalu Tenten? Dia tidak menggunakan hal seperti itu. Dia tidak bertipe genjutsu. Kekuatannya adalah pada kecepatan, kelincahan, dan ketepatan. Pada otot. Taijutsu. Itulah bidangnya. Bidang yang diasah oleh mentor dan kedua teman satu timnya. Senjatanya ada dalam tariannya. Tarian naga dengan segalanya senjatanya. Senjatanya adalah besi dan baja, ledakan dan jebakan. Dia mungkin wanita, namun tidak ada orang lain yang memiliki senjata sebanyak dirinya.

Mungkin Team Gai bukanlah tim yang selalu sejalan.

Seperti tim yang lain, mereka memiliki tahapan. Seperti tim yang lain mereka memiliki saat dimana mereka berbeda pendapat.

Dahulu Lee dan Neji biasa bertengkar. Dahulu Tenten merasa tersisih. Namun semua itu memang memiliki kata keterangan waktu di depannya. Semuanya sudah berlalu.

Dengan segala misi dan latihan. Segala yang telah mereka lalui bersama… Mereka berubah. Menuju yang lebih baik.

Neji menerima takdir. Neji membuka mata pada dunia. Dia menerima Lee.

Lee dapat menahan kecepatannya. Lee belajar untuk menunggu. Dia dapat menahan diri saat temannya tertinggal di belakangnya.

Tenten belajar untuk tidak memandang orang dari kekuatannya saja. Tenten belajar untuk menjadi kuat sebagai dirinya sendiri, belajar untuk menerima dan melapangkan diri. Dia belajar untuk berada di sisi kedua temannya, menyanggupi kebutuhan mereka akan kekuatannya.

Gai memandangi semuanya terjadi. Gai memperhatikan mereka semua tumbuh. Dia memberi mereka semua kesempatan untuk tumbuh.

Team Gai adalah tim taijutsu.

Team Gai adalah tim yang penuh dengan latihan keras dan konflik di antara anggota timnya.

Team Gai tidak sepopuler tim lainnya.

Namun Team Gai adalah Team Gai.

Mereka tumbuh dan berkembang. Menjadi lebih baik. Menuju yang terbaik.

Tim taijutsu.

Tim penuh latihan.

Selamanya...

Mereka adalah Team Gai.

------------------------------------

OWARI

-------------------------------------------------

biaaulia Fic ( sepucuk surat )

Hujan deras membasahi desa Konoha. Tenten duduk dekat jendela kamarnya, mengawasi untaian air hujan. Pikirannya mengembara mengenang kejadian seminggu yang lalu…

---------------------

Flashback

Hokage-sama, anda memanggil kami?” Tanya Neji.

Ya, aku ingin memberi misi khusus untukmu dan Lee.” Ucap Tsunade. Wajahnya menyiratkan kegelisahan dan ketakutan.

Berdasarkan keputusan para tetua, kita akan menyerang desa Oto. Dikarenakan kekuatan desa mereka yang telah menurun drastis semenjak kepergian Sasuke, para tetua menyimpulkan bahwa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk melancarkan serangan. Konoha akan mengirimkan beberapa shinobi handal yang telah kami akui kekuatannya. Desa Suna juga akan mengirimkan beberapa shinobi-nya. Nantinya, kalian bekerja sama dengan mereka dalam misi gabungan ini. Kekuatan kalian berdua sangat diharapkan untuk menunjang presentase kemenangan dan juga keselamatan. Kami tidak mentolerir penolakan. Rapat misi akan dilaksanakan 2 hari lagi. Sekian.” Ucap Tsunade panjang lebar.

Tenten shock setelah mengetahui tentang misi tersebut melalui Sakura, yang terpilih sebagai ninja medis dalam tim tersebut. Ia segera berlari menuju rumah klan Hyuuga.

Sesampainya disana, Hinata memberitahu Tenten bahwa Neji berada di tempat latihan. Tenten segera berlari menuju kesana. Sesampainya ia disana, dilihatnya sosok Neji berdiri mematung di tengah lapangan.

Neji, apa betul kau dan Lee terpilih untuk misi menyerang Otogakure??” Tanya Tenten. Wajahnya gelisah. Mata coklatnya memandangi mata putih Neji.

Ya.” Jawab Neji dengan nada enggan.

Detik berikutnya, Tenten memeluk Neji sambil menangis. Air mata mengalir deras, membasahi baju Neji. Neji hanya diam, menatap langit. Dibiarkannya Tenten menangis sepuasnya. Setelah tangisannya reda, Neji menariknya menjauh dari dirinya.

Tenten, tak perlu menangis. Aku tahu bahwa misi ini berbahaya, namun fakta bahwa hanya shinobi-shinobi terbaik yang terpilih membuatku bangga, bahwa aku telah diakui.”

Tenten terdiam. Dia tahu bahwa inilah yang diinginkan Neji seumur hidupnya (Maaf kalau beda dari cerita. Namanya juga fanfic). Dirinya diakui sebagai seorang individu, terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah seorang Hyuuga. Tenten berbalik.

Kalau begitu, berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali.” Ucap Tenten.

Neji tersenyum. Diambilnya sepucuk surat dari sakunya, lalu diberikan kepada Tenten.

Tentu. Tapi, kau pun harus berjanji padaku untuk membaca surat ini, hanya pada saat aku telah pergi.” Ucap Neji.

Lalu, Neji berbalik dan pergi. Sosoknya menghilang, meninggalkan Tenten sendiri, memandangi surat Neji, lalu pergi…

End of Flashback

---------------------

Kemarin Neji dan yang lainnya telah pergi. Namun surat darinya masih terlipat rapi di atas meja riasnya, tak tersentuh. Tenten ganti memandangi surat tersebut. Lalu ia berdiri dan meraih surat tersebut. Dibukanya, lalu ia baca…

Aku tersenyum pada angin

Namun, kamu tidak melihat menembusnya

Aku bernyanyi pada air

Namun, kamu terbang di dalam angin

Aku berteriak pada dunia

Namun khayalmu melambai pada angkasa

Neji

Dahinya berkerut sejenak. Beberapa menit kemudian, senyum merekah di bibirnya, menghiasi wajahnya.

“Neji…”

---------------------

Beberapa bulan kemudian, tim tersebut kembali dengan selamat. Mereka berhasil menghancurkan Otogakure, dan membawa Orochimaru sebagai buktinya. Keberhasilan mereka dengan segera menyebar di seluruh Konoha. Siang itu, Neji sedang berjalan pulang menuju rumahnya, setelah melaporkan hasil misi tersebut kepada para tetua dan Hokage. Ia melihat sepucuk surat di depan pintu rumahnya. Surat tersebut ditujukan untuknya. Ia bawa ke dalam kamarnya, lalu ia buka…

Neji, aku tahu kau akan kembali. Terima kasih atas suratmu. Ini balasannya.

Jangan bilang aku tidak lihat senyummu

Karena dalam kesunyianku, aku menatap menembus angin

Jangan katakan aku tidak ikut bernyanyi

Aku dapat mendengar ritmemu dari dalam air

Jangan kira aku berkhayal terlalu jauh

Karena khayalanku sesungguhnya adalah khayalan pada dunia

Dan jangan bilang aku tidak menyimakmu

Karena aku dengar seluruh untai teriakmu

Tapi mestikah aku katakan semua itu?

Atau kamu yang harus?

Tenten

Neji tersenyum. Ditatapnya langit biru diluar jendela kamarnya.

“Tunggu aku… Tenten.”

---------------------

Tenten terdiam dalam kamarnya, menatap awan-awan yang menari indah di angkasa. Pikirannya gelisah. Ia takut Neji tidak merasakan hal yang sama. Tiba-tiba, dia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dia bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah pintu masuk. Dilihatnya Neji berdiri di depan pintunya.

“Hai.”

Tenten tersenyum. Dia minggir, lalu mempersilahkan Neji untuk masuk. Ditutupnya pintunya, lalu berjalan mengikuti Neji.

Mereka berdua duduk. Menit demi menit berlalu dalam keheningan. Lalu, tiba-tiba Neji berbicara.

“Tenten, tentang surat yang waktu itu, aku benar-benar menyukaimu, dan… eh… Maukah kau menjadi pacarku?” Ucap Neji. Wajahnya merah.

Tenten mendongak. Dilihatnya ekspresi Neji, untuk meyakinkan dirinya bahwa ia serius.

“Apakah kau sudah membaca suratku?” Tanyanya tersenyum.

“Ya.”

“Kalau begitu, kau pasti tahu jawabanku.”

Neji tersenyum, lalu memeluk Tenten dengan erat. Tenten terenyum pada pemuda di depannya, lalu membalas pelukannya dengan erat.

“Kalau benar begitu, berjanjilah padaku, sekali lagi, bahwa kau takkan pernah meninggalkanku selamanya…”

end

tensaisbaka FIC ( sayang )

Sayang

‘Sudah dua hari…’

Seorang kunoichi dengan model rambut yang mungkin lebih mirip panda menatap ke luar jendela kamarnya. Hujan.

‘Neji masih belum pulang juga…’

Flashback…

“Jalan pagi-pagi begini memang enak ya… Setelah ini langsung pulang dan latihan bareng Neji!” Perempuan berambut panda itu terlihat sedang berjalan di antara pepohonan menikmati udara segar di pagi itu.

‘Nanti jadi bilang nggak ya…? Tapi kalau ternyata dya nolak gimana…??’ Batinnya sambil menundukan wajahnya ke bawah dan tetap berjalan. Rencananya hari ini Tenten mau mengatakan perasaannya kepada Neji, teman latihannya. Sebenarnya, sang weapon mistress sudah lama menyukai teammate-nya itu, namun ia masih belum berani untuk mengatakannya apalagi ia tidak tau sama sekali perempuan seperti apa yang disukai oleh Tensai Hyuuga itu.

SYAATS..!!

Saat itu juga mata sang kunoichi menangkap beberapa sosok bayangan yang ia kenal bergerak di antara pepohonan.

‘Eh?, Neji?’ Mengapa Tenten bisa tau kalau itu Neji? Karena, tiap hari neji selalu keramas pake Emeron Shiny Grow yang mengandung ekstrak lidah buaya sehingga rambut Neji yang panjang makin panjang dan terlihat berkilau jika terkena sinar matahari.

“NEJIII…!!” Otomatis, kelima shinobi itu langsung berhenti.

“Aduuh.., ada apa lagi sih ini…?? Mendokuse…” Keluh seorang shinobi termalas se-Konoha gakure.

“Tenten? Ada apa?” Shinobi pengguna Byakugan itu mengeluarkan pertanyaan yang di tujukan kepada kunoichi yang memanggil namanya.

“Sudahlah…!! Ayo cepat…, nanti Sasuke keburu jauh…!!” Cerocos seorang shinobi dengan ranbut jabrik pirang dan tanda aneh di pipinya.

“Diam kau…!! Aku kan cuma mau bertanya ada apa dan kalian mau kemana?!” Tenten membalasnya dengan ketus.

“Heii… Kalian, hentikan…!!” Lerai seorang shinobi lainnya yang berbau seperti anjing karena memang selalu bergaul dengan anjing.

“Aku lapar…” Shinobi gemuk dari klan Akimichi itu mengusap-usap perutnya.

“Yaah… Memang sih, ini misi dadakan… Si Uchiha itu… ia pergi dari konoha, ke tempat seseorang yang bernama Orochimaru itu.” Jelas Neji singkat.

“Ehh?? Padahal aku kan belum sempat mengobrol dengannya…” Keluhnya sambil memasang wajah kecewa di wajahnya. Padahal ia hanya ingin tau bagaimana reaksi sang Bunke Hyuuga. Dan saat itu juga, Neji memalingkan wajahnya seraya mengumpat.

‘Huh, si Uchiha SIALAAN itu!!’( Author kebetulan memang benci sama Sasuke). Dan kata-kata kutukan lainnya.

“Ohh..” Tenten pun ber-oh kecil tanda mengerti. “Lalu, kapan kau kembali? Berarti kita tidak latihan selama berapa hari?” Lanjutnya.

‘Huh! Cuma Neji yang ditanya!’ Batin si Kyuubi.

“Hmm.., kami masih belum tau pasti karena misi seperti apa ini saja juga belum jelas…” Jelasnya lagi.

“Begitu…, padahal ada yang ingin kukatakan.. Kalau begitu setelah misi ini saja ya!”

“Sudahlah, cepat katakan saja, daripada buang-buang waktu.” Ia mengatakannya sambil melipat tangannya dengan gaya tenangnya.

“EHH?! Ti.., tidak mungkin di sini kan…!!” Tenten pun memprotes sambil menyembunyikan blushing-nya.

“Heii, ayo cepat, waktu kita sempit!!” Belum sempat neji menjawab sang Chuunin-baru-jadi kembali berbicara dengan gaya malasnya yang seperti biasa.

“Ya sudahlah, semoga berhasil ya! Ganbatte!!”

Tanpa ba-bi-bu lagi kelima shinobi itu langsung melesat dari pandangan Tenten.

End of Flashback…

Memang rasanya aneh kalau baru dua hari sudah khawatir, karena dua hari itu waktu yang terlalu singkat untuk melaksanakan misi darurat seperti ini. Tapi tetap saja ia gelisah.

Ketika tersadar, ternyata hujan telah berhenti. Kunoichi itu melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya, berharap bisa melihat pelangi… Berharap Neji telah kembali…

Clak, Clak!!

Seorang kunoichi lainnya terlihat berlari dengan tergesa-gesa melewati genangan-genangan air yang ada di sekitarnya menuju ke kantor Hokage-sama dan kebetulan melewati rumah Tenten.

‘Ah.., itu kan si jidat le.. ups! Bukan! Sakura…’

“Sakura?! Ada apa?” Tanya Tenten penuh harap-harap cemas.

“Akh, Tenten-san! Tadi aku dapat panggilan dari Tsunade-sama! Sepertiinya berhubungan dengan pengejaran Sasuke!!” Jawabnya sambil terengah-engah.

‘Sasuke.. Berarti ada hubungannya dengan Neji juga!’( Saat ini yang ada di otak Tenten cuma Neji).

“A..apa aku boleh ikut juga?”

“Boleh saja! Kebetulan aku juga diperintahkan untuk membawa beberapa Genin yang tersisa!”

Ketika sampai, di ruangan Tsunade-sama sudah ada Ino, Hinata dan beberapa orang ninja medis.

“Baiklah, tugas kalian adalah mencari dan merawat shinobi-shinobi yang kukirim untuk mengejar Sasuke!! Mereka adalah; Nara Shikamaru, Uzumaki Naruto, Akimichi Chouji, Inuzuka Kiba, dan Hyuuga Neji.” Tsunade mulai memberi komando.

“Lakukan pengejaran ke arah Otogakure” Ia melanjutkan.

“Sekarang!!”

Sesuai dengan komando sang Hokage, ninja-ninja itu langsung melesat pergi.

Di tengah hutan, cukup jauh dari Konohagakure

“Hinata! Bagaimana?” Kunoichi dari klan Yamanaka mulai merasa cemas karena sejak tadi mereka belum menemukan satu orang pun.

“A.. ada, Akimichi Chouji… Dan..,dan.. Neji-niisan!” Sang pewaris Souke Hyuuga mulai angkat bicara karena sejak tadi ia diam,mencoba berkonsentrasi dengan Byakugannya.

Mendengar nama Neji, Tenten langsung melontarkan pertanyaan kepada sang Heiress.

“Dimana?!”

STAAKK!!

Mereka berhenti tepat di depan Chouji yang sudah tak sadarkan diri. Melihat keadaan shinobi yang hobi makan keripik kentang itu, para ninja medis langsung bertindak. Sementara itu, Tenten…

“Hinata?!” Sang Weapon Mistress kembali menagih jawaban yang ia minta kepada anak pertama ketua klan Hyuuga sekarang.

“Ngg…, di, di arah barat laut sebelah timur. Lukanya cukup parah, banyak terdapat pendarahan.”

“Baiklah, kalau begitu aku duluan ke sana!” Dengan tergesa-gesa Tenten mengambil beberapa gullungan perban.”Tenten-san, nanti kami akan kirimkan beberapa ninja medis ke sana!” Ninja medis berambut pink itu menghampiri Tenten.

Tenten hanya menjawabnya dengan anggukan singkat.

STAAK!!

Tenten menapakan kakinya di tengah-tengah lautan darah yang tak lain adalah darah Neji ketika bertarung dengan Kidoumaru. Tenten mengmati darah yang ada di dekat kakinya dan melihat genangan-genangan darah lainnya di depannya. Sebenarnya, ia tak begitu mengerti petunjuk yang di berikan Hinata tadi, karena itu ia memutuskan untuk mengikuti jejak darah itu.

Selama mengikuti darah-darah itu ia banyak menemukan banyak senjata asing yang bentuknya seperti kunai dan anak panah, dan tak lama kemudian ia mulai dapat mencium bau Neji. Berikut pertanyaannya; Mengapa Tenten sampai bisa tau bau Neji padahal penciumannya tak setajam Kiba? Tentu saja karena Tenten adalah stalker setia Neji yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, bahkan ia sampai tau bahwa merek deodorant yang di pakai oleh Neji adalah Rexona for Men.

‘Neji.., tunggu aku!!’

Setelah itu barulah sang kunoichi menemukan sesosok Hyuuga Jenius tengah terkulai lemah tak berdaya dengan sehelai bulu burung di tangan kanannya.

“Neji!!” Reflek ia langsung berlari ke arah laki-laki yang sudah lama di sukainya itu.

Menyadari bahwa Neji mengalami banyak pendarahan seperti yang di katakan Hinata, Tenten langsung meraih perban yang tadi ia bawa. Ia berniat menghentikan pendarahan Neji untuk sementara, karena itu ia mencoba membuka baju Neji dengan perlahan tapi pasti.-Blushing-.

‘Gilee…, ni cowok badannya menggoda iman banget sich..!!’ Pikirnya, karena tadi ia juga sempat berperang dengan inner nya sendiri lantaran takut imannya goyah( Weqs?!). Tetap saja ia tak bisa berhenti merasa ketakutan dan khawatir melihat begitu banyak darah sang Bunke Hyuuga yang telah keluar. Ia pun mencoba membalut perban itu sebisanya sambil mencoba mengingat-ingat pelajaran medis sewaktu di akademi dulu.

Sesekali Tenten mencoba merasakan detak jantung Neji.’Sudah mulai melemah…’

Tenten menidurkan neji di pangkuannya dengan lembut.”Neji…, Neji…?”

Selama menunggu tim medis kadang ia mencoba membangunkan Neji. Sebenarnya ia hanya ingin menghapus pikiran di benaknya. Pikiran jika Neji tak akan bangun lagi… Namun, tetap saja entah kenapa di dalam otaknya malah berkali-kali terbayang ketika ternyata Neji tak membuka matanya lagi, ketika ia tak bisa melihat wajah tenangnya lagi, dan ketika ia tak bisa mendengar kata-kata dinginnya lagi… Dan pada akhirnya ia tak bisa lagi menahan air mata yang telah menggenang di mata coklatnya sejak tadi.

Dan pada akhinya semuanya tertumpahkan.

Setitik air mata turun dan mendarat di wajah neji. Dan kenyataan pun berkata lain.

Perlahan Neji membuka matanya, namun pandangannya masih buram.

‘Apa…? Siapa…?’

Sekilas ia melihat sesosok kunoichi yang ia kenal.

‘Tenten ada apa? Kenapa dia ada disini…? Kenapa dia menangis? Apa karena aku? Apa aku begitu berharga untuknya?...’ Neji terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri tanpa bisa langsung menanyakannya kepada Tenten.

Tiba-tiba saat itu juga sang Tensai Hyuuga merasakan kesakitan yang amat sangat pada luka-lukanya.

“AARRGH!!”

“Neji?! A.., ada apa?” Tenten yang menyadari bahwa Neji sudah sadar dan tengah mengerang keskitan langsung menghapus air matanya. Sementara itu Neji masih mengerang sambil memegangi luka di perutnya dan meronta-ronta.

“Neji..! bertahanlah sedikit lagi!!” Sang weapon mistress mencoba menenangkan laki-laki itu dan memeluknya dengan erat. Dan pada akhirnya Neji kembali tenang dan jatuh pingsan…

“Ketemu!! Hyuuga Neji!!”. Salah seorang dari pasukan ninja medis memberikan komando untuk berhenti, dan saat itu juga Tenten telah selesai membalut luka Neji.

“Akh… Akhirnya kalian datang juga!!” Tenten menarik nafas lega.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya ninja medis yang sama yang kelihatannya adalah ketua dari pasukan itu.

“Dia mengalami banyak pendarahan. Tadi aku sudah mencoba menghentikan pendarahannya untuk sementara. Sekarang lebih baik cepat bawa dia ke rumah sakit!” Tenten menjawabnya tanpa banyak basa-basi.

Dan dengan sigap para ninja medis itu membawa Neji kembali ke desa.

‘Neji…, bertahanlah…’

Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah sakit, disana sudah ada Shizune dengan ninja medis lainnya. “Akimichi Chouji sedang di tangani oleh Tsunade-sama, anak ini biar aku yang tangani!!” Ia berseru kepada pasukan ninja medis yang membawa Neji sejak tadi.

Tenten mencoba memberitaukan apa yang terjadi tadi.”A…, anu, tadi Neji sempat meronta sepertinya pendarahan pada perutnya sudah sangat parah…”

“Baiklah kalau begitu. Kalian, cepat bawa anak ini ke ruang operasi!!” Shizune kembali memberikan komando. Selanjutnya ia berlari mengikuti para ninja medis yang membawa Neji.

“Ma..,maaf, apa aku bisa menunggu sampai operasinya selesai?” Otomatis pertanyaan kunoichi itu menghentikan Shizune. Tenten memandangnya penuh harap.

“Sepertinya akan berlangsung lama, lebih baik kau pulang saja.” Sesaat ninja medis yang ada di bawah Tsunade itu memandang Tenten dan tersenyum kecil lalu ia menyodorkan pelindung kepala Neji yang sudah berlumuran darah sehingga lambang konoha-nya tak begitu jelas kepada permpuan yang menundukan kepala didepannya itu.

“Bisakah kau membersihkan ini dan memperbaikinya untuk teman lelakimu itu?”

“Akh…, i.., iya, baiklah!” Ia pun meraih benda itu dari tangan Shizune. Perempuan berambut hitam itu memberikan senyum singkat kepada Tenten dan kemudian pergi.

Di apartemen Tenten…

Sang pemilik apartemen sederhana itu melangkah masuk dengan gontai. Langsung menuju dapur yang ukurannya tak begitu besar tapi cukup untuk ukurannya. Ia langsung menuju tempat dimana ia biasa mencuci piring dan mulai membersihkan lambang konoha pada ikat kepala yang dititipkan Shizune padanya tadi. Ia mengusap benda itu dengan lembut.

‘Neji…, apa dia baik-baik saja ya?...’

Pikiran-pikiran negatif mulai memasuki pikirannya. Sekuat tenaga ia berusaha mengubah pikiran-pikiran negatif itu menjadi pikiran yang positif.

“Haha.., apa sih yang kupikirkan, Neji itu seorang Hyuuga! Shinobi yang kuat, tidak mungkin mati begitu saja kan!” Lagi-lagi Tenten berusaha menghibur dirinya sendiri dengan cara berbicara pada dirinya sendiri.

“…” Ia terdiam. Lagi. Walaupun begitu ia tetap tak bisa membuang pikiran negatif itu.

Ia melangkah lagi, kali ini ke kamarnya ia duduk di pinggir tempat tidurnya sambil mencoba mengusir rasa gelisah di dalam hatinya.

Pagi yang cerah. Orang-orang kelihatan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Tenten membuka lemarinya, diraihnya baju atasan biru dengan gaya china dan celana selutut coklat. Di depan kaca ia kembali menata rambutnya dengan gaya cepol dua seperti biasa. Tadi ia sudah menerima telepon dari rumah sakit, katanya, operasi Neji sukses. Ia senang bukan main. Karena itu dia juga langsung mengabari Hinata tentang berita itu. Gadis pemalu itu hanya menjawab dengan, “Be.., benarkah? Kalau begitu aku harus segera memberi tahu Otou-sama.” Entah karena memang ia terlalu pemalu atau ia tak begitu perduli tentang Neji.

Tenten mulai menelusuri jalan menuju rumah sakit. Pagi itu begitu cerah. Gadis yang baru berumur empat belas tahun itu sempat mampir ke toko bunga Yamanaka. Ia memilih bunga berwarna lavender. Sekilas, warnanya terlihat dingin namun sebenarnya lembut. ‘Hihi, seperti Neji…’ Batinnya.

Di rumah sakit Konoha…

“Ngg.., Hyuuga Neji ya?” Perawat itu mulai membuka-buka bukunya dengan seksama. Didepannya terlihat si rambut panda memperhatikan perawat itu.

“Akh.., ini dia! Dia ada di kamar nomor 38 di lorong B.” Perawat itu kembali menatap sang kunoichi sambil tersenyum, ia pun membalasnya dengan senyum lagi dan anggukan.

“Terima kasih!” Gadis itu langsung bergegas ke kamar yang di tujunya.

‘Fuuh… Tarik nafas…’

GREEK…

Pintu kamar pun terbuka, dan pemandangan yang ia lihat adalah Shizune dengan beberapa ninja medis lainnya kelihatan baru selesai memeriksa Neji.

Mereka tengah membereskan peralatan dan berjalan menuju pintu.

“Ah, Tenten-chan mau menjenguk ya? Sayang sekali, Neji masih tidur, mungkin kelelahan karena operasi kemarin.” Shizune tersenyum lembut.

“Ti…, tidak apa-apa kok. Aku Cuma mau menaruh bunga ini!” Tenten membalas senyumannya.

“Baiklah! Kalau begitu ku tinggal dulu ya!” Wanita lembut itu melangkah keluar dari kamar di ikuti oleh anak buahnya.

Tenten pun mendekati tempat tidur di mana Neji berbaring. Rambut laki-laki itu tergerai begitu saja, di dahinya terlilit perban yang menutupi lambang “Juuin”-nya. Ia hanya memakai kaos tipis berwarna putih sehingga perban-perban yang menutup luka-lukanya sedikit terlihat. Tenten memasukan bunga yang ia bawa dengan perlahan ke dalam vas bunga yang sudah tersedia. Lalu ia duduk di bangku yang tepat berada di samping tempat tidur Neji. Mengamati wajah Neji yang sedang tidur.-Blushing-.

‘Lutunah…’ Itulah pikiran pertama yang muncul di benaknya.

‘Ikh…, imut banget sich…!! Mana tahan…!!’ Tenten mulai histeris sendiri di dalam hati. Ketika Tenten sedang enak-enak berkhayal, tiba-tiba rasa mengantuk yang amat sangat besar menyerang dirinya mungkin karena malamnya dia memang tidak tidur lantaran mikirin Neji, alhasil, ia pun tertidur dengan sukses dengan tangan yang terlipat sebagai bantal di pinggir tempat tidur Neji, tepatnya di dekat kepala Neji.

Beberap saat setelah Tenten tertidur, Neji malah terbangun karena mendengar suara dengkuran. Ia pun bangkit ke dalam posisi duduk dan akhirnya menyadari siapa yang tengah tertidur di sebelahnya.

‘Tenten? Sedang apa dia disini? Bukannya seharusnya dia berlatih dengan Gai sensei dan Lee?’ Otak jenius Neji mulai berpikir dengan keras.

‘Hmm, mungkin dia bermaksud menjengukku. Apa aku tidur terlalu lama? Baiklah, ku bangunkan saja dia!’ Neji bermaksud membangunkannya tapi…, sesuatu menghentikannya. Di kamar itu hanya ada dia dan gadis sepantarannya yang tertidur.

“…” -Blushing-

‘ARRGH!! Tidak Neji!! Jauhkan pikiran kotor dan cepat bangunkan anak ini!!’ Neji mulai berbicara kepada inner-nya sendiri. Sepertinya otak jenius Neji sudah sedikit di cemari oleh Naruto.

Setelah berhasil menenangkan diri, Neji kembali melanjutkan urusannya dengan Tenten.

“Woi, Tenten!!” Tidak berhasil.

“TENTEN!!” Masih belum.

“TENTEN….!!” Belum berhasil juga, padahal suara Neji sudah seperti suara klakson di jalan raya.

“PANDAAA!!” Suara Neji sampai menggema ke seluruh penjuru rumah sakit, dan alhasil semua pasien yang ada langsung kejang-kejang. Tapi.., maaf anda belum beruntung…

Neji pun mulai frustasi. Akhinya ia pun menggunakan cara terakhir yang biasanya berhasil jika di pakai untuk membangunkan Lee.

“Sayank…, bangun donk..” JDAAK!! Kepala Tenten langsung menghantam dagu Neji.

“Ji, tadi siapa yang bilang sayang-sayang?” Tenten bertanya dengan penuh harap, sambil tengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang lain selain Neji.

“Setan kali!!” Neji membalasnya dengan ketus + dingin denga tangannya memegang dagunya yang dihantam oleh Tenten.

“Cih!!” -Cemberut-

“Sudahlah! Sedang apa kau disini?”

“Ya menjengukmu!! Memangnya kau tidak mau di jenguk?!” Masih cemberut.

“Jangan cemberut, bisa-bisa kau tambah jelek.” Neji membalas dengan tenang. Dan sebelum Tenten sempat protes, laki-laki dingin itu kembali melanjutkan, “ Lalu apa?”.

“Eh? Apanya?”

“Yang mau kau katakan. Masa’ sudah lupa?”

“EH?! I.., itu…” -Blushing-.

“ Waktu itu kan kau tidak mau mengatakannya. Makanya sekarang cepat katakan!” Kata-kata Neji membuat jantung Tenten berdebar tak keruan, Neji juga. Kenapa? Karena sebenarnya Neji sudah memperkirakan apa yang mau Tenten katakan, Kalau salah malu-maluin kan?

“I.., itu.., tidak begitu penting kok..” Tenten menundukan kepalanya. Tapi Neji menatap matanya dalam-dalam.

“Tapi setelah ini aku langsung pulang ya..?” Neji hanya diam seribu bahasa.

“A.., aku se, sejak dulu selalu…” Tatapan Neji malah semakin dalam.

“Menyukaimu…” Dengan suara yang amat sangat kecil, hampir berbisik, dan ternyata… BINGGO!! Tebakan Neji benar!! Tapi Neji malah ikut-ikutan blushing.

Sementara itu sang kunoichi sedang bersusah payah menahan cairan asin yang meleleh dari matanya. Tenten, seorang gadis yang tomboy dan amat susah untuk merasakan yang namanya menyukai seseorang. Sekalinya sudah merasakan cinta pertama ia takkan pernah bisa melupakannya, contohnya sekarang, dadanya terasa amat sangat sesak seperti di tusuk oleh ribuan kunai yang di asahnya sendiri sehingga menjadi amat tajam seperti perasaannya untuk Neji yang selalu di jaganya sampai saat ini. Sekarang ia menyesal sudah menyukai seorang Hyuuga Neji, seorang Hyuuga jenius. Kebetulan saja ia bisa dekat dengannya karena mereka ditempatkan pada tim yang sama dan karena Neji memilihnya sebagai partner berlatihnya. Semuanya hanya kebetulan.

Dan pada saat itu juga Tenten langsung berbalik.

“Sudah ya, aku pulang!! Yang tadi bukan apa-apa kok, tidak perlu di tanggapi kali ini cairan asin itu benar-benar keluar dan mengelus pipinya.

‘Aku menyesal sudah menyukai mu…’

Belum sempat Tenten melang kah, Neji sudah menggenggam pergelangan tangannya.

“Aku belum memberikan jawaban.”

“Tidak perlu!”

“Aku…” Detik selanjutnya Tenten langsung menarik lengannya dan menutup kedua telinganya.

“Neji…, tolong.., sudah cukup… jangan sakiti aku lebih dari ini…” Neji bisa melihat pundaknya yang bergetar dan air matanya yang menetes jatuh, karena itu ia mengurungkan niatnya untuk berbicara.

Dan tanpa di duga, tanpa bangkit dari tempat tidur, Neji malah menarik Tenten ke pelukannya. Otomatis Tenten kaget, selain ia tak punya tenaga ia juga tidak ingin melepaskan diri dari pelukan itu. Ia bisa mencium bau Neji dengan sangat jelas, bau yang ia sukai. Sementara itu, Neji mengelus rambut coklat Tenten dengan lembut.

“Ne.., neji…??”

“Kalau ini jawabannya, apa menurutmu aku masih menyakitimu?”

“Jangan lepaskan aku…” Itulah jawaban Tenten.

“Tapi aku pegal.., dan lagi aku juga lapar…” Benar juga.., sejak pagi ia belum makan.

“Ikh! Kau ini tidak romantis sama sekali!!” Tenten langsung melepaskan diri.

“Sudahlah!! Aku mau pulang!!”

“Begitu? Kalau begitu hati-hati di jalan ya, say” Mendengar ucapan Neji, Tenten langsung berbalik.

“Kau bilang apa tadi?” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Sayang. Kenapa lagi? Tidak boleh? Perlu ku ganti jadi honey atau darling?” Neji mengeluarkan senyum licik nya.

Tenten membalasnya dengan senyum licik lainnya.

“Tidak perlu kok yank”

end

tensaisbaka FIC ( when you cry )

When You’re Cry

All Neji’s POV

Lagi-lagi anak itu...

“Oii..., Neji...!! Apa kau sudah menunggu lama??”

Entah kenapa dia selalu bisa teriak-teriak seperti itu dengan santai walaupun aku tak pernah menjawabnya dan lagi pula aku sudah menunggu disini sejak 45 menit yang lalu. Daripada membuang waktu lebih banyak lagi, aku mulai mengambil posisi. Tanpa sepatah kata pun. Latihan rutin ini selalu kami sejak pagi. Entah sejak kapan Lee dan Gai-sensei tidak berlatih bersama kami lagi dan entah sejak kapan kami mulai terbiasa berlatih berdua seperti ini.

“Eh..?? Sudah mau mulai??”

“Tentu saja. Memangnya kau pikir sudah jam berapa ini? Sudah terlalu telat untuk latihan pagi.” Akhirnya aku bicara.

Kami mulai bertarung, menyerang satu sama lain. Walaupun aku tau hasilnya akan sama saja dengan yang kemarin-kemarin. Aku selalu keluar sebagai pemenang.

Aku sama sekali tak tau apa yang ada di pikiran panda betina itu dan apapun yang berhubungan dengannya. Yang ku tau hanya dia selalu menjadi gadis yang bebas. Tapi ia pernah menentangnya dengan berkata bahwa bebas itu berarti kesepian.

Ketika pertama kali datang ke apartemennya aku sangat kaget ketika tau bahwa ia tinggal sendirian disana. Aku sendiri juga tinggal sendirian, tapi apa perempuan seperti itu bisa tinggal sendirian saja? Kupikir, semua perempuan itu sama saja. Manja dan selalu mengandalkan orang lain seperti kunoichi lainnya. Tapi kenyataannya ia bisa hidup sendirian seperti itu.

Ia berbeda dengan Hinata-sama yang sangat pemalu dan pendiam. Ia berbeda dengan sakura yang pemarah dan pencari perhatian. Ia berbeda dengan Ino yang manja dan centil. Ia berbeda dengan Temari yang jutek dan cerewet. Ia selalu berbeda dengan kunoichi-kunoichi lainnya. Ia selalu ceria dan periang seakan tak ada apapun yang membebaninya.

Akulah yang paling mengenalnya. Tapi aku tak pernah melihatnya menangis. Ia tak pernah menjadi perempuan yang lemah. Ia selalu terlihat kuat. Terakhir kali aku melihatnya menangis hanya ketika aku memarahinya dan berkata bahwa dia itu lemah saat kami berlatih menjelang ujian chuunin. Aku sangat ingat waktu itu, ketika itu ia menangis di pundak Lee, dan entah kenapa aku jengkel melihatnya. Dan setelah itu ia tak pernah terlihat menangis lagi. Kadang aku bertanya-tanya jika aku mati, apa dia akan menangis untukku? Sejujurnya, aku mengharapkannya.

Sial... Walaupun aku berhasil mengalahkan manusia laba-laba itu, pada akhirnya aku juga... Ugh... kalau terus begini.. aku juga tidak bisa terus lagi, kembali ke desa juga tidak mungkin... padahal sudah sampai sini... percuma saja...

KRSAA..K!!

“Si...siapa itu...??” Aku mencoba mengeluarkan kata-kata dengan sisa-sisa tenagaku.

“NEJI...!!” Suara perempuan? Tapi siapa? Sial... melihat pun aku sudah...

Aku bisa merasakan cairan-cairan hangat berjatuhan diatas wajahku. Apa dia menangis? Apa dia Tenten? Aku bisa mengenalnya dari suaranya yang sedari tadi terus memanggil-manggil namaku. Apa dia benar-benar menangis untukku?...

...

...

...

Hah...? Dimana ini? Aku mulai membuka mataku perlahan.

Rumah sakit... Mungkin seseorang membawaku kesini... Hn? Apa ini? Tenten? Sedang apa dia disini?

“Oii... Kenapa kau tidur di sini??” Tidak ada jawaban.

“Tenten, cepat bangun dan lepaskan tanganku!!” Akhirnya aku melepaskan lenganku dengan paksa. Sepertinya dia sudah bangun...

“Akh, eh..., Neji, kau sudah sadar??” Pertanyaan yang aneh. Kalau aku belum sadar kenapa aku bisa bertatapan mata dengannya?

“Syukurlah...” Aku benar-benar tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat sekarang. Ternyata dia benar-benar menangis. Padahal, mati pun tidak.

“Eh, oi... Tidak perlu menangis kan...?” Rasanya sekarang ini keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku... Oh, Kami-sama..., dia benar-benar menangis...

“Ku..., kupikir..., Neji... Neji...” Dia mulai sesenggukan. Perempuan kalau sedang menangis memang semanis ini ya...??-Blushing-

“Neji..., kau benar-benar tidak apa-apa kan...??”

“Yah..., begitulah, untung saja panah itu tidak menembus jantungku...” Aku mencoba untuk tetap tenang.

“Su... sudah, jangan bicara seperti itu lagi!! Tadi aku bermimpi, Neji tidak bersamaku lagi...” Air matanya mengalir dengan deras, aku tidak tau harus bicara apa sekarang ini... Jadi aku memilih..., untuk menariknya ke dalam pelukanku...

“Baka... Yang seperti itu tidak mungkin terjadi kan...??” Aku mencoba berbicara selembut mungkin. Dan amat sangat tak di sangka, ternyata Tenten membalas pelukanku... Kalau sejak tadi aku tidak mengalihkan pandangan pasti aku sudah jatuh pingsan seperti Hinata-sama.

“Neji-kun..., arigato...” Ugh..., aku bisa merasakan wajahnya di dadaku, dan yang bisa kulakukan hanya mempererat pelukanku. Sudah cukup, Neji... Batasmu hanya sampai sini...(Inner Neji)...

Aku bisa mendengar suara langkah kaki seseorang mendekati kamar ini..., tapi Tenten terlalu sayang untuk di lepas, jadi aku memutuskan untuk tetap memeluknya. Dan...

GREEK...

Di balik pintu adaShizune dengan beberapa ninja perawat lainnya. Mereka merusak momen bahagiaku...

“Wah, wah... Neji-san, Siang bolong begini sudah mesra ya...” Saat itu juga Tenten melepaskan diri dari pelukanku. Ukh... dasar Shizune sialaan...

“Shi..., Shizune-san!! Kalau masuk ketuk dulu dong!!” Lagi-lagi dia blushing..., manisnya...

“Yaah... Aku tau kalian tidak ingin diganggu saat ini... Tapi aku harus memeriksa neji-san dulu sekarang.” Gadis yang merupakan murid Tsunade-sama itu mulai memeriksa luka ku.

“...” Sejak tadi, aku tidak melontarkan kata-kata sama sekali. Sementara itu entah kenapa Tenten terus menatapku dengan tatapan yang aneh dan dengan blushing tentunya.-Jawabannya adalah tenteu saja karena saat di periksa baju Neji di buka dan ternyata... Badannya muscular begete bowwh!!(Author mulai mikir yang aneh-aneh)-

“Shizune-san, bagaimana...?” Akirnya dia mengalihkan pandangannya.

“Hmm...” Dia pasti merencanakan sesuatu... Aku bisa membaca pikiranya...

“Yaah..., bagaimana ya..? Habisnya, sebenarnya lukanya terlalu parah dan mungkin besok masih harus di oprasi lagi... Tapi kalau tubuhnya tidak kuat menahannya, bisa saja nyawanya terancam...” Huh... Akting yang jelek Shizune-san...

“A...apa?! Benarkah?...” Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Tidak ku sangka dia tertipu semudah itu...

“Shizune-san, hentikan candaan mu itu. Tidak lucu, lagipula aktingmu jelek.” Akhirnya aku langsung bertindak, ketimbang anak itu menangis lagi...

“Hehe..., ketahuan yah...? Ternyata sulit juga ya, berbohong di depan seorang Hyuuga Neji. Gomen ne, Tenten-san? Sebenarnya Neji-san baik-baik saja kok, dia hanya butuh sedikit pemulihan...”

“Ehh? Jadi yang tadi itu tidak serius kan?” Wajahnya mulai terlihat cerah lagi.

“Begitulah... Ya sudah kalau begitu, tadi Lee-san juga baru datang. Aku harus segera memeriksanya.” Ninja-ninja medis itu langsung melesat pergi. Kalau Lee sudah pulang berarti...

“Tenten, apa kau tidak menjenguk Lee?”

“Tidak ah, aku menemani Neji saja, lagipula dia pasti sudah di sambut oleh Gai-sensei.” Fufufu..., ternyata dia lebih memilih ku di bandingkan Lee...-Neji mulai keliatan autis-

“...” Firasatku mulai tidak enak.

BRAAAKH...!!

“Uwoookh...!! Neji-kun!! Tenten-chan!! Aku sudah dengar dari Shizune-san...!! Jadi begini ya, cinta masa muda...!!” Benar saja, walaupun di penuhi perban, dia tetap bersemangat.

“Lalu... Mau apa kau ke sini?” Tenang... aku harus tetap menjaga ke-cool-an ku(terutama di depan Tenten)...

“Ngg... Mau melihat kalian. Eh? Sudah selesai ya...? Kalau begitu seharusnya aku datang lebih cepat...” Dan dengan itu pun akhirnya dia pun pergi dengan ekspresi kecewa. Aku yakin setelah ini Gai-sensei akan bertanya macam-macam kepadanya. Gejimayu baka... –Sweatdroped-

“Huuh!! Dasar Lee bodoh!!”

“Hn”

“Neji-kun...”

“Hn?” Ini dia yang kutunggu-tunggu...-Neji ngarep-

“Neji..., kau benar-benar tidak apa-apa kan?” Cih...

“Yah... Tentu saja. Ada yang ingin kau katakan lagi kan? Aku bisa membacanya dari wajahmu.” Aku tetap berusaha bersikap se-tenang mungkin.

“...”-Tenten sweatdroped + blushing- Imutnya...

“Ya sudah, biar aku saja...” Neji..., inilah saatnya...

“AISHITERU!!” WTF?!

“Heh?” Tenang Neji, tenang... –Padahal jantung dah mau nyembur dari mulut...-

“Neji, aku tau kau mendengarku! Jangan harap aku mau mengulanginya!” Ya, aku memang mendengarnya, tapi aku tidak percaya bahwa benar-benar dia yang mengatakannya.

“Ya, aku tau...”

“Lalu?”

“...”

“...” Lho? Ada apa ini? Apa yang terjadi?

Dan ternyata setelah kesadaran ku kembali, aku menciumnya!! Di bibir pula!! Tidakk...!! Neji!! Apa yang kau lakukan?? Padahal aku sudah berjanji batas-ku hanya sampai memeluknya sajaa!! Kami-sama, maafkan aku...!! Tidaak...!! Aku sudah berbuet hina...!! Apa boleh buat, sudah terlanjur, dilanjutkan saja deh... Mubazir kalau di lepas... Tapi sudah terlepas tuh... Hieks...

“Neji...” OMG!! Dia blushing!! Maniesnya...

“I...,itu jawabannya!!” Akhirnya aku menemukan kata-kata yang pantas...

Dan selanjutnya dia malah kembali memelukku lagi. Aku hanya bisa tersenyum geli melihatnya. Dan ketika aku mengalihkan pandangan ku ke jendela, disana sudah ada beberapa makhluk(Naruto, Kiba, Shizune, Chouji, dan masih banyak lagi -Shikamaru lagi sibuk pacaran sama Temari-) yang jelas-jelas sedang mengintip dan di vonis setelah ini akan di rawat di rumah sakit Konoha selama 3 bulan...

JYUUKEEN...!!”

Dan benar saja, mereka langsung di bawa ke bagian darurat. Dan untung saja aku tidak lupa masih ada Tenten di sini.

“Tenten.”

“Eh, Ya?”

“Aishiteru.”

Owari

tensaisbaka FIC ( when you smile )

When You’re Smile

All Tenten’s POV

“Sudahlah, hari ini sampai sini saja. Sepertinya kau harus menambah waktu latihanmu. Kalau seperti ini terus, kau tidak akan jadi kunoichi yang kuat.” Seperti biasa, di akhir waktu latihan, pasti laki-laki dingin itu berbicara seperti itu sambil melangkah pergi.

Dasar Hyuuga...

Sombong dan dingin. Itulah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Hanya dengan mengatakan dua hal itu semua orang pasti tau bahwa dia itu adalah seorang Hyuuga Neji. Aku sudah lama berada dalam satu tim dengannya, jadi aku sangat tau seperti apa sikapnya. Arogan, pendiam, dingin, tak berperasaan, tidak memiliki ekspresi, dan jenius.

Walaupun begitu, aku selalu iri kepadanya. Dia seorang Hyuuga. Di tambah lagi dia jenius dan kuat. Dalam latihan sehari-hari seperti ini dialah yang selalu keluar sebagai pemenang. Lee pun tidak bisa menandinginya. Namanya dikenal oleh begitu banyak orang. Dan lagi dia terkenal di kalangan permpuan, walaupun masih kalah di bandingkan si Uchiha itu. Walaupun berasal dari kalangan Hyuuga bunke, ia kelihatan lebih di segani daripada sepupunya sendiri yang berasal dari souke –author sedang menyindir Hinata yang teramat sangat di bencinya-.

Tidak terasa, ternyata aku sudah berada di depan pintu apartemenku. Bukan apartemen mewah. Hanya apartemen kecil yang sederhana. Berbeda sekali dengan rumah Neji yang sangat mewah.

Neji pernah berkata kepadaku bahwa aku ini gadis yang bebas. Bebas? Apa itu bebas? Bebas bagiku hanyalah kesepian. Neji selalu meremehkanku. Dia bilang tidak mungkin aku bisa tinggal sendirian saja di sini. Tapi buktinya, aku bisa bertahan sampai sekarang. Walaupun tanpa orang tua dan saudara. Sekarang, sudah ada Lee yang kuanggap sebagai saudara ku sendiri dan Gai-sensei yang seperti orang tuaku sendiri. Tapi aku tidak tau bagiku neji itu apa. Apakah dia bukan siapa-siapa bagiku? Atau mungkin aku menganggapnya lebih dari Lee ataupun Gai-sensei?...

“...” Lagi-lagi begini... Setelah berpikir tentang hal itu aku selalu berakhi begini... Menangis-di kamar-sendiri... Rasanya aku benar-benar menyesal ketika sadar bahwa sebenarnya aku menyukainya. Di tambah lagi ketika aku menyadari bahwa tidak mungkin dia menyukaiku yang begitu bertolak belakang dengannya. Aku tidak tau kenapa dan sejak kapan aku menyukainya. Padahal melihatnya tersenyum lembut kepada ku. Yang bisa kulihat hanya senyum yang sinis ketika dia mengalahkanku. Dia juga tidak pernah memujiku. Yah.., wajar saja, aku tak pernah melakukan sesuatu dengan sempurna.

Tapi jika aku melakukan semuanya dengan baik, apakah dia akan tersenyum lembut kepadaku? Aku tidak ingin terlalu mengharapkannya untuk mengatakan “Aishiteru” kepadaku karena itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lembut padaku...

Sial... Ternyata memang tidak bisa...

Padahal kupikir bisa mengalahkan orang Suna itu dengan mudah... Percuma saja latihan habis-habisan kalau hasilnya seperti ini...

Habis sudah...

Ngg?? Rasanya ada seseorang yang menopang tubuhku... Neji? Bukan... itu Lee... Huh, tidak mungkin Neji turun dan menolongku... Baginya tidak ada gunanya menolong orang lemah sepertiku...

Kalau terus begini, selamanyapun Neji tidak akan mengakuiku...

Nggh... badanku sakit semua...

Begitu tersadar aku sudah ada di ruang perawatan. Dengan penuh perban tentunya. Dan disampingku... ada Neji?? Haah..., dia pasti datang untuk menceramahiku lagi. Aku yakin dia tidak memiliki rasa khawatir untukku. Lagipula ia pasti di paksa oleh Gai-sensei atau Lee untuk menjagaku di sini...

“Hei.., Neji? Ternyata aku memang kalah ya...??”

“Tentu saja, aku kan sudah bilang kau harus latihan lebih serius lagi!!”

Apa siih? Aku kan sudah mencoba seserius mungkin!!

“Kalau begini, kau hanya terlihat seperti kunoichi murahan yang lemah seperti Hinata-sama!!”

Aku tidak lemah!! Dasar sombong!!

Aku hanya diam seribu bahasa mungkin ketika dia mulai menceramahiku dengan kata-kata tajamnya. Sebenarnya saat itu juga aku ingin menangis, tapi jika aku benar-benar menangis di depannya, pasti dia akan menganggapku ‘gadis lemah yang cengeng’. Tapi pada akhirnya, tetap saja aku menangis ketika Hyuuga dingin itu keluar dari ruang perawatan. Aku tau dia sudah mengalahkan Hinata yang dari keluarga souke, tapi tidak perlu sesombong itu kan? Apa dia pikir aku tidak bisa menjadi sekuat Tsunade-sama? Lihat saja, Hyuuga!! Aku akan membuktikannya secepat mungkin padamu!!

“Haa..h, DASAR NEJI MENYEBALKAN!!” Rasanya saat ini semua orang di Konohagakure bisa mendengar suaraku...

Bodoh!!, bodoh!! Sudah bilang begitu, tapi tetap saja memanggilku untuk latihan!! Lagipula kalau di hitung-hitung sebulan ini dia terus menyuruhku untuk menemaninya latihan untuk ujian chunin babak ke tiga besok.

Hee?? Dia sudah disini rupanya?? Kupikir aku datang lebih awal... Haah... Lagi-lagi sedang bermeditasi...

“Oii..., Neji... Aku sudah disini...!!” Kalau tidak begini, dia tidak akan terbangun dari meditasinya.

“Hmm? Tenten? Datang lebih awal rupanya...” Ia mulai berdiri dari posisi meditasinya. Kalau melihatnya, entah kenapa semua rasa marahku kepadanya langsung hilang. Haah..., aku memang tidak bisa marah didepannya...

“Yaa..h.., kebetulan saja aku bangun lebih pagi dari biasanya... Sudahlah, ayo kita mulai saja sekarang!!” Aku mengeluarkan dua buah gulungan dari kantung di celanaku.

“Baiklah...”

“Kaiten!!” Lagi-lagi dia mengeluarkan jurus andalannya dan menghempaskan kunai-kunai ku... Kalau begini bagaimana aku bisa menyerangnya? Lagipula kami sudah lama sekali bertarung, cakraku sudah benar-benar terkuras habis!!

“Ugh..., sepertinya cakraku sudah habis...” Hmm? Rasanya aku mendengarnya menggumamkan sesuatu... Baiklah, satu serangan terakhir!!

“Hoi, Tent... Ugh!!” Gawat!! Ternyata dia menyuruhku selesai!! Kenapa juga kunaiku mengenai pundaknya!?

“Ne..., Neji, gomenasai!! Kupikir kau masih ingin melanjutkannya...” Aku mencoba mengambil kunai yang kulempar tadi.

“Huuh... Aku memang masih terlalu lemah... Sudahlah, ini bukan apa-apa...” Uuhh.. Lagi-lagi cuma senyum sinis... Yang kuinginkan itu senyum yang lembut tauk...!!

“Jangan bicara begitu!! Ayo ke rumahku!! Aku akan mengobati lukamu!!”

“Agh... baiklah...”

“Nah, tunggu saja di sini, aku akan mengambilkan obat dan perban untukmu.” Aku mempersilahkannya duduk di sofa di dalam ruangan apartemenku yang tentu saja tidak luas.

“Hmm? Apa ini?” Sesaat, aku mendengar suara Neji. Ya ampun... Lagi-lagi aku lupa dimana aku meletakkan buku ku. Memang bukan buku harian, tapi buku itu semua isinya adalah ungkapan perasaanku dan semua halamannya basah karena aku menulisnya sambil menangis... Semoga saja aku tidak meletakkannya sembarangan, apalagi kalau sampai di baca Neji... Habis sudah...

“Hei Neji, bisa tolong buka bajumu??”

“Akh.., eh... Baiklah...” Kenapa dia? Kenapa ekspresinya seperti itu?? Lagipula kenapa juga dia menatapku dengan tatapan aneh seperti itu??

“Ada apa? Kau tidak suka apartemenku?”

“Agh..., tidak, bukan apa-apa...” Tetap saja gerakannya aneh... Ya sudahlah, lebih baik aku cepat-cepat mengobatinya sebelum darahnya keluar lebih banyak lagi... Kalau di pikir-pikir aku ini cukup beruntung juga bisa melihat Neji telanjang dada begini... Apa boleh buat, lagi pula aku sudah biasa mengobatinya.

“Yak, sudah selesai!!”

“Ah..., ng..., arigato...” Ia mulai memakai bajunya. Tapi tetap saja sikapnya masih aneh. Kenapa sih dia?

“Oh ya, Tenten, besok pagi kita berlatih sebentar sebelum ujiannya dimulai... ya...?” Setelah itu ia langsung berbalik lagi dan meninggalkan apartemenku.

“Haah... Si Neji itu, apa dia tidak capek ya, berlatih terus? Ng?”

Lho? Lho? Ini kan buku ku!! Ternyata ada disini?!Ya ampun!! Jangan-jangan Neji membacanya?? Apa karena itu sikapnya jadi aneh?? Habis sudah... Sekarang Neji pasti menganggapku salah satu fangirl-nya yang aneh dan cengeng!! Habis sudah kalau benar begitu. Yaah..., semoga saja tidak...

Haah... Harus bagaimana nanti wajahku di depannya?? Ukh... kenapa dia sudah ada di sana siih...?? Baiklah... bersikap biasa saja seperti tidak ada apa-apa...

“Ooiii!! Neji!!”

“Ah, kau rupanya.” Bagus... harus ku teruskan seperti tadi...

“Ayo kita mulai sekarang!!”

“Hn. Karena waktu kita singkat sekarang, aku ingin kau melemparkan senjatamu dari segala arah. Aku tidak ingin si bodoh itu mengetahui blindspot-ku.” Baguslah, sikapnya juga sudah kembali seperti biasa.

“Baiklah, kumulai sekarang ya..!!”

“Kapanpun kau mau.”

Akhirnya ujian chunin selesai... Tapi aku benar-benar tidak percaya ini...

Neji... kalah...?? Apa dia bercanda?? Padahal Neji sudah menekan semua tenketsunya kan? Dari mana cakra sebanyak itu di perolehnya? Benar-benar tidak masuk akal... Anak itu benar-benar berbeda dibandingkan saat babak penyisihan kedua waktu itu... Yang lebih penting sekarang Neji...!!

“Hmm... Ruang perawatannya di sini kan??”

Ukh... masuk tidak ya...? Neji pasti sedang benar-benar hancur sekarang... Padahal dia sudah berlatih sekeras itu... Lagipula ini juga pertama kalinya dia dikalahkan oleh genin yang masih di bawahnya... Baiklah, sekarang tugasku adalah menghiburnya!!

“Hei, Ne..., ji...?”

“Ah... Tenten...”

Di..., dia... tersenyum?? I... ini... tidak mungkin... kawaii-nya...-blushing-...

“Eh... apa aku mengganggumu...??”

“Hmm, tidak...” Ah..., itu... Tanda kutukan yang ia ceritakan padaku waktu itu...

“Tadi sayang sekali ya..? Padahal kau benar-benar kelihatan hebat tadi.”

“Yaah.., mungkin itu karena aku terlalu meremehkannya atau mungkin memang karena aku masih lemah...”

“Ti..., tidak kok!! Kau benar-benar hebat!! Pasti itu hanya kebetulan saja dia bisa menang!!”

“Tenten..., arigato...” Ya ampun!! Dia tersenyum lagi...!!

“Hehehe...” Baiklah... aku juga mengeluarkan senyum andalanku!!

“Hn? Kau pakai lipgloss ya?” Apa?! Dia sadar??

“Eh? Hehe... Jarang-jarang kan? Aku cuma ingin mencobanya saja... Begini-begini aku kan juga perempuan... Warnanya jelek ya...?”

“Hmm... Tidak juga... Manis kok...” Ne..., Neji blushing?? Seorang Tenten sepertiku bisa membuatnya blushing??

“Eh? Ma... ngg??” Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip-adegan di sensor-padahal author sedang membayangkan yang aneh-aneh-

Tidaaaa..kk!! Sekarang bibirnya benar-benar menyentuh bibirku...!! Aku tidak percaya ini!! Apa selama ini aku sedang bermimpi?? Semoga saja bukan...

“Ne...Neji?” Akhirnya dia melepaskan bibirnya. Sayang sekali...(Tenten ngarep)

“Akh..., ma... maaf...”

“Eh... tidak apa-apa...” Tidak ada apa-apa apanya...!?

“Ngg..., soal buku yang kemarin... Sebenarnya aku membacanya, jadi, maafkan aku. Lalu, apa kau... benar benar menyukaiku...?”

Baiklah Tenten... Apa boleh buat, ini saatnya... Tarik nafas...

“... Neji!! Aishiteru!! Sebenarnya ini sudah lama sekali... Tapi tak berani kukatakan!!”

“Akh... Jadi kau..., benar... Kalau begitu aku juga..., aishiteru..., Tenten...”

“Eh...Neji...? A..., aku...”

“Ngg..., sepertinya, hari minggu nanti kita tidak perlu berlatih...”

“Eh? Neji? Apa maksudmu??”

“ Kau harus makan malam di rumahku...”

Himura Kyou FIc ( piggyback )

PIGGYBACK

Siang ini terasa sangat panjang. Langit terlihat sangat bersih, benar-benar bersih, tidak ada gumpalan kapas satu pun. Hanya satu bulatan emas menyilaukan menggantung di langit, membakar tiap butir pasir yang ada di gurun itu. Rasanya alas kaki yang dikenakan seperti akan segera meleleh saking panasnya setiap kali melangkah. Keringat pun telah menguap sebelum sempat menetes membasahi badan. Pasir yang berhamburan ditiup angin membuat mata perih dan mengganggu pernafasan.

Bagi shinobi, keadaan alam yang ganas seperti itu tidak akan menghentikan kegiatan mereka. Tujuh shinobi Konohagakure sedang dalam perjalan pulang menuju desa asalnya. Mereka telah sukses menyelesaikan misi penyelamatan seorang Kazekage dari tangan Akatsuki. Tidak terlalu sukses sebenarnya, karena satu shinobi Suna gugur dalam misi tersebut. Hal yang membuat Sakura masih murung selama perjalan ini.

Kemurungannya melambatkan kakinya untuk melangkah, membiarkan dirinya tertinggal di belakang rombongan. Namun ternyata, bukan dirinyalah yang paling lambat dalam rombongan tersebut. Jauh jauh di belakangnya, terdapat satu jounin berbaju hijau yang sedang kepayahan memapah satu jounin bermasker yang memang sedang tidak fit. Dengan tergopoh-gopoh keduanya berusaha berjalan secepatnya menyusul murid-muridnya.

“Sensei-tachi, kalian lambat sekali!!” Naruto sampai harus berteriak untuk memanggil kedua jounin yang terlihat seperti dua titik di garis horizon.

“Maaf Guy-kun, karena menggunakan sharingan, bahkan untuk berjalan pun aku…” sang jounin bermasker merasa tidak enak telah menghambat perjalanan mereka.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, yang penting kau tidak terluka parah” Sang jounin berbaju hijau bernama Guy itu tidak mengeluh dan tetap memapah rekannya dengan tenaga penuh.

“Tapi Guy-kun, kita semakin jauh dari rombongan…” Kakashi memandang jauh ke depan, sosok murid-murid mereka tampak semakin mengecil.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, yang penting mereka tidak meninggalkan kita” Guy tetap bersabar.

”Tapi Guy-kun, aku ingin menghibur Sakura yang masih sedih…” Kakashi tampak mengkhawatirkan muridnya.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, dia pasti sedang dihibur oleh yang lainnya di sana” Guy memicingkan matanya untuk melihat keadaan jauh di depan.

“Tapi Guy-kun, aku juga ingin membaca Icha Icha yang terbawa di dalam ransel Naruto..” Kakashi sudah tidak tahan ingin membaca ulang buku itu untuk yang kesepuluh kalinya.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, kau bisa membacanya saat kita menemukan oase untuk berteduh dan bermalam” Guy berusaha tetap sabar.

“Tapi Guy-kun, kalau malam kan sudah terlalu gelap untuk membaca” Kakashi terus merengek pada rekan yang sedang memapahnya.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, kau bisa pakai perapian sebagai penerangan” Guy berusaha menguatkan iman untuk menghadapi orang yang sedang dipapahnya.

“Tapi Guy-kun, aku—“ ucapan Kakashi terpotong oleh Guy yang matanya telah berkilat-kilat. Api semangat membara di sekujur tubuhnya, mengalahkan api matahari yang menyengat gurun itu. Kakashi menyesal telah merengek pada rekannya yang antik itu.

“OKEE!! AKU AKAN MEMBAWAMU LEBIH CEPAT!!” teriak Guy tanpa ada nada marah yang terselip di dalamnya. Ia menggeser ranselnya ke bagian depan dan segera mengayunkan badan Kakashi yang sedang tidak berdaya itu ke punggungnya. Kakashi tidak punya kekuatan untuk melawan perbuatan Guy tersebut. …memangnya perlu dilawan kah?

Dengan begitu Guy dapat berlari lebih cepat. Dalam sekejap kedua jounin itu melewati Sakura yang tadi berjalan di urutan kedua dari belakang. Sambil membenahi rambutnya yang berantakan karena tertiup oleh angin hasil lari kencang gurunya, Sakura hanya memandang mereka dengan tatapan kosong, ‘dua laki-laki dewasa gendong-gendongan…’ satu sweatdrop muncul di dahinya.

Guy terus berlari hingga dapat menyusul murid-muridnya yang lain. Keempat shinobi muda itu terkejut melihat dua sosok jounin yang mendekati mereka dengan kecepatan cahaya.

“Ahaha!!! Bahkan dalam keadaanku yang seperti ini kalian tidak akan bisa mengalahkan aku!!” Guy tertawa dengan memperlihatkan gigi-giginya yang putih berkilau, satu mata berkedip dan satu jempol teracung khas nice guy pose. Kakashi yang ada di punggungnya sudah hampir pingsan terpontang-panting. Dalam hitungan detik Guy telah jauh di depan mereka. Murid-muridnya terdiam seribu bahasa terhadap pemandangan kilat yang melewati mereka dalam sekejap barusan.

“Ooh!! Ini pasti termasuk bagian dari latihan!!” seorang Guy versi mini berteriak penuh semangat setelah melihat gurunya berlari menggendong Kakashi. Ia pun menggeser ranselnya ke depan dan membungkuk, memberikan punggungnya kepada rekannya yang bermata putih dari klan Hyuuga.

“Lee-kun, kau mau ku juuken?” pemuda itu marah sambil tetap berusaha menunjukkan sikap yang se-cool mungkin.

“Ooh!! Kalau kamu ga mau,” Lee tidak patah semangat dan menoleh kanan kirinya, “hei hei Naruto-kun!” ia kembali membungkuk, membelakangi Naruto. Naruto tidak sempat menjawab permintaan Lee. Tahu tahu dia sudah berada di punggung Lee yang sedang memasang kuda-kuda untuk berlari.

“Yosh! Semangat masa muda!! DASH!!!” badai pasir dadakan tercipta, membentuk jejak yang dibuat oleh kaki Lee, meninggalkan teman-temannya yang masih terpaku melihat déjà vu seorang berbaju hijau menggendong laki-laki.

“Whew, ga heran kalau Lee-kun jadi ikut-ikutan” terdengar suara Sakura tak jauh dari mereka yang ditinggal oleh manusia-manusia penuh energi itu. Akhirnya ia berhasil menyusul rombongan, yang ternyata telah tertinggal juga. Sakura berharap agar ia bisa tahan menghadapi keadaan ini.

“Maaf Neji-kun, Tenten-chan, aku harus menyusul mereka. Kakashi-sensei sedang terluka dan mereka yang sedang berlari bisa kelelahan sewaktu-waktu. Aku harus mendampingi mereka sebagai ninja medis” kesedihan sudah sedikit menghilang dari raut wajah Sakura. Tampaknya semangat para manusia berbaju hijau itu untuk cukup mampu mengembalikan semangatnya lagi. Ia pun berlari menuju dua badai pasir dadakan, meninggalkan dua shinobi itu di tengah gurun.

Keduanya melanjutkan perjalanan mereka tanpa terburu-buru. Berjalan dengan kecepatan yang sama, menyusuri pasir-pasir yang membakar kaki mereka. Tak ada keluhan, tak ada gurauan, tak ada obrolan. Mereka berjalan dalam diam. Cukup lama mereka berjalan tanpa suara.

Tenten merasa hal ini tidak bisa didiamkan terus. Ia mulai membuka pembicaraan, “Eh Neji-kun…” ada jeda dalam ucapannya, berusaha mencari-cari topik yang bisa mencairkan suasana dingin di tempat yang panas itu.

“Ng… hari ini cuaca cerah ya?” si gadis bercepol dua itu berucap sekenanya apa yang terlintas di dalam otaknya.

“Hari ini panas” jawab Neji pendek dengan pandangan lurus ke depan, tanpa memandang lawan bicaranya.

“Ahaha iya ya…” Tenten hanya tertawa, menertawai kebodohannya dalam mengambil bahan pembicaraan yang bodoh. Suasana menjadi hening kembali. Ia pun membuka pembicaraan lagi, “Eh Neji-kun…” matanya berputar-putar mencari topik baru.

“Ng… kira-kira kapan kita sampai Konoha ya?” tentu saja Tenten sudah tahu jawaban dari pertanyaan ini, tapi hanya ini yang baru saja terlintas di otaknya.

“Tiga hari” lagi-lagi Neji hanya menjawab dengan singkat tanpa ada pemanis di kata-katanya.

“Benar juga ya, ahaha…” Tenten kembali tertawa, ia sudah menduga bakal jadi seperti ini. Keningnya berkerut. Matanya terpejam kuat. Berusaha menggali otaknya lebih dalam. Tenten tidak menyukai keheningan ini, ia berpikir keras mencari bahan obrolan. Tapi bagi Neji, ini bukanlah hal yang perlu dipikirkan karena memang dia adalah orang yang tidak banyak bicara alias bicara seperlunya.

“Eh Neji-kun…” Tenten tidak tahu apa yang mau dibicarakan lagi, otaknya terlalu panas tersengat matahari. Satu kalimat meluncur tanpa ia pikir dulu, “ng… siapa cewek yang lagi kamu taksir?”

“Te—“ tiba-tiba Neji menghentikan ucapannya. Kakinya pun tiba-tiba berhenti melangkah. Angin gurun juga tiba-tiba berhenti berhembus. Akhirnya ia menoleh, memandang Tenten dengan mata putih yang terbelalak, dengan penuh tanda tanya di kepalanya.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” satu kalimat yang cukup panjang yang diucapkan oleh Neji hari ini. Tenten hanya bisa tersenyum. Ia benar-benar sudah tidak bisa berpikir lagi. Keringat mengucur di sela-sela wajahnya.

“Ah, gapapa kok. Cuma mau tanya aja. Te tadi itu…” Tenten tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Matanya agak berkunang-kunang. Sambil memijit dahi di antara alisnya, Tenten berusaha melanjutkan kalimatnya dengan senyuman, “jangan-jangan Temari-san ya? Ahaha…”

Neji terdiam melihat rekannya yang tampak sedikit aneh. Napas Tenten agak tidak teratur. Keringat yang mengucur semakin deras membasahi badan Tenten.

“Tenten-san, kamu gapapa?” Neji berjalan mendekat. Satu telapak tangan terangkat, tepat di depan wajah Neji. Tenten memberi isyarat melalui tangannya bahwa ia baik-baik saja. Ia kembali tersenyum, berusaha dibuat seceria mungkin.

“Aku gapapa kok. Ayo kita harus menyusul mereka!” Tenten kembali berjalan, mengikuti jejak-jejak kaki yang dibuat oleh rekan-rekannya yang sudah jauh di depan. Neji pun segera mengikutinya dan menyamakan kecepatannya. Kini mereka kembali berjalan berdampingan dalam diam lagi.

‘Tampaknya berjalan dalam diam memang lebih baik karena kami menjadi berjalan lebih cepat’ Tenten menghela nafas panjang, ‘tapi perjalanan ini jadi terasa sangat lama dan jauh…’ ia mengayunkan kakinya, melangkah setapak demi setapak. Bukan mengayunkan sebenarnya, ia sedikit menyeret kakinya untuk melangkah.

Neji, yang akhirnya sedikit memperhatikan rekan yang ada di sampingnya, sesekali melihat keadaan Tenten dalam diam. Dilihatnya bibir Tenten yang agak mengering. Jalan nafasnya telah berganti melalui mulut alias terengah-engah. Kakinya yang diseret itu.

“Tenten-san, kamu beneran gapapa?” sekali lagi Neji berusaha meyakinkan apa yang telah dilihatnya. Ia mendapatkan sebuah senyuman yang tercipta dari bibir Tenten yang memucat, Neji sama sekali tidak menyukai jawaban itu.

Tenten terus berjalan, ‘Kenapa sekarang Neji-kun malah ngomong terus yah?’ ia sudah tidak peduli, atau lebih tepatnya, ia sudah tidak mampu memikirkannya. Kepalanya benar-benar berat.

Tenten terus berjalan tanpa mata yang terfokus. Ia hanya mengandalkan pandangan yang sudah kabur untuk mengikuti jejak yang tercetak di padang gurun itu. Tiba-tiba ia menyandung sesuatu yang cukup besar di depannya. Seonggok manusia sedang berlutut membelakanginya. Menawarkan punggungnya yang bidang untuk dinaiki oleh Tenten. Manusia itu adalah Neji.

Otak Tenten sudah terlalu kepanasan sehingga tidak bisa memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan. Otak Neji belum terbiasa mengahadapi situasi seperti ini sehingga tidak bisa memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan.

…10 menit kemudian.

Mereka berdua masih terpaku kaku dalam posisi masing-masing. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya desiran angin membawa pasir yang terdengar oleh telinga. Karena Neji mulai pegal untuk terus berlutut, ia mencoba untuk menghilangkan keheningan yang terjadi.

“Tenten-san, ga usah kamu sembunyiin lagi” Neji berkata dengan tetap berlutut membelakangi sang kunoichi, “sebenarnya kakimu sedang terluka kan?”

Tenten tersentak kaget. Apa yang ia terus sembunyikan sejak itu akhirnya ketahuan. Wajahnya memerah, “da-dari mana kamu tahu Neji-kun?” Tenten berusaha untuk tidak mempercayai jawaban yang akan diucapkan oleh Neji.

“…tadi aku melihat dengan byakugan, apa itu luka yang kamu dapat sewaktu kita melawan Akatsuki berwajah hiu itu?” …Neji mengakui perbuatannya. Wajahnya juga memerah, apakah hanya sekedar kaki yang ia lihat dengan byakugan? –digorok- XD

Tenten tertunduk dan tersipu. Walau Neji membelakanginya, ia tahu apa yang terjadi karena byakugan masih aktif. Neji melambaikan tangannya ke belakang, menyuruh Tenten untuk segera menaiki punggungnya.

Dengan agak malu-malu Tenten merangkulkan kedua tangannya pada leher Neji. Ia siap untuk mencekik shinobi itu –saia yang dicekek-

Akhirnya Neji mulai berjalan dengan Tenten di punggungnya. Keduanya, masih saja, tetap saja, selalu saja, hanya diam selama perjalanan. Dalam kepala masing-masing sudah terbendung beribu hal yang ingin dibicarakan, namun tak ada satu pun yang mampu mengeluarkannnya.

Nafas yang agak terengah-engah masih terdengar dari mulut Tenten. Terdengar jelas di telinga Neji, karena kepala sang gadis terkulai di salah satu pundaknya. Neji bisa merasakan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Mereka langsung saling berpaling dengan muka merah ketika menyadari bahwa sesekali pipi mereka bersentuhan.

“Eh Neji-kun, maaf, aku berat ya?” Tenten mengungkapkan hal yang terus ia pikirkan selama digendong oleh Neji.

“Nggak kok” seperti biasa, Neji hanya menjawab sekedarnya. Tenten memang sudah tidak berharap banyak mereka bisa mengobrol dengan lancar.

“Di rumah Hyuuga, aku sudah terbiasa mengangkut karung beras setiap hari” tidak seperti biasa, Neji tidak pernah melanjutkan kalimatnya yang selalu minimalis.

“Nggak cuma itu, tiap hari aku juga mengurus kebun Hyuuga yang sangat luas. Badanku cukup kuat kalau hanya untuk menggendongmu” ternyata Neji mampu mengembangkan sebuah kalimat menjadi cukup panjang.

Tenten sedikit kagum melihat Neji yang hari in berbicara, yang menurutnya, itu cukup banyak. Tanpa sadar ia tertawa geli. Neji yang mendengarkan tawa itu menjadi kikuk dan tidak melanjutkan omongannya.

Neji yang dulu, adalah Neji yang dingin dan tidak banyak bicara. Ia selalu berpikiran bahwa semuanya sudah ditakdirkan. Ia tidak pernah mempedulikan orang lain, hanya memandang orang yang dianggapnya kuat, Sasuke misalnya. Ia bahkan pernah berniat membunuh sepupu yang seharusnya ia lindungi. Ini semua karena nasibnya yang terlahir dalam keluarga cabang klan Hyuuga.

Neji yang sekarang telah menghangat. Ia mulai memperhatikan sekitarnya. Bicaranya sudah tidak seketus dulu, walau bicaranya hanya yang seperlunya saja. Tenten cukup bahagia dengan perubahan yang terjadi dalam diri Neji. Neji yang dulu selalu menegur dan memarahinya yang sering kalah dalam berlatih maupun bertanding. Bila Neji belum berubah, tentu sekarang Tenten sudah ia marahi agar lebih berhati-hati dan lebih banyak berlatih.

Tenten mensyukuri perubahan ini. Ia menikmati tumpangan yang diberikan oleh Neji. Kini ia tidak ragu untuk menyandarkan seluruh badannya ke punggung yang bidang itu. Pipinya menempel pada sebelah pundak Neji. Angin yang menerpa membuatnya mulai mengantuk. Seiring Neji yang terus berjalan, Tenten sudah tertidur pulas dalam gendongannya. Sebuah senyuman kecil terpasang di wajah Neji saat ia melihat wajah tidur Tenten yang sangat nyenyak di pundaknya.

-Namun sampai sekarang Tenten lupa berterima kasih pada Naruto yang telah mengubah Neji-

Langit yang biru telah berganti menjadi oranye kemerahan. Udara yang panas telah berubah mendingin. Kedua shinobi itu masih belum berhasil menyusul rekan-rekannya.

‘Sudah sore, sebaiknya aku mencepatkan jalanku’ Neji pun berlari melintasi padang gurun itu. Ia berusaha untuk berlari tanpa membangunkan Tenten. Jujur saja, sebenarnya tangannya sudah kram menahan berat tubuh Tenten. Punggungnya sudah pegal dan kakinya sudah lelah. Namun ia tidak mau melepaskan gelar cowok keren begitu saja. Ia pun terus berlari hingga bintang-bintang mulai bermunculan di langit yang hitam.

Neji terus berlari, berlari, dan berlari mengikuti jejak kaki yang tertinggal. Kelima shinobi yang mendahuluinya belum juga terlihat. ‘apa aku tadi terlalu lambat karena mengurus cewek jaim ini ya?’ Neji menengok untuk memeriksa keadaan Tenten. Wajah tidurnya benar-benar damai.

‘Oi, Neji, kenapa kamu malah menyalahkan Tenten. Ini bukan karena Tenten. Ini karena kamu memang lambat. Kamu harus lebih kuat lagi, Neji!’ Neji berbicara kepada dirinya sendiri. Ia berjanji dalam hatinya, setelah sampai di Konoha ia akan memperbanyak porsi latihan dan porsi pekerjaan rumah tangganya. Kalau perlu, semua pelayan di rumah Hyuuga ia yang gantikan.

Neji terus berlari. Semakin lama ia merasakan beban di punggungnya bertambah berat. Kaki lelah yang terus berlari tentu lama kelamaan kekuataannya untuk menyangga akan berkurang. Bagaimanapun juga, ini terlalu berat untuk seorang Tenten. Neji tidak ingin membayangkan yang tidak-tidak, ia juga tidak berharap apa yang ia pikirkan itu benar adanya. Namun ini benar-benar berat!

Rasanya seperti sedang menggendong kulkas dua pintu.

Bukan itu saja, rasanya seperti ada sepuluh ekor gajah afrika yang dijejalkan secara paksa ke dalam kulkas tersebut. Apakah Tenten memang seberat ini saat tidur? Neji tidak berani memikirkannya. Ia tetap berlari dengan sekuat tenaga. Ia tidak ingin dirinya dan Tenten tidak bisa bermalam bersama yang lain, atau tepatnya, ia tidak ingin terlihat lemah oleh yang lainnya.

Setelah berjam-jam berlari, jejak kaki rekan-rekannya belum juga menunjukkan sosok mereka. Ia menemukan bongkahan bebatuan karang yang cukup besar. Neji sudah kelelahan. Sangat kelelahan. Akhirnya ia menghentikan perjalanannya dan berhenti di batu karang tersebut.

“Maaf Tenten-san, mungkin sebaiknya kita bermalam di sini” Neji benar-benar sudah tidak kuat menggendong Tenten yang tiba-tiba menjadi sangat berat itu. Ia pun berlutut lagi untuk menurunkan sang kunoichi tersebut.

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan.

“Tenten-san?” Neji mulai khawatir. Sejak berlari tadi ia belum menengok Tenten karena tidak ingin wajah lelahnya dilihat oleh Tenten. Ia juga tidak menggunakan byakugan karena tenaga habis terkuras untuk berlari.

“Tenten-san??” Neji sudah khawatir. Ia segera mengelap wajahnya yang penuh keringat dengan lotion pembersih dan tissue basah. Setelah wajah tampannya sudah kembali cerah berkilau, ia memberanikan dirinya untuk menengok keadaan Tenten yang tampaknya masih tertidur di pundaknya.

Sepasang mata putih milik Neji hampir terlepas keluar dari tempatnya.

Giant Panda, nama latinnya adalah Ailuropoda melanoleuca yang memiliki arti kaki-kucing hitam-putih. Habitatnya di daerah barat dan barat daya China. Walaupun termasuk hewan karnivora, makanan utamanya adalah bambu. Panda dapat mencapai panjang sampai 1.5 meter dengan tinggi 75 centimeter dihitung dari pundaknya. Berat panda jantan berkisar 153 kg, sedangkan panda betina sekitar 100 kg. Panda memiliki gigi geraham yang besar dan rahang yang kuat untuk mengunyah bambu. Info selengkapnya dapat dilihat di .org/wiki/giant_panda

Tidak hanya itu, panda yang sedang digendong Neji ini membawa satu big ninja scroll yang biasa dipakai Tenten untuk menyummon senjata-senjatanya.

Neji hanya tertegun. Terpaku. Terdiam. Apakah, apakah, apakah panda ini Tenten? Setelah Neji membenarkan posisi matanya yang hampir copot, setelah ia menggosok-gosok matanya sampai merah, setelah ia menyemprot matanya dengan sebotol penuh obat tetes mata, panda itu tidak menghilang dari pandangan Neji.

Ini bukan ilusi? Neji tak sanggup berkata-kata. Panda itu telah turun dari punggung Neji. Kini Neji merasa lebih ringan. Ternyata beban berat yang selama ini ia rasakan memang berasal dari panda itu.

Neji hanya memandangi panda itu dengan tatapan putus asa. Di mana Tenten? Dari mana panda ini? Walaupun cepol Tenten mirip telinga panda, tapi masa sih dia berubah wujud jadi panda? Oh, jangan-jangan, karena ini malam bulan purnama, saatnya Tenten berubah jadi panda? Jadi sebenarnya Tenten adalah manusia panda? Pikiran Neji sudah teraduk-aduk.

Panda itu berjalan ke sana ke mari di sekitar Neji..Lamunan Neji terpecah saat panda itu mengendus-endus tas yang dibawa olehnya.

Awalnya Neji bingung apa maunya panda itu. Lalu ia membuka tas dan mengeluarkan salah satu isinya. Sebungkus lunpia, jajanan khas kota Semarang yang berisi rebung. Dari mana ia mendapatkannya, jangan tanyakan…

Tanpa basa-basi panda itu langsung menyambar lunpia yang sedang dipegang oleh Neji. Hampir saja tangan Neji ikut terkunyah. Panda itu memakan lumpia dengan sangat lahap.

‘Kalau ga salah, Tenten juga suka lumpia’ satu hal yang membuat Neji kembali memikirkan yang tidak-tidak.

“Tenten-san?” Neji mencoba memanggil panda itu. Tak disangka, ternyata si panda berhenti mengunyah untuk sesaat. Hancur sudah harapan Neji. Panda itu memang Tenten. Setelah menyatukan hatinya yang sudah pecah berserakan, Neji mulai berbicara lagi.

“Sebenarnya…” Neji bingung untuk memulai dari mana. Jantungnya berdetak kencang. ‘Hei, masa sih aku mau membuat pengakuan ke seekor panda??’ hatinya protes, ‘tapi mumpung Tenten dalam wujud panda, dia tidak akan mengerti maksudku, semoga saja’

Neji memasang wajahnya yang paling tampan, dengan sikap yang gentle dia melanjutkan kalimatnya, “Tenten-san, sebenarnya tadi sewaktu kamu menanyakan siapa cewek yang sedang kutaksir… Te itu adalah…”

“GYAAAAA!!!”

Panda itu menerkam Neji seketika. …maksudnya sih memeluk Neji.

Neji bagaikan guling mini di dalam dekapan panda itu. Mereka berdua berguling-guling di padang gurun. Maksudnya si panda sih, ngajak main Neji.

“Gyaaa!!! Tenten-saaaan!!!” Neji tidak berdaya.

--

Sementara itu…

“Oi, Sakura-chan, gapapa nih? Hampir tiga jam dia kayak gini” nada Naruto terdengar cemas melihat salah satu rekannya yang sedang berguling-guling sendiran di hadapannya. Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil mengobati kaki seorang kunoichi bercepol dua.

“Sakura, kenapa kau beri genjutsu pada pemuda itu?” Kakashi yang sedang tiduran di tenda sambil membaca Icha Icha untuk yang kesebelas kalinya tampak tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi.

“Betul Sakura-san! Neji-kun sudah kelelahan menggendong Tenten-san, kenapa malah digenjutsu seperti itu??” Guy dan Lee bertanya bersamaan dengan penuh semangat.

Sakura baru saja selesai membalutkan perban pada kaki Tenten yang mulutnya masih menganga melihat Neji berguling-guling memanggil namanya seperti orang kesurupan. Sang ninja medis pun mulai angkat bicara.

“Kalian lihat sendiri kan bagaimana Neji-kun begitu bersemangat menggendong Tenten-chan?” senyum nakal Sakura berikan pada Tenten yang terduduk di bibir tenda dengan muka semerah saos sambal, “bahkan dia tidak sadar sudah berlari mendahului kita, seperti memakai kacamata kuda bwakakak!!” Sakura tidak dapat menahan tawanya.

“Makanya waktu Naruto-kun dan Lee-kun berhasil menghentikan Neji-kun yang sudah setengah pingsan berlari seperti itu, aku genjutsu aja! Tuh dia tampak senang sekali sampai guling-gulingan gitu!” Sakura tertawa bahagia, tanpa mengetahui apakah Neji juga bahagia atau tidak berada di dalam pelukan seekor panda khayalan yang sedang berguling-guling.

END

Ruuta FIC ( the scratch )

Dia memandang cermin di depannya. Cermin yang memantulkan bayangan dirinya yang sekarang nampak sangat kelelahan karena dia baru saja pulang dari sebuah misi.

Lamat-lamat, tangan kirinya meraih head-protector Konoha di dahinya. Dengan satu gerakan cepat, head-protector itu telah lepas dari tempatnya. Sekarang, terpampang jelas di cermin. Sebuah segel kutukan yang disematkan oleh Hiashi-sama saat dia masih kecil.

Pandangannya sekarang tertuju pada pelipis kirinya. Samar-samar, ada sebuah garis tipis yang tergores di sana. Yang membuat Hiashi-sama uring-uringan karena mengira beliau tidak bisa membuat segel yang simetris di dahinya.

“NEEEEJIII-KUUUUNNN!!!!” teriak seorang gadis dari arah luar.

Neji memakai kembali head-protectornya dengan tergesa-gesa. Kemudian melangkah menuju jendela. Dia melongok ke luar. ‘Dia…’ gumamnya sambil tersenyum kecil.

“Kau tak lupa pada janjimu, kan Neji-kun?!” katanya ceria.

“Tentu. Tunggu aku 5 menit lagi,” jawab Neji. ‘Dasar Tenten. Dia memang tak pernah kelihatan sedih ataupun letih,’ batinnya.

Neji segera keluar dari kamarnya.

(o.O)

“Tenten-san… Sedang… menunggu… Neji-niisan, ya?” Tanya Hinata.

“Iya. Kami ada kencan!” jawab Tenten sambil tersenyum.

“Ken… can??” Hinata terbelalak.

“Kencan latihan, he.. he.. he… Tidak semua kencan berarti berduaan, kan?” sahut Tenten.

“Ta..pi… bukanya… kalian… baru saja… pulang dari… misi?”

“Dia sendiri yang berjanji padaku akan mengajakku latihan seusai misi,”

“Ehem!” terdengar suara Neji.

“Neji… niisan..,”

“Sekarang?” Tanya Neji.

“Baiklah,” jawab Tenten.

“Hati-hati… Semoga… latihan kalian… sukses,” kata Hinata.

Neji dan Tenten langsung melompat pergi.

(o.O)

Training Field Konoha…

Banyak berserakan kunai dan shuriken dimana-mana. Tanah juga menjadi agak bergelombang. Dan ada dua manusia yang masing-masing berdiri di pohon yang telah tumbang.

“Masih mau lanjut?” Tanya Neji saat melihat Tenten sepertinya kehabisan nafas.

“Hmp… hmp… Tentu saja! Sampai salah satu dari kita terjatuh ke tanah!” tandas Tenten tegas.

Neji tersenyum tipis, “Bagus.”

TAANNGG!! SRAKK!! Terdengar suara kunai yang bersentuhan.

Hingga akhirnya…

SREETTT!!! Sebuah kunai berhasil melukai lengan kanan Tenten.

“AAHHH!!!” Tubuh Tenten terbanting ke bawah.

“Tenten!!” teriak Neji kemudian mendekati Tenten.

“Aku kalah… lagi,” desis Tenten sambil memegangi lengan kanannya yang mengucurkan darah.

“Kau tak apa-apa? Biar aku obati,” kata Neji panik.

“Sudah. Aku bisa sendiri,” kata Tenten sambil menepis tangan Neji.

Tenten berjalan ke bawah pohon tempatnya menyimpan tas. Neji mengikutinya.

“Kau kesal?” Tanya Neji.

“Mungkin. Karena aku kalah… lagi,” jawab Tenten sambil mengaduk-aduk isi tasnya dengan tangan kirinya. Kemudian mengeluarkan plester dan antiseptic.

Dengan susah payah Tenten membuka tutup antiseptic dan plester. Neji menghela nafas.

“Jangan menolak lagi. Aku tak suka melihatmu mengacuhkanku,” kata Neji sambil meraih lengan kanan Tenten. Tenten diam.

Neji dengan telaten merawat luka Tenten. Kepala Tenten agak tertunduk sambil mencuri pandang ke arah Neji.

“Selesai,” kata Neji sambil memasukkan botol antisepic ke dalam tas Tenten.

“Terima kasih, Neji-kun,” kata Tenten sambil memegangi lengan kanannya.

“Bukan hal yang sulit. Oh, dan satu lagi. Aku ingin kau berjanji sesuatu padaku,” kata Neji.

“Um? Apa?” Tanya Tenten.

“Kau harus berjanji tidak akan pernah lagi bersikap gengsi padaku,” kata Neji sambil menyandarkan kepalanya di pundak Tenten.

“Menang… kenapa?”

“Kau bukan seperti Tenten yang aku kenal. Aku tidak suka itu,” jawab Neji.

“Aku hanya malu kelihatan jelek di depanmu,” sanggah Tenten.

“Malu? Bagiku, apapun kondisimu, kau tetap kelihatan baik,” jawab Neji.

“Baiklah, aku janji,” kata Tenten. Kemudian menyandarkan kepalanya di atas kepala Neji.

Angin semilir menerpa wajah mereka berdua…

“Um… Neji-kun… Wangi rambutmu… Mengingatkanku…”

“Pada anak kecil yang dulu terkena kunai pertamaku,” kata Neji dan Tenten bersamaan.

“Eh?!” Tenten duduk tegap, begitu juga Neji.

“Kau sudah mengatakannya ribuan kali. Sampai aku hafal,” ujar Neji.

“Sebanyak itukah?” Tenten agak sungkan.

“Tenten, aku ingin bertanya padamu. Dan aku harap kau jujur,” raut Neji menjadi serius.

“Aku akan berusaha,” kata Tenten.

“Apakah kau masih mengharapkannya? Maksudku, anak laki-laki yang kau ceritakan padaku,’ kata Neji.

“Um… Bagaimana, ya?”

“Tenten?”

“Um… Mung… kin? Tapi kau jangan marah!” jawab Tenten ragu.

“Aku tidak marah. Lalu, kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa kau masih mengharapkannya?”

“Entahlah,”

“Lalu, apa.. kau… mencintaiku?” Neji makin serius.

“Neji-kun, kau ini tanya apa, sih?” Tenten agak risih.

“Jawab, Tenten!” Neji agak tak sabar.

“Neji-kun! Kenapa kau membentakku?” tandas Tenten.

“Maafkan aku. Sekarang, kalau tiba-tiba anak itu muncul, akankah kau memilih aku? Atau anak itu?”

“Neji-kun, pertanyaanmu konyol!” suara Tenten agak bergetar.

“Kenapa? Kenapa kau tak menjawabku? Apa karena kau masih mencintainya?” suara Neji meninggi.

“Iya!! Aku memang masih mencintainya! Dan aku akan lebih memilihnya! Karena dia tak pernah membentakku seperti kau!” Tenten balas berteriak.

“Sudah aku duga. Kau belum bisa melupakannya! Padahal kau sudah berjanji akan memulainya dari awal denganku! Tapi kau masih mengharapkannya! Aku berani bertaruh bahwa kau sekarang tak tahu dimana keberadaan bocah tolol itu! Kau ini seperti mengharapkan hujan di musim panas! KONYOL!” emosi Neji meledak-ledak.

“Ne… Neji-kun…,” airmata Tenten mulai berjatuhan.

“Kenapa kau masih mau bersamaku sedangkan hatimu tidak untukku? Kenapa kau mempermainkanku?” suara Neji melemah.

“Hiks… Aku pikir aku sudah bisa mulai mencintaimu… Hiks… Aku pikir… Hiks… Aku sudah bisa menemukan hatimu yang hangat… Tapi… Hiks… Aku salah… Hiks… Kau masih Neji yang dulu… Hiks… Yang tak bisa mencintai siapapun… Hiks… Aku salah…,” Tenten berlari meninggalkan Neji sambil terus menangis.

Neji memandang kepergian Tenten dengan hati galau.

“Bodoh!” umpat Neji pada dirinya sendiri.

(o.O)

Paginya…

“Tenten, kenapa matamu sembab? Apa kau menangis?” Tanya Rock Lee saat mereka bertemu di lapangan tempat mereka biasa berlatih bersama.

“Tidak. Aku hanya… kurang tidur,” jawab Tenten lesu.

“Tenten, kau harus bersemangat. Jangan kau menampakkan wajah suram di pagi yang bergelora ini!” nasehat Gai-sensei.

“Pagi, semuanya,” sapa Neji yang baru datang.

“Pagi, Neji!” jawab Gai-sensei dan Rock Lee bersamaan lengkap dengan pose Nice Guy mereka.

Tenten memalingkan wajah, “Pagi.”

“Baiklah. Anggota kita sudah lengkap. Sekarang, kita mulai pemanasan!” ujar Gai-sensei.

“Um, Gai-sensei? Boleh aku absen latihan kali ini?” pinta Tenten.

“Kenapa, Tenten?”

“Sepertinya, badanku sedang tidak sehat. Semalam aku tidak bisa tidur,” kata Tenten.

“Oh… Baiklah. Semoga lekas sehat. Langsung pulang, ya?”

“Terima kasih, Sensei,” kata Tenten sambil melangkah pergi.

“Tenten…,” desis Neji lirih.

PONG!!! Seorang ninja bertopeng hewan muncul.

“Tim Gai segera menghadap Godaime. Ada misi untuk kalian,” katanya.

Kantor Hokage…

“Kalian akan ku kirim misi A-Rank ke Amegakure. Ada segerombolan ninja buronan yang menyandera penduduk,” kata Tsunade-sama.

“Baik!” jawab mereka bertiga.

“Kenapa kalian cuma bertiga? Mana Tenten?” Tanya Tsunade-sama yang sadar akan absen-nya Tenten.

“Dia… ada di rumah. Lagipula badannya kurang sehat,” kata Gai-sensei.

“Tapi mereka berjumlah lebih dari satu lusin. Dan mereka buronan kelas A!”

“Kami bertiga sudah cukup. Tenten tak perlu ikut,” kata Neji mantap, “Lagipula ada dua jonin di tim ini.”

“Huuh!! Baiklah. Dan segera kirim kabar jika kalian sudah selesai atau butuh bantuan,” kata Tsunade-sama.

“Baik! Kami permisi!” pamit mereka bertiga.

(o.O)

Esoknya…

Tenten berjalan menuju mansion Hyuuga. Dia berniat meminta maaf pada Neji tentang kejadian tempo hari.

“Tenten, kau bisa. Kemarin adalah kesalahanmu. Kau yang bodoh,” kata Tenten di depan gerbang mansion Hyuuga kemudian menghela nafas.

BRAAKKK!!! Seseorang menubruk tubuh Tenten.

“Ahh!! Tenten-san!! Gomen… aku…,” kata Hinata sambil membantu Tenten berdiri.

“Hinata, kenapa kau terburu-buru sekali?” Tanya Tenten sambil mengusap-usap pantatnya yang nyeri.

“Tim Kurenai menjadi back-up Tim Gai… Eh, kenapa Tenten-san sudah ada di sini?? Kalian sudah selamat?” Tanya Hinata bingung.

“Selamat? Dari apa?”

“Bukannya kemarin Tim Gai mendapat misi ke Amegakure, kemudian tadi pagi sekali kalian meminta bantuan karena seluruh anggota tim tertawan?” Hinata menjelaskan.

“Aku tidak… Apa?! Semua anggota tertawan?!”

“Iya. Maka dari itu Tim Kurenai dan Tim Kakashi ditugaskan untuk menjadi back-up mereka,” kata Hinata,” Aku permisi, Tenten-san.”

“Aku ikut,” kata Tenten sambil memegang lengan Hinata.

Hinata tersenyum,” Mari.”

(o.O)

Gerbang Konoha…

“Kenapa Tenten ada di sini?’ Tanya Sakura.

“Kemarin aku tertinggal,” kata Tenten.

“Kita berangkat sekarang,” instruksi Kakashi-sensei.

Delapan ninja itu segera melompat pergi.

(o.O)

Lima puluh meter di depan sebuah bangunan tua di Amegakure…

“Mereka berjumlah sekitar 14 orang. Tim Gai masing-masing ditahan di ruang terpisah dan dijaga 2 orang,” kata Hinata.

“Ooohhh, Hinata-chan memang keren,” puji Naruto.

“Na.. Naruto-kun bisa saja,” Hinata blushing.

“Simpen aja kata-kata gombal elo!” omel Kiba tersaingi.

“Guk!” Akamaru menimpali.

“Brisik!!” Sakura komentar.

“Tenang semuanya,” kata Kurenai-sensei.

“Kalian ini berisik,” Shino ngikut.

Tenten diam saja. Di kepalanya hanya ada Neji.

“Begini rencananya. Shino, Kiba, Sakura, dan Kurenai urus 8 ninja di depan. Naruto selamatkan Rock Lee, aku sendiri selamatkan Gai. Hinata dan Tenten pergi selamatkan Neji,” kata Kakashi-sensei.

“Baik,” kata mereka bersamaan. Kemudian pergi ke posisi masing-masing.

(o.O)

Lorong bawah tanah…

“Neji-niisan ada di dalam. Tenten-san pergi jemput Neji-niisan. Aku akan urus 2 penjaganya,” kata Hinata.

“Tapi Hinata, mereka itu buronan kelas A!” Tenten mengingatkan.

“Tapi Neji-niisan lebih membutuhkan Tenten-san daripada aku,” sergah Hinata.

Tenten terdiam.

“Bahkan Neji-niisan mengupayakan segala cara agar tanda itu tak hilang. Jadi, kenapa harus ragu?” kata Hinata sambil mengedipkan mata.

Mata Tenten berbinar walau dia tak mengerti apa yang Hinata maksud tentang ‘tanda itu’, “Kau benar, Hinata.”

Kedua gadis itu maju. Hinata dengan sigap langsung memukul seorang ninja dengan Jyuuken. Seorang lainnya muncul, Tenten melempar kunai dan mengenai pundaknya.

“Brengsek, kau!!’ teriak ninja itu.

“Tenten-san! Aku akan urus ini! Segera selamatkan Neji-niisan,” instruksi Hinata. Tenten mengangguk.

(o.O)

Ruang tahanan Neji…

Tenten masuk. Langkahnya terasa berat. Di sudut ruangan itu, tampak bayangan seseorang yang terduduk. Tenten menghampirinya.

Tenten terkejut. Orang yang terduduk di sudut ruangan itu dalam keadaan terikat dengan mata ditutupi kain. Pakaiannya sobek-sobek dan banyak bekas darah di mana-mana. Dan orang itu adalah Neji. Airmata Tenten mengalir.

“Ne… Neji… Neji-kun,”

“Tenten?” Tanya Neji.

Tenten mendekat. Dibukanya ikatan Neji kemudian kain yang menutupi mata Neji.

CRANG…

Head-protector Neji ikut terlepas. Tenten membeku. Pandangannya tertuju pada pelipis kiri Neji. Tangannya pelan-pelan menyingkap rambut Neji dan menyentuh goresan tipis di pelipis kiri Neji.

Otaknya dipaksa untuk memutar kembali memori saat dia pertama kali membuat goresan itu…

Flash back…

“Tenten, jangan main jauh-jauh, ya?” kata seorang wanita pada Tenten kecil.

Tenten mengangguk riang, “Boleh aku menggunakan ini?” tanyanya sambil memperlihatkan sebuah kunai.

“Hanya di tempat yang lapang,” kata wanita itu.

“Baik,”

(o.O)

Konoha Hot Spring…

Tangan Tenten terasa gatal ingin melempar kunai itu sekaliii saja. Dia melihat sekeliling, memang tempat itu tak lapang, tapi setidaknya tak ada orang yang bisa dia lukai.

“Baiklah. Sekali saja,” kata Tenten bersungguh-sungguh.

SRATT!!! Tenten melemparkan kunai ke arah pohon.

GRUSAKK!! Tiba-tiba seorang anak terjatuh dari pohon dengan pelipis kiri mengucurkan darah.

“Ah?! Aku melukai seseorang!” teriak Tenten pada dirinya sendiri.

“Aduuuh,” rintih anak itu. Tenten menghampirinya.

“Ma… maafkan aku,”

“Kau ini bodoh atau apa sih? Melempar kunai di tempat seperti ini,” omel anak itu. Darah di pelipisnya menetes ke tanah.

“Maaf.. A… Aku akan mengobatimu,” kata Tenten gugup sambil mengaduk-aduk tak pinggangnya.

“Huh!” gerutu anak itu.

Tenten mengeluarkan plester dan sebotol antiseptic. Diusapnya luka itu dengan kapas yang sudah ditetesi antiseptic, anak itu merintih.

“Aooh!! Pelan-pelan!” dumal anak itu.

“Maaf,” kata Tenten.

Kemudian Tenten membuka plester dan menempelkannya di atas luka tadi.

“Selesai. Semoga lekas sembuh,” kata Tenten sambil mengecup pelipis anak itu.

“Kau ini apa-apaan, sih?” anak itu bersungut. Namun wajahnya merona.

Tenten tersenyum. Namun anak itu tetap cemberut. Kemudian anak itu pergi.

“Eh?? Padahal aku baru saja ingin menanyakan namanya,” gumam Tenten.

End of Flash back…

“Jadi… kau… adalah anak itu?” Tanya Tenten susah payah karena menahan tangis.

Neji memandanganya tak berdaya. Matanya seakan memberikan jawaban ‘ya’ atas pertanyaan Tenten barusan.

“Kenapa?? Kenapa kau tak pernah bilang padaku?! Kenapa kau menutupi semua ini dariku?!“ tangis Tenten pecah. Dia menangis di atas dada Neji.

Neji merengkuh kepala Tenten ke pelukannya, kemudian menghela nafas.

“Aku hanya ingin mengeluarkanmu dari bayang masa lalu. Aku ingin kau mencintai aku, sebagai aku yang sekarang. Bukan sebagai aku yang dulu, anak yang kau lukai,” kta Neji susah payah.

Tenten bangkit. Dia memandang Neji dengan mata sembab, “Bodoh. Walaupun aku tahu kau adalah anak itu, aku tetap mencintaimu sebagai Neji yang sekarang.”

Di sisi lain…

“Neji-niisan akhirnya jujur,” kata Hinata.

“Mereka romantik sekali… Andai Sasuke dan aku seperti itu,” Sakura ngelantur.

“Hinata-chan, maukah kau mempraktekkan adegan Neji denganku?’ tawar Kiba.

“Praktekkin aja sana ama Akamaru!” Naruto ngejitak Kiba.

“Aku jadi teringat Asuma,” desis Kurenai.

“Seperti salah satu chapter di Icha Icha Tactics,” kata Kakashi.

“Lee, itu adalah contoh cinta masa muda yang bersemangat,” kata Gai.

“Gai-sensei memang hebat (?)” Lee memuji salah sasaran.

“Mereka ini kenapa?” gumam Shino.

Sementara itu…

Tenten tersenyum, kemudian memeluk Neji. Neji balas memeluk.

“Tenten, mau memulai lagi denganku? Tanpa memandangku sebagai masa lalumu?” Tanya Neji.

“Kenapa tidak?“ jawab Tenten.

Wajah mereka berdua mendekat…

Makin dekat… Gerombolan orang kurang kasih sayang langsung salting.

Beberapa senti lagi… Naruto berniat melakukan hal yang sama pada Hinata.

Sedikiiit lagi…

BRAK!!! GEDEBUG!!! Naruto jatuh tersungkur di depan Tenten dan Neji.

“DASAR MESUM!!! NGAPAIN LO NYOBA-NYOBA MAU NYIUM KURENAI-SENSEI?!” omel Shino –yeah! Shino ngomel!-. Ternyata Naruto salah sasaran.

“Ehem!” dehem Tenten dan Neji.

“Eh… Itu… Kami… Tadi… Numpang Lewat…,” mereka mencoba menemukan alasan yang tepat.

“Neji-kun kuat lari?!” Tanya Tenten.

“Bisa,” jawab Neji.

“Siap-siap,” kata Tenten.

BLAMM!!! Sebuah bom asap dilempar oleh Tenten.

Gerombolan kurang kasih sayang itu batuk-batuk, sedangkan Neji dan Tenten pergi secepat mungkin dari tempat itu dengan muka yang merona.

(o.O)

tensaibaka FIC ( the day of 14 years )

This One Day Of Fourteen Years

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

By : TensaisBaka

NARUTO © Masashi Kishimoto




Tenten’s POV

Akhirnya datang juga…

Hari yang paling kubenci…

9 Maret, hari ulang tahunku yang ke 14…

-

-

Di hari ulang tahun, dimana biasanya semua orang menanti-nanti hari ini. Tapi tidak untukku. Hari seperti ini sama saja seperti hari-hari lainnya bagiku. Berangkat pagi-pagi dari rumah seperti biasa, menyiksa telinga dengan ocehan-ocehan ‘semangat masa muda’ dari Gai-sensei seperti biasa, latihan seperti biasa, dan tetap memendam perasaanku kepada ‘THE majesty Hyuuga Neji’. Terserah apa komentarmu, bagaimanapun itu semua sudah menjadi aktifitas rutin bagiku.

Ketika yang lainnya merayakan hari kelahirannya dengan pesta yang meriah dengan kue ulangtahun, membuka kado yang bertumpuk, dan menjawab setiap ucapan selamat dengan senyuman manis, aku hanya bisa meratapi nasib karena bahkan tidak ada seorang pun yang memberiku ucapan selamat. Tentunya itu bukan salah mereka yang tidak tau hari ulangtahunku. Itu semua karena memang aku bukalah seorang kunoichi yang cantik, eksis, kuat, atau apapun itu lah. Keseharianku hanya di habiskan dengan latihan bersama Gai-sensei, Lee, dan Neji. Itu juga belum bisa menjamin apakah mereka akan mengingat hari ulangtahunku. Setidaknya, aku ingin satu orang terakhir yang kusebutkan tadi memberiku ucapan selamat, walaupun hal itu memang sangat tidak mungkin, mengingat bahwa dia adalah seoran Hyuuga yang dingin. Menyedihkan.

Yah, semua itu sudah menjelaskan kenapa tidak ada yang tau kapan ulang tahunku. Terlalu banyak latihan membuatku jarang bersosialisasi dan mengenal orang sekitar. Bagiku itu bukan apa-apa, toh, tidak berpengaruh apapun untuk hidupku. Selama aku masih bisa mengelap dan mengasah senjata-senjataku, tergabung dalam tim Gai, dan bisa terus berlatih dengan Neji, aku tidak apa-apa. Sungguh, tidak apa-apa.

Tidak apa-apa…

Aku megalihkan perhatianku pada jam meja di sebelah tempat tidurku, aku tidak sadar bahwa sedari tadi aku terus tenggelam dalam lamunan yang rutin terjadi setiap pagi setelah bangun tidur.

Yak, bagus sekali. Aku mengumpat di dalam hati seraya memelototi jam hitam metalik yang terpajang manis di atas meja kayu di samping tempat tidurku. Sepertinya sesi lamunan pagi hari ini memakan waktu lebih dari biasanya. Padahal tadi aku bangun pukul 4 tepat, tau-tau sekarang jam sialan itu sudah menunjukan waktu 04.30. Sepertinya waktu pun sudah tidak sabar melihatku tersiksa hari ini.

Aku memaksa tubuhku yang masih terasa berat untuk bangkit dari tempat tidur, dan melempar selimut putih yang terus menemaniku semalaman. Dengan malas aku menyeret kakiku ke arah kamar mandi yang ada samping dapur dan juga di samping ruang tamu. Hei, ini hanya apartemen murah! Jadi jangan harap bisa melihat pemandangan ruang yang luas dengan perabot yang mewah. Kau tau? Hidup sendirian itu berat.


Aku melangkah keluar dari ruangan apartemen bernomor 1010. Aku menyimpan sebagian sejata yang kumiliki di dalam gulungan, sisanya ku tinggal di rumah. Lagipula aku malas membawa gulungan banyak-banyak. Haah.., aku ingin segera membeli senjata baru. Aku menghela nafas panjang ketika melewati sebuah toko senjata yang cukup besar.

Di bagian depan etalase utama toko tersebut terpajang sebuah katana panjang dengan ukiran-ukiran halus pada pegangannya. Bagian pisaunya pun terlihat sangat ramping dan mengkilap, pasti di asah dan di bersihkan setiap hari. Benar-benar menggiurkan…

Akhir-akhir ini, jika melewati toko itu, yang pertama kali akan kulihat pastilah katana indah itu. Aku tidak pernh menanyakan harganya, karna tanpa bertanya pun aku sudah tau betapa mahalnya barang itu. Tapi tetap saja aku tidak bisa memendam ketertarikanku pada benda itu, karena itu aku bertekad mengumpulkan uang untuk membelinya dan ketika aku sudah berhasil memilikinya aku berjanji akan berlatih lebih giat lagi. Tapi walaupun begitu tetap saja rasanya lama sekali mengumpulkan uang itu. Sudah ku katakan, kan? Hidup sendirian itu berat.

Aku pun melangkah pergi dari depan toko itu dengan pasrah, merelakan pandangan mataku beralih dari benda indah itu. Aku sudah setelat ini.., Neji pasti marah dan berceramah soal takdir. Lalu Gai-sensei ribut soal semangat muda. Dan Lee akan menangis berderai-derai sembari berpelukan dengan Gai-sensei. Ugh. Menjijikan. Menyebalkan, mereka ribut sekali sih soal waktu.


Normal POV

Di antara pepohonan tempat Tim Gai biasa berlatih, telah standby tiga orang anggotanya, seorang lelaki berambut coklat coffee panjang, seorang berambut hitam legam berpotongan rata dengan spandex hijau, dan yang seorang lagi tak beda jauh dari orang yang kedua tadi.

“Neji-kun, apa kau tau kemana perginya ‘youthful flower’ kita?” Instruktor kesayangan kita bertanya kepada sang Hyuuga yang sedang serius bermeditasi. Otomatis hal itu membuatnya agak sedikit kesal karena sudah merusak ketenangan yang susah payah di dapatkannya di tempat yang bising oleh suara hitungan yang di lakukan Lee yang sedang push up saat itu.

“Entahlah. Jangan ganggu aku sekarang.” Sudah lama Neji kesal pada kelakuan gurunya yang hobi mengganggu konsentrasi dan menentukan nick name orang seenaknya. Tapi apa daya, ia tidak bisa menentangnya, bisa-bisa akan ada ‘banjir bandang air mata by Gai & Lee’ di Konoha nantinya. Mengerikan.

“Gai-sensei!! Maaf aku terlambat!” Akhirnya orang yang di tunggu-tunggu pun datang. Nafasnya terngah-engah, rambut bercepolnya agak berantakan, baju chinese pink muda-nya pun acak-acakan. Oh. Rupanya ia terus berlari sepanjang jalan menuju kesini. Tapi tetap saja ia terlambat. Mending tidak usah lari, deh. *??*

Youthful Flower!! Akhirnya kau datang juga!!”

“Tenten-chan!! Kami mengkhawatirkanmu!!” Lee dan Gai langsung berhambur ke arah Tenten dengan pose kedua tangan terbuka lebar layaknya kupu-kupu membuka sayapnya. Bedanya, dua makhluk ini tidak terlihat indah, malah terlihat menyeramkan dengan air mata yang deras dan ‘cairan hidung’ yang meler-meler tidak keruan. Reflek, Tenten langsung menghindar dengan menggunakan jurus subtitusi. Untunglah waktunya tepat, jika tidak, ia tidak akan tau bagaimana nasibnya di dalam pelukan dua makhluk buas itu.

Dari bawah pohon yang paling rindang, Neji mengamati kelakuan aneh rekan-rekan satu tim-nya dengan wajah datar, yang sebenarnya pun ia sedang menahan tawa. Tenten yang menyadari keberadaannya mencoba menyapa. “Ah, hai Neji! Maaf ya aku terlambat.”

“Hn.”

“…” Yah, Tenten sudah biasa dengan jawaban singkat Neji tadi. Satu tahun sudah cukup baginya untuk mempelajari sifat dan habitat ke-tiga rekannya. Memang biasanya pun akan terus berlanjut dengan keheningan, jadi ia pasrah memulai pembicaraan.

“Umm.., mau mulai latihan sekarang saja?” Ia bertanya dengan sangat hati-hati.

“Hn.” Neji bangkit dari posisinya semula dan mulai berjalan meninggalkan lokasi bising-penuh-suara-tangisan itu ke tempat lainnya dimana ia dan Tenten biasa berlatih berdua saja. Berdua saja. Berdua saja. Berdua saja… Entah kenapa pikiran itu selalu terngiang-ngiang di kepala Tenten, membuatnya terlihat bahagia tanpa alasan yang jelas.

“…” Bersamaan dengan itu pun, sebagai anggota perempuan satu-satunya di Tim Gai, ia harus selalu bersabar dalam menghadapi rekan-rekannya itu. Apalagi ketika tadi ia tersadar bahwa Neji bicara tanpa menatap matanya langsung, rasanya seperti dianggap tidak ada. Ingin sekali dia mencolok kedua mata lavender muda yang angkuh itu.

Sparring pun di mulai tanpa terdengar sepatah kata pun dari dua orang petarung-nya. Membuat sparring ini berlangsung dengan keheningan…


Dentingan suara senjata sudah tidak terdengar lagi, menandakan latihan Neji dan Tenten sudah selesai. Dan lagi-lagi Neji keluar sebagai pemenang. Bagaimana tidak? Seorang Hyuuga jenius di adu dengan ahli senjata kacangan sudah bisa di tebak pemenangnya, bukan? Setidaknya itulah yang ada di pikiran Tenten. Yang terdengar sekarang ialah suara deruan nafas berat mereka berdua. Keduanya terduduk di bawah dua pohon besar yang bersebelahan. Berbagai macam senjata milik Tenten masih berserakan dimana-mana, mewajibkan pemiliknya untuk membereskannya satu-persatu.

“Latihan hari ini cukup sampai di sini saja.” Neji yang sudah bisa mengatur nafasnya menginformasikan Tenten.

“Eh?! Kenapa?”

“Hn.”

“Hei, Neji! Ini kan masih sore!! Biasanya kita latihan bisa sampai larut malam!!” Tentu saja itu membuat Tenten bingung setengah mati, biasanya bahkan Neji sering melarangnya makan atau beristirahat. Katanya untuk melatih stamina. Cih! Apanya yang melatih stamina?

“Tidak apa-apa. Lagipula kau senang, kan? Kau bisa beristirahat sekarang.” Tidak. Tidak sama sekali. Ia tidak mau pulang sekarang. Ia tidak mau sendirian di rumah saat ini. Tidak sekarang. Tubuhnya masih belum lelah, ia tidak akan langsung tertidur begitu sampai di rumah untuk menghindari suasana sepi kalau seperti ini.

“Ya.., baiklah.” Ia pun pasrah, percuma juga percuma saja melawan kehendak seorang Hyuuga Neji. Tenten membungkuk memungut mengambil gulungannya dan tangannya bergerak kilat membentuk kunci-kunci guna mengembalikan seluruh senjatanya pada tempat semula. Sedangkan Neji sudah berjalan beberapa meter jauh dari Tenten.

Tiba-tiba Neji menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Tenten. “Lagipula, ini hari ulangtahunmu”. Katanya pelan, masih tanpa menoleh ataupun menatap mata coklat Tenten.

“Eh?!” Walaupun pelan, Tenten bisa mendengarnya, tapi ketika ia menoleh ke tempat suara itu berasal, sosok lelaki itu sudah menghilang tanpa tersisa jejak sedikit pun. Ia pun hanya bisa mengumpat sambil kembali membereskan perlengkapannya. Apakah pendengarannya yang salah? Atau memang benar tadi Neji mengatakan sesuatu tentang ulang tahunnya? Baginya, itu seperti ucapan selamat tidak langsung. Tenten tersenyum kecil.

Sebagai Weapon Mistress yang teliti, iakembali memeriksa persenjataanya dan melihat sekitarnya, kalau-kalau ada yang tertinggal. Lalu matanya terhenti pada sebuah batang pohon besar yang rubuh, di atasnya terdapat benda panjang yang berkilau karena pantulan cahaya matahari senja. Tenten pun bangkit dan berinisiatif melihat benda apa itu.

Dan disana, tergeletak dengan anggun, katana yang amat di puja-puja oleh Tenten. Matanya terlekat pada benda indah di depannya. Tangannya bergerak perlahan meraih katana tersebut. Ia mengangkat benda mahal itu dengan hati-hati, mengamati setiap ukirannya, sudah lama ia ingin memegang katana itu dan mengamatinya. Ternyata memang lebih indah jika di lihat dari dekat. Namun tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di benaknya. Milik siapa katana ini? Yah, walaupun begitu, Tenten tidak bisa memendam ketertarikannya meneliti benda itu, sampai akhirnya ia menemukan perbedaan katana itu dengan katana yang di pajang di depan etalase toko senjata. Pada pisaunya, terukir nama; Tenten—dalam huruf katakana. Mata sang pemilik nama pun terbelalak kaget.

“Ba-bagaimana namaku bisa ada di sini?” Tenten berbisik pada dirinya sendiri. Ya, dalam satu hari ini, sudah dua kali ia hampir terkena serangan jantung. Pertama, karena entah bagaimana Neji bisa mengetahui hari ulang tahunnya. Lalu kedua, karena katana ini. Benar-benar aneh.

Sedangkan matahari semakin tenggelam, bulan pun mulai muncul di iringi oleh kemunculan para bintang-bintang juga. Langit sudah gelap, udara dingin semakin terasa menusuk. Tenten yang masih kebingungan, akhirnya memutuskan untuk membawa pulang katana itu. Lagipula, sayang ‘kan benda sebagus ini di biarkan tergeletak di tengah hutan?

Tanpa basa-basi, Tenten pun meletakan gulungannya di kantong pahanya dan melesat ke arah apartemennya.


Tenten’s POV

Aku menghentikan langkahku tepat di depan sebuah ruangan apartemen bernomor 1010. Haha, lucu. 1010 itu jika di eja dengan bahasa inggris bisa menjadi one thousand and ten atau ten ten. Jadinya ruangan ini seperti sudah di pesan khusus untukku. Aku tersenyum kecil sambil menatap papan nomor pada pintu apartemenku atas hal tidak penting dan tidak jelas tadi.

Perlahan, aku merogoh tas pinggangku mencari-cari kunci dengan ukiran angka 1010. Setelah menemukannya, aku langsung memasukannya kedalam lubang kunci dan memutarnya sehingga terdengar sebuah bunyi ‘cklek’ kecil.

Dan ketika aku membuka pintu itu…

“TANJOUBI OMEDETO OUR YOUTHFUL FLOWER, TENTEN-CHAN!!!” Jelas sudah bisa di tebak dari mana asal dua suara yang membuat telinga penging itu.

Sesaat, aku pikir jantungnyku akan menyembur keluar lewat mulut saat itu juga. Namun rasa kaget yang berlebihan itu langsung tertutupi begitu aku melihat ruang tamu apartemen kecilku yang di hias sedemikian rupa. Sebuah benda di atas coffee table yang terletak tepat di tengah ruang tamuku menarik perhatian mataku yang sedang meneliti setiap centimeter ruangan itu. Sebuah kue ulangtahun. Memang bukan kue yang besar ataupun mewah. Hanya kue sederhana. Di sebelahnya tertata empat buah piring kecil dengan masing-masing satu buah sendok. Tak ketinggalan sesosok indah terduduk di atas sebuah single sofa satu-satunya di ruangan itu. Tangannya menyilang di dapan dada, dan kedua mata indahnya tertutup, terkesan acuh terhadap aksi dua makhluk ber-spandex hijau itu. Entahlah, tapi rasanya wajahku jadi panas melihat lelaki itu duduk di atas sofa favoritku.

“Ka..kalian.., apa yang kalian lakukan disini?” Aku bertanya sekenanya berhubung otakku masih terlalu kacau untuk mengetahui apa yang telah terjadi.

“Hem? Tentu saja merayakan ulang tahunmu, manis!” Gai-sensei memamerkan cengiran khasnya di sertai bunyi ‘kling’ dengan efek sinar pada gigi putih kesayangannya. Sedangkan Lee hanya mengangguk-angguk penuh semangat sampai-sampai lehernya terlihat seperti akan putus.

Entah karena alasan apa, neji membuka matanya, memperlihatkan warna lavender lembut yang menunjukan bahwa ia adalah seorang Hyuuga sejati. Perhatianku pun terebut oleh sepasang mata itu. Lalu coklat dan lavender pun beradu, entah apa yang membuatku terus memandang sepasang mata indah itu. Seketika, wajahku pun kembali terasa panas. Dengan cepat, aku mengembalikan perhatianku pada Gai dan Lee.

“…” Rasanya aku kehabisan kata-kata. Tidak ada apapun yang keluar dari bibirku. Justru matakulah yang sepertinya akan mengeluarkan air saat itu juga. Terus terang, selama ini aku tidak pernah merayakan ulang tahunku. Sudah kukatakan, ‘kan? Aku hanya menghabiskan hari yang di anggap spesial oleh orang-orang ini seperti hari-hari biasa lainnya. Mendapat ucapan selamat saja tidak pernah, apalagi membuat pesta? Sekarang aku malah di kejutkan oleh ketiga rekan tim-ku. Tidak ada kata-kata lain yang bisa mendeskripsikan hal ini kecuali ‘terharu’. Ya, aku terharu. Silahkan kalau kalian ingin tertawa. Ha. Seorang weapon mistress terharu. Tapi memang itulah kenyataannya. Tenggorokanku tercekat. Rasanya jika sekarang aku berbicara, seluruh air mata yang kutahan sejak tadi akan tumpah seluruhnya. Aku akan terlihat lemah di depan Neji.

“Uugh….”

Sudah terlambat. Tetes pertama cairan asin itu sudah meluncur dengan indahnya dari balik pelupuk mataku. Membuatku menyembunyikannya dengan cara menunduk dan menekan suara isak tangisku sebisanya. Pandangan matku memburam. Tapi aku bisa melihat dengan jelas raut wajah Lee dan Gai-sensei yang kebingungan. Dan samar-samar, kulihat Neji bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku. Habis sudah. Dia pasti akan menganggapku lemah dan menceramahiku macam-macam tentang takdir. Bahkan mungkin ia akan tertawa di belakangku. Oke, semua itu hanya KEMUNGKINAN. Karena aku tau Neji tidak sekejam itu.

Tapi sepertinya kemungkinan-kemungkinan yang ku sebutkan tadi salah semuanya. Karena begitu ia sampai tepat di depanku, yang kurasakan malah kebalikan dari yang kuperkirakan tadi; sepasang lengan kekar melingkari tubuhku. Aku merasa begitu kecil di dalam pelukan lengan itu. Yah, tentu saja itu lengan Neji. Aku bisa mengenali dia bahkan dari baunya saja. Berlebihan? Ya, memang. Sekarang aku malah terlihat seperti salah seorang fangirl-nya.

Walaupun begitu, aku sangat manikmati saat-saat berada di dalam pelukannya. Sekujur badanku jadi terasa hangat. Mungkin karena suhu tubuh kami yang saling beradu. Aku mencoba mengangkat kepalaku demi melihat bagaimana ekspresinya saat ini. Apakah tanpa ekspresi seperti biasa, atau kali ini ia menunjukan ekspresinya? Oh! Dan aku juga ingin melihat seperti apa wajah Lee dan Gai-sensei saat itu. Tapi percuma, kepalaku tertahan oleh dagunya. Ya, sepertinya ia menopang dagunya tepat di atas kepalaku. Bisa bayangkan seperti apa warna wajahku saat itu?

“Tenten, …tanjōbi omedetō.” Neji berbisik kecil. Walaupun kecil, bisikannya tadi sedikit mengagetkanku yang sedang tenggelam dalam keheningan. Saat mengatakannya, ia sedikit menggeser wajahnya ke dekat telingaku dan sepertinya bibir dinginnya sedikit menyentuh telingaku dan membuat bulu kudukku berdiri. Aku bisa dengan jelas merasakan nafas hangatnya.

Saat tersadar, Neji melepaskan pelukannya dariku sambil sedikit menggesekkan pundaknya ke kedua mataku. Oh. Aku mengerti, ia memelukku untuk menutupi wajahku yang sedang menangis. Ia tidak menertawaiku yang menunjukan kelemahan ini. Malah seperti terlihat tidak ingin melihatku kelihatan lemah. Cuma perasaanku saja atau memang tatapan mata Neji tadi jadi sedikit lebih lembut?

“Hehe.., arigatou Neji!!” Aku tersenyum lebar ke arahnya, yang dibalas oleh sebuah senyum kecil, namun sangat berarti bagiku. Ah! Ya ampun. Aku sampai melupakan Gai-sensei dan Lee!! Dengan segera aku menoleh ke arah dua makhluk ber spandex itu dan berterima kasih. “Kalian juga, arigaou Gai-sensei! Lee!” Tidak lupa ku praktekan kembali senyum super lebar tadi agar mereka tidak merasa di bedakan dari Neji. Benar saja, ekspresi mereka benar-benar mengerikan. Mata terbelalak lebar, rahang bawah dan rahang atas sudah terpisah amat jauh. Dan beberapa detik kemudian mata lebar mereka mulai berubah menjadi sumber air terjun. Di pastikan ruangan apartemenku akan banjir dalam hitungan menit setelah ini. Dan saat itu juga mereka memelukku—atau lebih tepatnya meremukkan tulangku—sambil melontarkan kata-kata macam ‘youthful flower! Kau sudah dewasa!’ atau ‘cinta masa muda!!’ dan entahlah, aku juga malas mendengarkannya, jadi aku hanya menjawabnya dengan senyum penuh paksaan. Euh, semoga saja mereka tidak menyadarinya.

Dan tiba-tiba sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh pipi kananku bersamaan dengan saat Gai-sensei dan Lee melepaskan pelukannya. Perlahan aku menyentuh bagian yang tersentuh tadi, dan menyadari bahwa itu adalah…krim kue? Benar saja, begitu aku mengangkat kepalaku, kudapati si Hyuuga arogan itu tersenyum puas melihat wajahku. Reflek, aku ikut mencomot krim kue dan mengoleskannya pada wajah tampan Neji dengan insting kunoichi-ku yang tidak mau kalah. Sekarang giliranku untuk tersenyum puas.


Dan begitulah, kami menghabiskan waktu semalaman dengan saling mengoleskan krim, berkaraoke keras-keras layaknya orang tidak waras, rebutan kue, dan hal-hal aneh lainnya. Tapi semua itu sangat menyenangkan. Rasanya tidak tergantikan oleh hari manapun.

Kami semua pun berakhir dengan tertidur di ruang tamu. Sementara Gai-sensei dan Lee tergeletak tidak beraturan di lantai, aku dan Neji bisa tidur dengan tenang di atas sofa. Saat itu adalah tidurku yang paling nyenyak. Karena pada saat itu aku bisa merasakan betapa dekatnya Neji denganku sepanjang malam. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu!! Aku masih perawan kok*??*!! (tensai udah kabur pake odong-odong). Aku cuma tidur diatas paha Neji! Tidak lebih! (bilang aja mau lebih ;P)

Yah, dan begitulah. Baru kali ini aku merasa hari ulang tahunku begitu mengaggumkan. Ya, dalam empat belas tahun, baru dalam satu hari ini aku merasa benar-benar gembira. Walaupun hanya di rayakan berempat; aku sendiri, guruku yang aneh dengan spandex hijaunya, rekan satu timku yang tidak kalah aneh dengan gurunya, dan seoarng Hyuuga tampan yang arogan dan menyebalkan. Tapi itulah hari ulang tahun yang paling berkesan bagiku. Ternyata tergabung dalam Tim Gai tidak jelek juga…

~OWARI~