Kamis, 21 Mei 2009

Endles story 3 ( B3By FIC )

Shikari mengerjapkan matanya. Nggak seperti pagi hari yang biasa, matahari yang masuk dari jendela kamarnya lebih lembut. Angin pagi yang segar berhembus dari luar. “oh iya.. ini hari pertamaku di Konoha!”.

Dia melompat dari tempat tidurnya. Kemudian menatap adiknya yang masih terlelap. Shikari bergerak perlahan menuju pintu, nggak ingin membangunkan adiknya.

Itu mungkin baru sekitar jam setengah enam pagi. Matahari baru berupa semburat oranye di ufuk timur. Shikari berjalan di teras rumahnya, menatap pepohonan hijau yang tumbuh di halaman.

“Shikari-chan udah bangun?” ibunya melongok dari kamarnya.

Shikari mengangguk. “aku nggak sabar pengen kenalan sama anak-anak lain! Tou-san belom bangun?”

Temari menggeleng. “tou-san baru bangun nanti, kalo’ matahari udah tinggi. Tou-san mu kan shinobi paling males dari Konoha sampe Suna!”

Shikari tertawa. Ibunya emang sering banget ngata-ngatain ayahnya. Tapi mereka berdua saling sayang kok. Soalnya, kata Om Kankurou, kalo mereka nggak saling sayang, Shikari dan Rishiru nggak mungkin lahir. Shikari nggak begitu ngerti sih maksudnya. Gimana caranya rasa sayang berubah jadi dia dan Rishiru?

“hei! Aku denger itu!” kata Shikamaru dari dalam kamar. Tapi disusul dengkuran yang menandakan kembalinya Shikamaru ke alam mimpinya.

“tuh kan?” ibunya tersenyum. “karna Shikari udah bangun, gimana kalo’ temenin kaa-san belanja ke pasar? Kemaren kita Cuma makan ramen instant gara-gara belom sempet belanja!”

“horeee! Ayo, Kaa-san!”


pasar pagi Konoha penuh ibu-ibu yang belanja.(iyalah belanja! Kalo maling, ntar dikejar-kejar orang!). Shikari menggenggam tangan ibunya, sementara ibunya menatap daging-daging jualan dengan seksama.

“Temari!” panggil seorang ibu lain yang menggandeng anak laki-laki.

Shikari menatap anak itu. Rambutnya pendek lurus berwarna kuning gading, mirip dengan warna rambut ibunya. Anak itu memakai baju yang menutup sampai mulutnya dan juga sebuah kacamata hitam kecil bertengger di hidungnya.

“ah! Ino, apa kabar?” ibunya menyapa balik. Terus mereka cipika-cipiki sambil ngobrol-ngobrol.

“Hai, aku Shikari Nara. Namamu siapa?” sapa Shikari ke anak itu.

“Hai juga!” anak itu membalas dengan ceria. “aku Oshi Aburame, kamu bukan orang konoha, ya?” tanya anak itu yang ternyata namanya Oshi.

Shikari mengangguk. “aku dari Suna. Baru pindah kemarin. Kok tau sih?”

“aku nggak pernah ngeliat kamu atau ibumu.”

Oshi terliha berpikir sebentar. “hei! Shikari-chan! Kamu tau nggak? Disini kita punya perkumpulan kecil. Namanya Konoha’s shinobi junior. Kita kumpul di taman sana itu..” Oshi menunjuk sebuah taman di ujung jalan. “kamu mau dateng? Banyak anak lain juga!”

Shikari mengangguk bersemangat, “mau! Adik kembarku boleh dateng juga, kan?”

Oshi mengangguk, “boleh dong! Semua anak konoha boleh gabung sama kita!”

Temari dan Ino ngobrol sebentar. Well.. yang harus di underline, sebentar di sini adalah sebentar dalam standard ibu-ibu. Yang kalo’ standard anak kecil seumur dua bocah ini, udah bikin mereka bosen setengah mati.

“kaa-san! Ayo! Pulang dong..” Oshi menarik baju ibunya, nggak sabaran.

“iya, iya. Oshi-kun. Maaf, Kaa-san udah lama nggak ketemu tante Temari!” Ino mengusap-usap lembut rambut anaknya. “Temari, aku pulang dulu ya!”

“jaa-nee, Shikari-chan! Nanti kita kumpul jam sepuluh ya!”

“Ok, Oshi-kun!”

mereka saling melambaikan tangan. Temari menatap Shikari sambil tersenyum. “kayaknya Shikari-chan udah dapet temen, ya?”

Shikari menggangguk sambil tersenyum senang. “kaa-san! Aku dan Rishiru diundang masuk ke Konoha’s shinobi junior atau semacam itulah sama Oshi-kun, nanti kita mau kumpul jam sepuluh. Kita boleh pergi, kan?”

Temari balas tersenyum ke anaknya. Ternyata Shikamaru benar. Di Suna, anak semuran Shikari dan Rishiru cenderung sedikit. Bisa dibilang mereka nggak punya teman lain selain Sagura (baca chapter 1, ini anaknya Sakura Gaara) yang sering main ke rumah. Disini, anak-anaknya bisa belajar bersosialisasi dengan baik sama anak-anak seumuran mereka. Dan lagi, keadaan di Konoha lebih aman.

“boleh dong! Kalo’ gitu, ayo kita pulang dan bikin sarapan. Kaa-san berani taruhan, tou-san sama Rishiru-kun udah kelaperan nungguin kita!”


“Rishiru-kun!!” Shikari berlari dari ujung lorong rumahnya, langsung memeluk adik laki-lakinya itu.

“aduuuh.. nee-chan kenapa sih?! Bikin kaget aja!”

“aku tadi ke pasar sama kaa-san. Terus aku kenalan sama anak yang namanya Oshi-kun. Dia ngundang kita kumpul-kumpul sama anak lain di taman jam sepuluh!”

“aah.. ngerepotin aja sih, nee-chan! Aku mau tidur-tiduran hari ini.. capeek. Kemaren kan kita jalan seharian..” keluh Rishiru.

Shikari menggelengkan kepalanya. “nggak bisa! Kamu HARUS ikut. Kalo’ nggak, ntar kamu nggak dapet temen loh!”

“Haah.. Iyaa deh! Aku ikut!”

“ANAK-ANAK! SARAPAN!” panggil ibu mereka.

Wait a sec. Kaa-san!” jawab Rishiru.

on the way!” sahut Shikari.


Jam 10 pagi, konoha’s park..

“woy! Shikari! Disini!” panggil Oshi, sambil melambaikan tanganyake Shikari yang menggandeng Rishiru.

Shikari melambai ke arahnya, lalu, menarik Rishiru ke sana.

“semua! Ini Shikari-chan dan...” Oshi menatap Rishiru yang berekspresi malas.

“Rishiru..” jawab Rishiru.

“oke, semua! Ini Shikari-chan dan adik kembarnya, Rishiru-kun Nara, mereka anggota baru kelompok kita!”

Rishiru dan Shikari melambaikan tangan ke anak-anak disana.

“nah, kita perkenalan sekarang. Aku, Shikari-chan udah tau.. Oshi Aburame.”

“aku! Aku!” seorang anak cowok berambut pirang melambaikan tanganya, “ aku Nashi Uzumaki! Dan aku calon Hokage!”

“yeah, right! Dan aku bakal masukin tanganku ke mulut Akamaru!” kata seorang anak cowok yang pipinya bertato taring warna merah, “Aku Inuzuka Hige!”

“dan mahluk hijau indah dari Konoha, Ryou Lee!” seorang anak beralis tebal mengacungkan jempolnya, sambil tersenyum dengan kilauan gigi yang menyilaukan mata.

“aku.. nyam.. nyamm.. Akamichi Chourin.” Anak perempuan berpipi chubi yang membawa sekantong besar potato chip, mengulurkan kantong itu ke Shikari dan Rishiru, “aku bagian konsumsi disini. Jadi kalian boleh minta makanan punyaku. Tapi jangan banyak-banyak, ya?”

Shikari menggeleng, tapi Rishiru mengambil sedikit. “thank’s, kamu baik deh, Chourin-chan..”

“Semua! Maaf, aku telat!”

seorang anak cewek berambut panjang, hitam terurai, menghampiri mereka. “woah! Kita dapet anggota baru, ya?” tanyanya sambil menatap Shikari dan Rishiru.

“iya, Naiten-chan! Mereka baru pindah ke Konoha kemaren,” Oshi menjelaskan.

“oh.. aku denger dikit, sih dari kaa-san. Katanya, ada sepasang anak kembar dari klan Nara yang pindah ke Konoha. Tapi aku nggak tau kita seumuran. Aku Naiten Hyuuga. Salam kenal!”

okee.. jadi si pirang bertampang (sedikit) idiot, cowok berpipi merah, anak aneh beralis tebal, cewek chuby yang suka bagi-bagi makanan, dan cewek dengan bola mata putih.. pikir Shikari. Hey! Not bad, juga!

Cowok ngerepotin berambut pirang, cowok tukang ledek yang mukanya di tato, cowok berambut konyol yang aneh, cewek baik yang suka ngasih makanan, dan cewek berambut hitam.. pikir Rishiru. Dia menghela nafas panjang, ini bakal jadi hari yang merepotkan!

“jadi? Hari ini kita ngapain?” tanya Hige.

“aku! Aku punya ide!” Nashi meninjukan tanganya ke udara. “Gimana kalo’ kita umpanin Hige-chan ke anjing gila di pinggir desa?”

“maumu apa sih!” Hige melotot ke arah Nashi. (AN: Hige takut anjing. Kenapa bisa? Well.. tanyalah sama original authornya..)

“aku kesel tau! Ngapain Hige-chan menghina mimpiku jadi Hokage?!”

“kalo’ tou-san’mu Hokage, bukan berarti kamu juga bakal jadi Hokage!!”

“siapa bilang aku bakal jadi Hokage karna Tou-san?! Aku bakal jadi Hokage dan bikin semua desa sadar sama keberadaanku! Aku, sebagai Nashi Uzumaki! Bukan Nashi anaknya Naruto Uzumaki!”

“yeah.. yeah.. apa katamu lah!” jawab Hige sambil angkat bahu.

“sialan!!” Nashi melompat, tapi ditahan sama Naiten.

“emangnya kamu nggak suka jadi anak tou-san’mu?” tanya Shikari.

“eh.. bukan gitu sih...” Nashi memandang Shikari. “Cuma, orang-orang nggak pernah ngeliat aku sebagai ‘Nashi..’ mereka ngeliat aku sebagai anaknya ‘rokudaime’..”

“trus kenapa? Emangnya Nashi-kun nggak bangga ayahnya jadi Hokage?” Rishiru gantian nanya.

“bangga dong!” protes Nashi.

“kalo’ gitu, Nashi-kun harusnya bangga jadi anaknya rokudaime. Biarin aja orang-orang lain. Kata ayahku, mikirin kata orang lain itu merepotkan!” jawab Rishiru.

“okee.. kayaknya, Rishiru-kun bener..”

Nashi terlihat berpikir sebentar. Semua memandang kagum shikari dan Rishiru.

“wow! Aku suka cara ngomong kalian!” Oshi merangkul Rishiru dan Shikari. “tapi lain kali biarin aja. Seru loh ngeliat Nashi-kun sama Hige-kun berantem..” bisik Oshi pelan di telinga mereka.

“ah! Udah hampir jam makan siang!” kata siapa lagi kalau bukan Chourin.

“oh iya, udah hampir makan siang. Jadi? Nanti kita kumpul disini lagi?” tanya Hige.

“iya deh. Jam 3 aja, ya?” kata Naiten.

“Shikari! Rishiru!”

semua menengok, terlihat Shikamaru berlari ke arah mereka.

“Tou-san!”

“aahh.. kalian lagi ngumpul rupanya..” Shikamaru menatap anak-anak di depanya.

“iya, om Nara. Aku...” belum sempat Oshi menyebut namanya, Shikamaru menebak. “kamu.. anaknya Aburame Shino dan Ino, kan?”

Oshi mengangguk.

“kamuu.. pasti anaknya Rock Lee?”

Ryou Lee mengangguk.

“dan, anaknya Hinata dan Naruto!”

Nashi mengangguk heran.

“dan.. ah! Inuzuka! Anaknya Kiba, ya?”

Hige memiringkan kepalanya bingung.

“ya tuhan!” Shikamaru menghampiri Chourin. “Chourin? Kamu udah gede sekarang! Om liat kamu terakhir masih segede ini..” Shikamaru merentangkan jari-jarinya.

Chourin tersenyum, tapi nggak tau mesti ngomong apa.

“ini.. pasti! Pasti anaknya Tenten dan Neji Hyuuga!”

Naiten menatap curiga ke arah Shikamaru.

Nashi menarik tangan Shikari, “hey.. hey.. Shikari-chan! Jangan-jangan ayahmu punya jutsu buat tau nama orang tua, ya?”

Shikari menggeleng. “tou-san.. kok kenal orang tua mereka?”

“kenal dong. Mereka temen seangkatan tou-san di akademi. Oh ya, kalian nggak pulang buat makan siang?”

“Oh iya! Bisa-bisa diabisin tou-san!” Chourin menepuk dahinya. “aku pulang dulu ya!” dan berlari menuju rumahnya.

“Nashi-kun, pulang yuk?” ajak Naiten.

“loh? Nashi-kun dan Naiten-chan tinggal bareng?” tanya Shikari.

“kita kan sepupu..” Nashi menatap Shikari dengan bola mata putihnya. Lalu berjalan berdua dengan Naiten.

“aku juga pulang dulu, Om Nara. Shikari, Rishiru, Jaa-nee!”

Oshi berlari pulang. Meninggalkan tiga orang Nara di belakangnya.

well.. hari ini kita nggak makan di rumah..” Shikamaru menggandeng tangan kedua anaknya, “kita makan di kedai langganan tou-san!”


yakiniku Q..

“wahahahahaa! Akhirnya, loe balik juga!” tawa Chouji yang menggelegar rasanya nyaris meruntuhkan dinding-dinding kedai yakiniku itu.

“iyalah.. gue kan cinta Konoha!” kata Shikamaru sambil menuang sake ke gelasnya.

Rasanya baru sebentar mereka pisah. Tau-tau, Shikari dan Rishiru udah ketemu lagi sama Oshi.

“loh? Rishiru-kun? Shikari-chan?” sapa Oshi waktu kembali bertemu dua temen barunya itu.

“Temari! Ketemu lagi!” sapa Ino dan kembali bercipika-cipiki dengan Temari.

“dan ini..” Temari menatap seorang perempuan berambut coklat yang duduk di sebelah Chourin, “istrinya Chouji, ya?”

perempuan itu mengangguk sambil tersenyum, “Akamichi Kana,” Kana pun ikut bercipika-cipiki. Dan nggak lama kemudian, ibu-ibu ini udah asik bergosip.

“kaa-san! Kaa-san!” Oshi menarik baju ibunya, “katanya kita mau ketemu temen lama kaa-san?”

“itu.. Oshi-kun liat om yang di kuncir tinggi itu?” Ino menunjuk Shikamaru yang duduk di meja terpisah bareng Shino dan Chouji, “dia team mate Kaa-san waktu abis lulus akademi”

“0oo.. sama kayak om Chouji ya?”

Ino mengangguk.

“hei, Shino.. liat tuh anakmu..” gumam Shikamaru yang sedikit mabuk.

Shino menatap Shikamaru, menanyakan ‘kenapa’ Cuma dengan deheman singkat, “Hmm?”.

“ngeliat dia sekali, gue langsung tau dia anak loe.. tapi begitu dia ngomong, gue tau itu anaknya Ino!”

“haha.. iya bener..” Chouji mengangguk setuju, “kayak ngeliat Shino versi doyan ngomong!”

“rese’ loe berdua!” Shino menenggak minumanya.

“woah!”

semua menatap ke arah suara itu. Seorang laki-laki dengan pipi bergambar taring merah tersenyum ke arah mereka. Di tanganya, dia menggandeng seorang cewek berambut coklat hitam dengan poni dimiringkan. Headband kirigakure diikatkan ke lehernya(AN: aufa.. deskripsinya aku liat di fic-nya suigetsu. Ga apa2 kan?). Sementara dipipinya, terlihat tatoo yang sama dengan laki-laki yang menggandengnya.

“Oshi-kun! Shikari-chan! Rishiru-kun!” Hige berlari menghampiri teman-temanya. “kita ketemu lagi!” dia nyengir lebar.

“Shikamaru! Kapan balik loe?!” sapa Kiba sambil ikut-ikutan duduk bareng-bareng.

“baru kemaren. Ini istri loe?”

“yup, kenalin, Ini Ryoushin.” Kiba tersenyum ke istrinya.

“Ryoushin! Sini!” Ino memanggil.

“Kib, aku kesana dulu ya?” Ryoushin meminta izin ke suaminya.

Kiba mengangguk sambil menarik pelan tangan istrinya, membuat Ryoushin membungkuk sedikit dan mencium lembut pipinya, “oke.”

“gila.. gue kangeen banget sama loe semua..” pipi Shikamaru kini memerah karena pengaruh sake.

“gue juga. Nggak ada lagi temen yang ngajakin gue ngeliat awan sejak loe ke Suna” jawab Chouji.

"itu apaan sih? ribut banget di luar?" geram Kiba.

Shikamaru mengangkat bahunya. di luar emang sedikit ribut. penasaran, Shikamaru menengok keluar.

“pergi! Aku Cuma mau makan ramen sebentar! Kalian nggak perlu ikut-ikutan!”

“tapi Rokudaime-sama..”

“nggak ada tapi-tapian! Ayolah.. aku berhak dapet sedikit privasi, kan?”

“bukan begitu, Rokudaime-sama..”

“Hei Naruto, cut it off! Berisik tau nggak!” omel Shikamaru, menyembulkan kepalanya dari pintu Yakiniku-Q.

“wohoo! Shikamaru! Apa kabar, men!!” sapa Naruto.

“baek, dong. What’s up? Ribut banget!”

“ini, ANBU-ANBU rese’! masa mereka mau ngikutin gue makan Ramen segala. I need a little privacy, y’know!

“loh? Itu kan tugas mereka, ngelindungin loe. Gimana sih!”

“hiih! Pokoknya bubar! Dissmissed!”seru Naruto, mulai kesel.

“iya, Rokudaime-sama! Njeh! Njeh!” ANBU itu kayaknya mulai takut melihat mata Naruto yang mulai berubah merah. Dan buru-buru menghilang dalam kepulan asap.

finally..” Naruto menghela napas lega. “loe nyampe kemaren ya, Shikamaru?”

Shikamaru mengangguk sambil mencapit sepotong daging dengan sumpitnya.

“sorry ya.. kemaren gue rencana mau dateng ke rumah loe. Tapi sibuk banget!” Naruto meletakkan topi Hokagenya di meja. “so? How’s your new life?”

shikamaru tertawa kecil, “nothing special. Eh, tadi gue ketemu anak loe!”

“ooh.. si Nashi-kun. Ganteng kan? Mirip bapaknya!” naruto nyengir lebar sambil menenggak sake di gelasnya.

“mirip banget! Sampe gue kira loe minum pil dari organisasi berjubah hitam dan berubah jadi kecil lagi! Semua mirip Kecuali matanya, byakugan.”

yeah. Thank’s to her mother,” cowok pirang ini menyambar sepotong daging dengan sumpitnya. “kalian ngerasain nggak?”

“apa?” tanya Kiba sambil menuang sake ke gelasnya.

“rasanya baru kemaren kita masuk akademi. Dan nggak lama lagi, anak-anak kita masuk kesana! Rasanya.. aneh..”

Chouji menggangguk, setuju, “Ya, rasanya baru kemarin kita di hukum Iruka-sensei karena ketiduran di kelas..”

“atau bolos..” timpal Kiba.

“atau nggak ngerjain tugas..” tambah Shikamaru.

“kalo’ dipikir-pikir, kita anak nakal, ya?” Naruto tertawa.

“nggak usah pake dipikir, emang kita pada bengal-bengal!” Kiba ikut ketawa.

“sadar nggak? Ini kayak tekad api,” gumam Naruto, “setelah daun-daun berguguran, ada daun lain yang tumbuh,”.

“yeah.. generasi baru. Mungkin ini akhir dari kita.. udah saatnya generasi baru bersemi di konoha..” Kiba mengangguk kecil.

“tapi sampai mereka mampu menanggung beban Konoha.. masih tugas kita untuk melindunginya..” Chouji menambahkan.

“ya, sebagai Shinobi Konoha..”. Shikamaru menganggkat gelasnya, mengajak bersulang.

“yeah.. Shinobi Konoha..” ketiga temannya ikut mengangkat gelas.


Naruto baru aja pamit, katanya masih ada paperwork yang harus dia selesain. Begitu juga Kiba dan ryoushin yang kewalahan karena Hige yang ketiduran. Temari udah membawa pulang Shikari dan Rishiru, begitu pula Ino dan Kana. Tinggalah Chouji dan Shikamaru berdua. Saling menungkan Sake ke gelas yang sudah kosong.

‘BRUK!’

Chouji terkapar di atas meja, nggak kuat minum lagi.

“hey! Hey! Chouji! Jangan tepar disini! Mana kuat gue gendong loe sampe rumah!”

tapi Chouji nggak bergerak sama sekali. Pelayan Yakiniku-Q datang, menyerahkan Bon dan meminta bayaranya. Shikamaru membayarnya.

“maaf pak.. kita udah mau tutup..” kata pelayan itu.

“Chouji! Serius dong!” Shikamaru mengguncang badan temanya, tapi Chouji kayaknya udah nggak bernyawa.

Terpaksa. Shikamaru menggotong Chouji pulang. Bukan pekerjaan gampang. Badan Chouji nyaris dua kali besar badanya sendiri. Belum lagi, dia sendiri juga lagi mabuk.

“cho..chouji! i’ll kill you!” geram Shikamaru sambil memapah tubuh Chouji.

“Shika..hik.. shikamaru..” gumam Chouji.

“kalau loe bisa ngomong, gimana kalo loe jalan sendiri?” tapi biarpun berkata begitu, Shikamaru tetap memapah tubuh sahabatnya itu.

“gue seneng loe balik..” gumam Chouji lagi.

“gue juga seneng bisa balik..


“Kana! Kana!” Shikamaru menggedor pintu rumah klan Akamichi.

Pintu terbuka, Kana muncul. “Chouji! Dasar!” Kana membantu Shikamaru memapah Chouji kedalam, mengantarnya ke kamar.

“Kana? Boleh minta air?” tanya Shikamaru setelah membaringkan Chouji. Kana segera berlari ke dapur.

“hei.. Shikamaru..” panggil Chouji pelan.

“apa?”

“loe tuh Shinobi paling hebat. Loe inget gue bilang itu waktu loe lulus ujian chuunin, kan?”

“he-eh..” jawab Shikamaru.

“dan loe temen gue yang paling hebat juga..” sambung Chouji.

“loe juga..” balas Shikamaru.

END

Endles story 2 ( B3By FIC )

“skak!”

“aah! Ayah kalah!” Shikamaru menepuk dahinya.

“kalah atau ngalah? Serius dong, otou-san! Aku bosen nih!” bocah cewek di depanya menggembungkan pipinya, ngambek.

“haha.. Shikari-chan udah jago. Ok! Next time, ayah serius deh!”

“janji loh, Yah!”

“SHIKARI-CHAN! SHIKAMARU! Kalo’ udah, beresin papan Shoginya!” teriak Temari dari dalam rumah.

Shikari tersenyum penuh kemenangan..

“kan tou-san yang kalah, jadi tou-san yang beresin!”

tapi sbelum Shikari selesai ngomong, ayahnya udah pergi.

“tou-san!!” jeritnya kesal.


6 bulan belakangan ini, dia mendapat missi yang mengharuskanya berada di Konoha. Kembali berada di Suna yang panas setelah segala udara nyaman di konoha.. tubuhnya belum bisa menerima perubahan iklim ini.

Shikamaru menatap langit Suna lewat jendela. tidak seperti langit konoha yang penuh awan-awan menarik, disini langit terlihat kosong. Hanya matahari yang menyorot dengan panas luar biasa yang balas menatap padanya

Dia menuju kamar anaknya di lantai atas.

Kamar anaknya cukup luas. Ada dua tempat tidur bersebelahan. Beberapa mainan tergeletak. Sinar matahari menembus masuk dari atas. Ada jendela kecil yang berada di atas kamar.

“Rishiru-kun, kamu di sini,”

seorang anak laki-laki seumuran Shikari, terlentang di atas karpet kamarnya, menatap jendela diatasnya.

Shikamaru duduk di samping anak laki-lakinya.

“tou-san..” sapa Rishiru. Anak itu duduk, menatap ayahnya.

“kamu nggak main di luar??”

“nggak ah.. di luar panas, enakan di sini, adem.. aku nggak suka matahari..”

“kamu bakal suka di konoha,” Shikamaru tersenyum sambil melingkarkan tangannya di bahu Rishiru.

“disana enak?” Rishiru menatap ayahnya. Balas memeluk. Cowok diumurnya emang masih suka manja-manjaan.

“enak banget, Nggak ada padang pasir yang panas, yang ada hutan hijau mengelilingi desa. Ada gunung dengan pahatan wajah hokage dan banyak awan”

“disini juga ada awan,” Rishiru menunjuk gumpalan putih tipis di langit.

“itu sih bukan awan! Awan yang ayah maksud, gede dan tebel. Menghalangi matahari, jadi nggak terlalu panas, awan-awan itu menarik buat diliat.”

“aku.. jadi pengen ke Konoha..”

Shikamaru menggendong Rishiru di bahunya, membuat pipi anaknya tertusuk-tusuk kuncirnya. mereka menuruni tangga. Ayahnya menceritakan tentang Konoha, sementara Rishiru mendengrkan dengan kagum.

Shikaru belari kearah mereka, “Rishiru-kun! Kamu kemana? Kan kita mau latihan!”

“repot ah, nee-chan!” kata Rishiru sambil melompat turun dari bahu ayahnya.

Shikari membentuk beberapa segel dengan tanganya, bayangan Shikari memanjang, mencapai kaki Rishiru dan menariknya.

Shikamaru terperanjat menatap anak perempuanya, “Shikari! Dari mana kamu belajar itu? Segel-segel tadi..”.

“eh? Kenapa emangnya? Aku Cuma ngeliat tou-san latian waktu itu dan nyoba-nyoba kok..

“iya, nee-chan! Aku latian.. tapi jangan tarik aku kayak gini!” protes Rishiru.

Dua anaknya keluar, ke arah dojo rumah mereka. Meninggalkan Shikamaru yang bengong, dikejutkan kemampuan anak ceweknya itu.

“hei, Temari..” sapa Shikamaru sambil masuk ke dapur.

“hemm?” Temari memunggungi suaminya, sibuk dengan kegiatan menyiapkan makan malam.

Shikamaru duduk di kursi, sikunya di meja, menopang wajahnya. “kamu tau? Shikari baru aja memakai Kagemane no Jutsu..”

“oh, ya? Well, kamu harus mulai ngelatih dia supaya jurus itu bisa dia pake dengan benar”. Temari masih sibuk dengan makan malanya. “dia emang sering di dojo akhir-akhir ini”.

“gimana dengan Rishiru? Apa dia juga bisa kagemane?”

“yah.. Rishiru lebih sering tidur-tiduran di kamar.”, Temari mengambil kipas kecil di dekatnya, meniupkan sedikit angin ke ikan bakarnya,”tapi dia juga sering masuk ke dojo bareng Shikari.”

"masa tidur-tiduran di kamar terus? males banget anak itu.." Shikmaru menggeleng-gelengkan kepalanya.

"wah.. kayak siapa, ya?"

Temari akhirnya selesai. Dia meletakkan lauk pauk-nya ke meja makan. “bisa bantu menata piringnya?”

how troublesome..” Shikamaru buru-buru menambahkan waktu ngeliat Temari cemberut, “apa sih yang nggak buat kamu?”

“kalo’ gitu sekalian panggil anak-anak di dojo, ya?” Temari tersenyum. Senyum yang selalu bikin Shikamaru bertekuk lutut di depannya.

as you wish, my lady” balas Shikamaru sambil menata piring-pirig itu dan keluar dari dapur, menuju dojo, begitu selesai.


“HIAAAT!”

“HAAAAT!”

‘bruhg!

‘DUG!’

Shikamaru mengintip ke dalam dojo. Kedua anaknya berlatih taijutsu. Rishiruu terlihat memimpin dari pada saudara perempuanya. Dia cepat, tangkas, dan sigap. Shikari nggak sanggup menyamai kecepatan Rishiru.

Shikari membentuk segel dengan tanganya, bayangannya menangkap kaki Rishiru yang akan meluncurkan tendangan, membuat adiknya jatuh berdebam ke lantai kayu dojo.

“serang dia sebelum segelnya selesai!” teriak Shikamaru dari pinggir.

Rishiru mengangguk, kembali menyerang Shikari dengan gencar. Shikari melompat mundur, kembali membentuk segel, tapi Rishiru berlari ke arahnya, meluncurkan tendangan ke arah tanganya.

“aaah..” Shikari berdecak kesal dan berusaha menyerang balik. Tapi Rishiru terlalu cepat.

Shikari kembali melompat ke belakang, dan membentuk segel lagi. Tapi kembali hancur karena pukulan Rishiru.

“buat segel lebih cepat!” Shikamaru memberi bantuan dari pinggir.

“SHIKAMARU! Kamu kan kusuruh manggil mereka buat makan malam! Bukan malah ngelanjutin latihan! Gimana sih!” Temari menarik telinga Shikamaru.

“aduuh.. iya, Sorry..Bubar!”

kedua anaknya berhenti. Menatap ayah mereka yang sekarang kena jeweran dari ibu mereka. Keduanya tertawa.


“kalian hebat! Aku nggak percaya! kalian bahkan belum masuk ninja Academy!” kata Shikamaru semangat waktu makan malam.

Kedua anaknya saling tatap. Tersenyum ke yang lain.

“ayah nggak tau perkembangan apa yang ayah lewatkan selama 6 bulan ini.. besok ayah akan ngelatih kalian!”

“yes!” jerit kedua anaknya senang.

“kenapa besok? Kita belom capek kok! Kita latihan sekarang aja!” Shikari terlihat bersemangat.

Rishiru mengangguk, ikut meyakinkan Shikamaru.

“hehe.. malem ini nggak bisa..” kata Shikamaru, melemparkan pandangan ke Temar,i yang sekarang, wajahnya terlihat memerah.

“malem ini, tou-san udah jadi hak milik kaa-san..” Shikamaru tersenyum nakal sambil mengecup pipi Temari lembut.

Di kamar anak..

“nee-chan.. tou-san ngapain sih sama kaa-san?” tanya Rishiru, rada kesel karena nggak jadi langsung latihan.

“nee-chan nggak tau.. mungkin mereka latihan?”

“tapi mereka nggak di dojo, kok! Mereka langsung masuk ke kamar abis makan malam..”

“hemmmm..”

dua bocah umur 5 taun ini berpikir keras, tapi nggak juga tau jawabanya. Memang, dalam hal ini, lebih baik tau terlambat dari pada tau kecepetan, kan?

“mungkin latihan yang harus di kamar kali?” kata Rishiru.

“ Aah... tidur yuk! Besok kita latihan sama ayah, kan? Rishiru, matiin lilinya dong?!”

Rishiru menggapai kipas kecil yang dia buat sendiri dan mengayunkan kipas itu asal-asalan. Dan angin kecil berputar ke arah lilin yang menjadi penerang satu-satunya di kamar mereka. Mematikannya.

“ ’met bobo, Rishiru-kun”

“ ‘met bobo, nee-chan”


Ayah merenggangkan tubuhnya di luar. Shikaru dan Rishiru buru-buru menghampirinya.

“ayo latihan, otou-san!” bujuk mereka.

“woy.. woy.. kalian terlalu excited deh, kita sarapan dulu, oke?”

“aah.. tapi sarapanya belom siap!” keluh Shikaru.

“gimana caranya biar cepet?” Tanya Shikamaru.

“Bantuin kaa-san!” Shikari berlari ke dapur.

“kamu nggak bantu kaa-san?” tanya Shikamaru sambil menatap anak laki-lakinya yang berdiri diam.

“ayah.. mau ngajarin Kagemane?” tanyanya.

“yup”

“aku.. nggak bisa..” gumam Rishiru sambil membuang wajahnya.

“sarapan!”

“apa tadi?”

“ayo makan, tou-san! Aku lapar!” Rishiru menarik tangan Shikamaru menuju dapur.


Ketiga ayah-anak itu berdiri di atas lantai kayu dojo. Kedua anaknya terlihat tak sabar, Shikamaru menatap mereka sambil tersenyum bangga.

“tou-san liat, Shikari-chan udah paham dasar penggunaan Kagemane. Sekarang, tou-san kasih beberapa segel yang harus kamu hafalin!”

Shikamaru menunjukkan beberapa segel dengan tanganya, Shikari mengikuti, tapi gagal. Shikamaru mengulangi dengan sabar sambil sesekali membetulkan jari-jari Shikari. Setelah kayaknya Shikari udah bisa ditinggal, dia beralih ke anak laki-lakinya.

“kamu bisa pake Kagemane?” tanya Shikamaru.

Rishiru menggeleng.

“oke.. kita coba segel-segel dasarnya..”

shikamaru mulai dari dasar mengajarkan Rishiru. Rishiru berusaha sekuat tenaga, tapi nggak ada yang terjadi sama bayanganya.

“kamu udah mengkonsentrasikan chakramu ke bayangan?”

Rishiru mencoba, tapi nggak bisa. Dia menggeleng.

“kaa-san!” jerit Shikari senang waktu ibunya muncul di pintu, membawa teh dan beberapa kue.

“ayo, istirahat dulu!”

“kamu mau latihan juga?” tanya Shikamaru menatap kipas di punggung istrinya. Udah 6 tahun mereka menikah, tetep aja Shikamaru merinding setiap menatap kipas itu.

Temari mengangguk sambil membagikan teh ke anak-anaknya. Keduanya pergi ke sudut dojo dan makan kue-kue itu berdua.

so? gimana mereka?” tanya Temari sambil menyeruput tehnya.

“Shikari sih bagus. Dia bener-bener bisa memakai kagemane. Masalahnya Rishiru..”

“kenapa?”

“aku nggak tau apa yang salah. Dia udah kukasih segel yang bener, aku juga merasakan dia berusaha mengkonsentrasikan chakranya ke bayangan, tapi nggak ada yang terjadi..” Shikamaru menggigit kuenya, “ini enak..” komentarnya.

“oh, ya? Itu resep dari Sakura. Terus Rishiru gimana?”

“nggak tau deh..”

Temari berdiri, menarik tangan Shikamaru. “mau ngapain?” tanya suaminya.

“ayo kita sparing! Aku udah lama nggak berantem nih!”

“haaah... how troublesome..

Shikamaru memangjangkan bayanganya, tapi Temari dengan cepat menghindari itu semua. Dia mengayunkan kipasnya, sebuah tiupan angin menghantam tubuh Shikamaru, melemparnya ke tembok dojo di belakangnya.

‘bush!’ menghilang. Kagebushin.

gotcha!” Shikamaru tersenyum dari belakang Temari. Temari nggak bisa bergerak. Dia terperangkap dalam serangan Shikamaru.

“tou-san jago!” teriak Shikari dari pinggir.

“ayo! kaa-san!” Rishiru menyemangati ibunya.

“hehe.. emangnya yang bisa pake bushin kamu doang?”

Shikamaru menengok ke atas, begitu juga dengan ‘another Temari’ yang kena kagemane.

“Sial!”

Temari ‘asli’ mengayunkan kipasnya ke Shikamaru yang tepat di bawahnya, membuat Shikamaru tertekan dengan tekanan angin dari atas.

“keren!” Rishiru menatap ibunya dengan pandangan berbinar-binar.

“haaah.. haaah..” Shikamaru akhirnya mendapatkan kembali napasnya.

“kok kamu tadi nggak lari?” tanya Temari.

“soalnya repot, kalo’ aku tadi lari, pasti jadi lama..” dia berdiri, kemudian mencium pipi Temari. “hari ini aku kan mau ngelatih mereka..”

“konyol..” kata Temari sambil berkecak pinggang.


“kamu udah hafal segel-segel tadi?” tanya Shikamaru ke Shikari. Shikari mengangguk.

“Rishiru. Kamu latihan mengkonsentrasikan chakra dulu, ya?”

Shikari mencoba segel-segel itu beberapa kali, kemudian berhasil waktu percobaan ke sekian kalinya.

“haha! Kamu bisa!” kata Shikamaru, bangga.

“iya dong! Tapi tadi tou-san kalah! Payah!”

“hehe..”

“aku baru sekali ngeliat kaa-san berantem. kaa-san hebat!”

“yup, kaa-san emang jagoan. Dia dulu salah satu jonin Suna yang terkenal sampe ke Konoha..” Shikamaru mengenang masa lalu mereka..

“oo..” Shikari mengangguk-angguk. “ angin itu keren! Sekarang aku tau kenapa Rishiru bisa make’ angin!”

“eh? Tadi kamu bilang apa?”

“angin itu keren.. tapi bayangan juga kok!” Shikari buru-buru menambahkan, takut ayahnya tersinggung.

“bukan! Tentang Rishiru!”

“eeh? Aku bilang Rishiru bisa make’ angin..”

“ITU DIA!”


Rishiru geleng-geleng di sudut lain dojo. Sejeras apapun dia nyoba, bayangannya nggak bisa gerak.

“Rishiru-kun!” panggil ayahnya.

“aku belom bisa, tou-san..”

“kenapa kamu nggak bilang?”

“bilang apa?”

“kamu bisa ngendaliin angin!”

“kan tou-san nggak pernah nanya..”

Shikamaru terdiam. Selama ini dia selalu mikir kalo’ dua anaknya itu sama. Kalo’ Shikari bisa, Rishiru juga bisa. Tapi sekarang dia sadar kalo’ dia salah. Mereka beda. Dan perbedaan itu harus bisa dia terima.

“iya, tapi kalo’ gini kan jadi jelas.. kamu emang nggak bisa kagemane, tapi kamu bisa pake angin kayak okaa-san. Jadi mulai sekarang, kamu latihan sama okaa-san, ya?”

“tou-san.. kecewa sama aku?” tanya Rishiru. Matanya nyaris berair.

“nggak dong. Kamu mungkin nggak bisa kagemane. Tapi kamu kan tetep anak laki-aki kesayangan tou-san..” Shikamaru tersenyum sambil mengelus lembut rambut coklat anaknya yang dikuncir sama kayak rambutnya sendiri.

“anak laki-laki tou-san kan Cuma aku..”

“pokoknya kamu lebih mirip sama tou-san. Kamu inget itu aja. Hal lainya itu..”

troublesome?” Rishiru menebak sambil tersenyum

“yup. Troublesome!


“gimana latihanya?” tanya Shikamaru waktu makan malam.

“hehe..” Rishiru mengacungkan jempolnya.

Temari mengedipkan sebelah mata ke anak laki-lakinya. “dia udah bisa kamaitachi sekarang!”

“latihan kalian gimana?” tanya Temari sambil mengulurkan semangkuk nasi ke depan suaminya.

“yaah.. shikari kan pinter kayak otou-san’nya. Jadi gampang tuh..” Shikamaru tersenyum lebar ke Shikari yang menggangguk bersemangat.


malamnya, di kamar..

“temari..” panggil Shikamaru.

“kenapa?”

“tahun ini mereka masuk akademi kan?”

Temari menggangguk. “bulan juli. Ini bulan april, berarti tiga bulan lagi”

Temari duduk di pinggil tempat tidur, menyisir rambut pirangnya. Shikamaru memeluknya dari belakang, dai meletakkan dagunya di bahu Temari.

Temari meletakkan sisirnya. Tanganya menggenggam lengan Shikamaru yang mengelilingi bahunya.

“waktu aku ke Konoha, Rokudaime tanya..”

“Naruto? Nanya apa?”

“kamu tau kan? Dia sama Hinata anaknya seumuran Shikaru dan Rishiru. Begitu juga anaknya Chouji. Anaknya Ino juga..”

“terus?”

“nah.. Naruto nanya, apa trio ino-shika-chou, bakal kadi quartet ino-shika-chou? Mmm.. maksudnya, apa nanti mereka berdua sekolah di Konoha”.

Temari melepas pelukan Shikamaru, “makudmu.. kita pindah ke Konoha?”

Shikamaru mengangguk. “pikir dulu, deh.. sistem pendidikan Konoha lebih bagus buat anak-anak kita.. dan disini anak seumur mereka sedikit sejak perang waktu itu. Suna academy belum tentu buka tahun ini. ”

Temari berdiri, berjalan menuju jendela. Melemparkan pandanganya keluar.

“aku nggak tau.. aku tinggal disini seumur hidup..” bisiknya.

Shikamaru meletakkan tanganya di bahu Temari. “aku ngerti. Tapi ini bukan demi kita. Ini buat mereka..”

Temari memeluk Shikamaru. Menyandarkan kepalanya di dada Shikamaru yang hangat. Udah lama dia nggak begini. 6 bulan. Dia merindukan suaminya.

“yaudah.. pokoknya, lakuin aja apa yang baik menurut kamu..” Temari memberikan kecupan ringan di bibir Shikamaru.

“thank’s, Temari..”


Endles story 1 ( B3By FIC )

chapter 1. the babies was born

“Shikamaru-nara, kau kami nikahkan dengan kakak kami tercinta, Temari binti xxx(spa sih nama kazekage ke empat?), bersediakah kamu menyayanginya seimur hidup, melewati badai di rumah tangga kalian sampai maut memisahkan?” Tanya Gaara sambil menggenggam tangan Shikamaru yang keliatan gugup. Mata hijau Gaara terlihat mengerikan dengan jidat yang tertekuk di bawah rambut merahnya yang disisir rapih untuk hari bersejarah ini.

“aku terima nikahnya, temari binti xxx, dengan mas kawin emas 24 karat dan uang tunai sebesar 200.000.000(AN: knapa 200 juta? Krna kalo Cuma 2rtus rbu, atau 2 juta nggak pantes buat nikahin sodara kazekage) dibayar tunai”.

“sah, semua?” tanya gaara ke saksi yang dibales dgn kata “Sah..” yang saling saut-sautan.

“akhirnya..” gumam Shikamaru waktu ngeliat muka Temari.

“yup, finally..” kata Temari sambil tersenyum manis.

Shikamaru mengecup lembut dahi Temari. “aishiteru..”.

Shikamaru bahagia banget waktu itu. Dia bahkan nggak terlalu mikirin Gaara yang narik bajunya pake pasir abis acara selese buat bilang, “awas kalo loe sampe bikin kakak gue kecewa!”.

Kenanganya di hari itu terus berputar saat tanganya di genggam Gaara, saat dia mencium dahi Temari dan saat malam pertama.. saat dia dan temari(AN: whoops.. sensor. Bukan apa-apa, tapi kurang aman kalo dipaparkan disini. Lgyan lebih enak kalo byanging sndiri kan )


11 bulan berlalu sejak hari paliiing bahagia buat Shikamaru. Hari yang nggak akan bisa dia lupain. Dan memory akan hari itu lagi berputar cepat di kepalanya. Sementara dia—dengan perasaan harap-harap cemas—menunggu di kursi sebelah tempat tidur Temari. Temari keliatan pucat, menatap perutnya yang membesar.

Tangan Temari tiba-tiba mencengkram tangan Shikamaru erat-erat, “kayaknya sekarang waktunya deh..” kata Temari gugup. “aku.. aku..” Shikamaru bingung, antara manggilin dokter dan tetep di sisi Temari, “panggil dokter..” gumam Temari yang kedengeranya lagi nahan sakit.

“DOKTER! DOKTER! SUSTER! BIDAN! DUKUN BERANAK!” raung Shikamaru yang nggak mau pergi dari sisi Temari.

“dasar bego! Ntar kalo dateng semua gimana?” Temari, yang kalo nggak lagi ksakitan banget waktu itu pasti ketawa, tersenyum ngeliat kebodohan suamimnya.

COMING!” teriak suara Sakura dari luar.

Sakura masuk dengan beberapa perawat dibelakangnya. Shikamaru nggak bergeming, tetep mengenggam tangan Temari.

sorry Shika-kun, tapi lo mesti keluar sekarang,” perintah Sakura.

“tapi.. tapi gue mesti ada di sebelahnya!”

“sorry Shika-kun,” Sakura menggeleng, terus ngasih tanda ke perawat buat ngebawa Shikamaru keluar. Shikamaru ngelawan sekuat tenaga, 2 perawat tumbang.

“pokoknya gue mesti tetep disini!”

“Shika-kun! Dattebayou!” Sakura melayangkan pukulan mautnya, Shikamaru mental keluar kamar. “tunggu diluar!” sakura ngebanting pintu.

“Shikamaru-kun!” di ujung lorong, keliatan Gaara lagi lari, atau, terbang dengan kecepatan super-pasir. Di belakangnya, Kankuro mengejar.

“udah waktunya?” tanya kankuro bego.

Shikamaru ngangguk.

Gaara dan Shikamaru ribet bolak-balik di depan pintu, sementara Kankuro duduk di kursi sambil goyang-goyangin kakinya, resah.

“AAAAA!” terdengar jeritan Temari dari dalam, Shikamaru buru-buru ngerapetin telinganya ke pintu. Gaara berusaha ngedorong, tapi Shikamaru tak tergoyahkan.

Kankurou menarik Gaara, “ini waktu yang berharga buat seorang ayah. Loe jangan ngerusak!”

“oweeeee!” terdengar tangisan. “bayinya perempuan!” terdengar teriakan Sakura.

“ohhh.. Yes!” teriak Shikamaru keras.

“aku menang taruhan, gaara..” Kankurou tersenyum jail ke Gaara. Gaara cembetut.

“buset! Loe berdua taruhan ke anak gue?!” perasaan Shikamaru bercampur aduk. Bahagia, lega dan kesel sama dua adek iparnya ini. Tapi perasaan yang paling dalem adalah buat nerobos masuk dan ngeggendong anak pertamanya, dia nggak peduli cewek atau cowok. Anak itu saksi hidup dari cintanya dan Temari. Tangisan bayi itu masih terdengar, bikin hasrat mendobrak Shikamaru makin gede.

“kapan sih gue bisa masuk?” jerit Shikamaru.

“oweeee!” tiba-tiba tangisan itu bertambah.

“kembar! Bayi laki-laki!” teriak Sakura buat orang yang lagi diluar.

Shikamaru nggak peduli apa-apa lagi, dia menghadapkan bahunya ke pintu dan mendobrak jatoh pintu itu. Hal terakhir yang dia denger dari luar adalah Gaara yang teriak, “gue nggak jadi kalah taruhan! Bodo amat sama taruhan bego itu. Gue jadi om buat dua ponakan sekaligus! Hore!”

Di dalam, dia ngeliat apa yang orang bilang heaven in the earth. Temari menggendong seorang bayi berambut kemerahan, dan sakura yang sejenak keliatan mau marah tapi nggak jadi, nyerahin seorang bayi berambut coklat kekuningan ke tanganya.

Shikamaru menerima bayi itu dengan kikuk dari tangan Sakura, bayi itu menggeliat di pelukanya. “congrate, Shika-kun..” kata sakura dengan kelelahan yang amat sangat sambil menepuk punggung Shikamaru.

Shikamaru mendekat ke Temari yang menatap dua anak mereka dengan bahagia. Air mata mengalir di pipi-nya yang penuh keringat. “Halo, papa..” sapa Temari sambil terisak tangisnya.

“halo, mama..” dan saat mendengar kata-katanya sendiri, Shikamaru baru sadar kalo dia juga menangis.

“liat, wajanya persis kamu..” kata Shikamaru menunjukan bayi di tanganya, yang laki-laki. “yang itu juga mirip kamu, hey! Kog nggak mirip aku?”

“baguslah, kalo’ mirip loe ntar keponakan gue jelek dong!” kata Gaara sambil merangkul Sakura yang bersandar lelah di bahunya.

Shikamaru nggak ngedengerin kata-kata Gaara. “dua sekaligus, wow” kata Shikamaru nggak percaya.

“kita harus mikirin nama buat mereka” kata Temari, “nggak mungkin kita panggil anak-cewek, anak-cowok, kan?”

“loh? Nggak boleh ya? Kalo gitu kan nggak repot?”

“Shikamaru-kun!” teriak semua yang ada di situ, setelah mengatasi sweetdrop tentunya.

“oke-oke.. sorry. Gimana kalo’ satu kita kasih nama Teshi?”

“najis! Kayak banci yang dulu suka ada di Tv dong!” protes Kankuro.

“mmm.. kalo’ gitu.. Shikari buat yang cewek..”

not bad..” kata Gaara. Semua nengok ke Gaara. Ini sebuah kemajuan besar. Gaara.. yang nggak pernah setuju sama omongan Shikamaru..

“yang cowok?” tanya Sakura.

“mm.. Rishiru. Bagus nggak?” kata Temari.

“jauh lebih bagus dari pada Teshi” kata Kankurou. Semua setuju.

“’met dateng di keluarga, Rishiru, Shikari..” kata Shikamaru sambil mencium lembut Rishiru. Temari juga mencium Shikari.


5 bulan berikutnya, di Konoha..

Gaara nggak pernah keliatan sekacau itu seumur hidupnya. Dia sendiri juga nggak pernah ngerasa setakut ini. Rambut merahnya makin acak-acakan tiap kali dia garuk-garuk kepala buat mengatasi keresahannya.

Tadinya dia pikir nggak bakal semengerikan ini. Dia juga takut waktu Temari ngelahirin Rishiru dan Shikari, dia kira nggak bakal jauh-jauh rasanya sama waktu itu. tapi rasanya bedaa banget kalo yang bakal ngelahirin itu istrinya sendiri.

Gaara masih bolak-balik di depan pintu waktu Shikamaru dan Temari datang bawa Shikari dan Rishiru. Abis itu kankuro nyusul sambil ngebawa satu tas gede yang isinya perangkat-persenjataan-menghadapi-tangisan. Contohnya, susu, popok, dot, dll. Yang jumlahnya dua kali lipat satu bayi (NA: secara anaknya kembar gituu..). abis itu muncul kakashi yang masih make maskernya. dan terakhir, Naruto dan Hinata.

Shikamaru tersenyum ngeliat gaara yang resah, dia menepuk punggung Gaara, “takut?”.

Gaara mengangguk.

“harus. Loe nggak bakal ngerasain rasa takut kayak ini lagi seumur hidup loe..” kata Shikamaru.

“Gaara, Sakura-chan di caesar?” tanya Naruto, menatap lampu ruang oprasi.

Gaara mengangguk. “soalnya kontraksinya udah mulai. Padahal baru 7 stengah bulan”

“tenang aja. Dia kuat kog. Kuat banget. Pipi gue ini saksinya..” Naruto menghibur Gaara, sambil nginget pukulan-pukulan Sakura di pipinya.

Makin siang, makin banyak yang dateng. Gaara terharu ngeliat betapa orang-orang di Konoha peduli sama Sakura.

Nggak heran, sebenernya. Sakura pernah paling nggak sekali nyelamatin nyawa orang-orang ini. Dan sekarang semua orang pingin ngliat nyawa yang dimunculkan ke dunia oleh sang penyelamat nyawa mereka.

Udah 2 jam Sakura di dalem. Semua orang khawatir dan resah. Kenapa lama banget? Tapi nggak ada satupun yang pergi.

Sampai akhirnya, lampu ruang oprasi itu mati.

Deg! Dada gaara berdetak keras.

Pintu di buka, Tsunade keluar. Nggak ada yang berani nanya..

Deg! Dada gaara berdetak keras lagi.

Tsunade berbalik menatap gaara, “selamat anak mu perempuan!”

Gaara nyaris melompat denger ucapan Tsunade. Orang-orang berteriak bahagia, tapi teriakan itu terasa jauh di telinga Gaara. Dia masuk ke ruang oprasi, melewati lorong panjang ke pintu kaca, dan membukanya. Jalanan terbagi dua, dia ke kanan. Entah kenapa, pokoknya dia tahu, ke sana arahnya.

Seorang perawat nyaris melempar anaknya waktu kaget ngeliat Gaara. “aku ayahnya,” kata gaara buru-buru. Perawat tadi menyerahkan anaknya yang lagi nagis kenceng-kenceng. Sedikit lebih kecil dari Shikari dan Rishiru waktu baru lahir. Tapi bodo amat! Ini anak gue! Pikir Gaara.

Sakura masih tertidur dibawah pengaruh obat. Gaara menggendong anaknya ke dekat ibunya, lalu memperhatikan wajah anaknya. Rambutnya berwarna merah, sama kayak dia. Sementara bentuk mukanya kayak Sakura. Bayi itu masih menangis, tapi waktu di dekat ibunya, tangisan itu terhenti. Tergantikan tawa kecil yang manis. Persis ibunya, pikir Gaara sambil tak bisa berhenti tersenyum.

Mata Sakura perlahan membuka, “gaara-kun? Itu..”

“ya.. anak kita..” Gaara memnyerahkan anaknya ke Sakura. Dia memberikan ciuman ringan di bibir sakura. Dan mencium lembut dahi putrinya.

“hey, dia nggak jenong!” kata Sakura senang. Membuat gaara ketawa.

“jadi? Siapa namanya?” tanya Gaara ke Sakura.

“mm.. kamu aja yang nentuin.”

“kalo’ gitu, namanya Gakura..”

“kayaknya mirip nama cowok deh..”

“apa dong, kalo gitu?”

“kalo Saagara?”

“lebih kayak cowok lagi..”

“Sagura!” kata gaara.

nice name..


Rabu, 13 Mei 2009

eshtarwind Fic ( ikatan )

A Team Gai Fic

Ikatan

----------------------------------------------------------------

Fly higher and higher towards a great future
Brightening wave of light shining on us
Lift up your hands, reach for the vast sky
True courage casting straight forward
Kick the ground and move forward!

Kumoko: Higher and Higher

---------------------------------------------------------------------

Semuanya berawal dari hari itu.

Hari saat Iruka-sensei mengumumkan kelulusan mereka sekaligus tim Genin mereka. Neji tidak pernah berharap dapat sekelompok dengan Lee. Lee tidak pernah tahu dia akan satu kelompok dengan Tenten. Tenten pun tidak pernah mengira dia akan satu kelompok dengan SANG Hyuuga Neji. Tapi mereka masuk ke dalam satu kesatuan. Atau seharusnya begitu.

Gai-sensei selalu berkata teman adalah segalanya.

Itulah yang diajarkan olehnya di hari tes pertama mereka. Mungkin Gai-sensei memang orang yang sangat aneh dan eksentrik. Jounin itu terlalu sering tersenyum dan senyumnya terlalu terang untuk ditahan oleh mata tanpa perlindungan—Neji biasanya mengeluh karena matanya sangat sensitif pada cahaya. Tapi Gai-sensei adalah Jounin yang baik, dan seorang manusia yang berhati lembut. Bagi timnya, sosoknya lebih daripada sekedar mentor mereka. Gai-sensei adalah seorang ayah, ayah yang menyayangi dan mengajari ketiga anaknya dengan baik.

Lee selalu berkata bahwa kerja keras akan membuahkan hasil yang sepadan.

Neji berkata bahwa takdir telah menuliskan segalanya untuk mereka semua dan tidak ada yang bisa mengubah itu.

Mereka biasanya bertengkar mengenai hal ini.

Mengenai takdir.

Lee mengajak Neji bertarung. Neji menyanggupi. Keduanya bersaing dan Neji selalu menang. Tenten tidak senang melihat Lee terluka dan menyuruhnya untuk menyerah tapi Lee menolak hal itu. Dia ingin membuktikan segalanya. Dia ingin memperlihatkan pada Neji keyakinannya.

Namun Lee gagal.

Dan entah mengapa, Neji tidak merasa bahagia akan hal itu. Lee adalah Lee. Lee yang kehilangan semangat bukanlah Lee. Dan Neji tidak merasa nyaman akan kenyataan itu. Dia tidak mengerti namun dia tidak suka. Dia ingin Lee kembali.

Neji mendorong Lee untuk melakukan apa yang bisa dia lakukan.

Neji mendorong Lee untuk sembuh.

Mungkin dia memang bukan orang yang dapat memperlihatkannya secara langsung. Namun paling tidak setelah pertarungan dengan Naruto, dia belajar sedikit mengenai bagaimana cara mengekpresikan perasaannya dengan benar. Paling tidak dia bisa jujur pada dirinya sendiri. Paling tidak dia bisa meminta Lee untuk bangkit.

Lee menjawab dengan melewati operasi itu dan berhasil.

Tenten selalu berkata bahwa wanita dapat menjadi sekuat pria, atau bahkan lebih.

Tsunade-sama memperlihatkan itu padanya.

Tidak ada yang menertawakannya saat dia berlatih. Mungkin dia memang tidak sekuat kedua teman satu timnya dan dia tidak akan berdalih semuanya itu karena dia perempuan. Tidak. Kedua teman satu timnya kuat dan dia bangga dapat berada di antara mereka. Dia dapat bertahan dengan Hyuuga Neji dan Rock Lee. Dibanding dengan semua kunoichi lain, dialah yang memiliki gaya bertarung paling bersifat fisik.

Mungkin Sakura memang menggunakan kepalan tangan dan tendangan yang kuat namun dia menggunakan chakra dengan baik. Sakura bertipe genjutsu karena kontrol chakranya. Lalu Tenten? Dia tidak menggunakan hal seperti itu. Dia tidak bertipe genjutsu. Kekuatannya adalah pada kecepatan, kelincahan, dan ketepatan. Pada otot. Taijutsu. Itulah bidangnya. Bidang yang diasah oleh mentor dan kedua teman satu timnya. Senjatanya ada dalam tariannya. Tarian naga dengan segalanya senjatanya. Senjatanya adalah besi dan baja, ledakan dan jebakan. Dia mungkin wanita, namun tidak ada orang lain yang memiliki senjata sebanyak dirinya.

Mungkin Team Gai bukanlah tim yang selalu sejalan.

Seperti tim yang lain, mereka memiliki tahapan. Seperti tim yang lain mereka memiliki saat dimana mereka berbeda pendapat.

Dahulu Lee dan Neji biasa bertengkar. Dahulu Tenten merasa tersisih. Namun semua itu memang memiliki kata keterangan waktu di depannya. Semuanya sudah berlalu.

Dengan segala misi dan latihan. Segala yang telah mereka lalui bersama… Mereka berubah. Menuju yang lebih baik.

Neji menerima takdir. Neji membuka mata pada dunia. Dia menerima Lee.

Lee dapat menahan kecepatannya. Lee belajar untuk menunggu. Dia dapat menahan diri saat temannya tertinggal di belakangnya.

Tenten belajar untuk tidak memandang orang dari kekuatannya saja. Tenten belajar untuk menjadi kuat sebagai dirinya sendiri, belajar untuk menerima dan melapangkan diri. Dia belajar untuk berada di sisi kedua temannya, menyanggupi kebutuhan mereka akan kekuatannya.

Gai memandangi semuanya terjadi. Gai memperhatikan mereka semua tumbuh. Dia memberi mereka semua kesempatan untuk tumbuh.

Team Gai adalah tim taijutsu.

Team Gai adalah tim yang penuh dengan latihan keras dan konflik di antara anggota timnya.

Team Gai tidak sepopuler tim lainnya.

Namun Team Gai adalah Team Gai.

Mereka tumbuh dan berkembang. Menjadi lebih baik. Menuju yang terbaik.

Tim taijutsu.

Tim penuh latihan.

Selamanya...

Mereka adalah Team Gai.

------------------------------------

OWARI

-------------------------------------------------

biaaulia Fic ( sepucuk surat )

Hujan deras membasahi desa Konoha. Tenten duduk dekat jendela kamarnya, mengawasi untaian air hujan. Pikirannya mengembara mengenang kejadian seminggu yang lalu…

---------------------

Flashback

Hokage-sama, anda memanggil kami?” Tanya Neji.

Ya, aku ingin memberi misi khusus untukmu dan Lee.” Ucap Tsunade. Wajahnya menyiratkan kegelisahan dan ketakutan.

Berdasarkan keputusan para tetua, kita akan menyerang desa Oto. Dikarenakan kekuatan desa mereka yang telah menurun drastis semenjak kepergian Sasuke, para tetua menyimpulkan bahwa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk melancarkan serangan. Konoha akan mengirimkan beberapa shinobi handal yang telah kami akui kekuatannya. Desa Suna juga akan mengirimkan beberapa shinobi-nya. Nantinya, kalian bekerja sama dengan mereka dalam misi gabungan ini. Kekuatan kalian berdua sangat diharapkan untuk menunjang presentase kemenangan dan juga keselamatan. Kami tidak mentolerir penolakan. Rapat misi akan dilaksanakan 2 hari lagi. Sekian.” Ucap Tsunade panjang lebar.

Tenten shock setelah mengetahui tentang misi tersebut melalui Sakura, yang terpilih sebagai ninja medis dalam tim tersebut. Ia segera berlari menuju rumah klan Hyuuga.

Sesampainya disana, Hinata memberitahu Tenten bahwa Neji berada di tempat latihan. Tenten segera berlari menuju kesana. Sesampainya ia disana, dilihatnya sosok Neji berdiri mematung di tengah lapangan.

Neji, apa betul kau dan Lee terpilih untuk misi menyerang Otogakure??” Tanya Tenten. Wajahnya gelisah. Mata coklatnya memandangi mata putih Neji.

Ya.” Jawab Neji dengan nada enggan.

Detik berikutnya, Tenten memeluk Neji sambil menangis. Air mata mengalir deras, membasahi baju Neji. Neji hanya diam, menatap langit. Dibiarkannya Tenten menangis sepuasnya. Setelah tangisannya reda, Neji menariknya menjauh dari dirinya.

Tenten, tak perlu menangis. Aku tahu bahwa misi ini berbahaya, namun fakta bahwa hanya shinobi-shinobi terbaik yang terpilih membuatku bangga, bahwa aku telah diakui.”

Tenten terdiam. Dia tahu bahwa inilah yang diinginkan Neji seumur hidupnya (Maaf kalau beda dari cerita. Namanya juga fanfic). Dirinya diakui sebagai seorang individu, terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah seorang Hyuuga. Tenten berbalik.

Kalau begitu, berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali.” Ucap Tenten.

Neji tersenyum. Diambilnya sepucuk surat dari sakunya, lalu diberikan kepada Tenten.

Tentu. Tapi, kau pun harus berjanji padaku untuk membaca surat ini, hanya pada saat aku telah pergi.” Ucap Neji.

Lalu, Neji berbalik dan pergi. Sosoknya menghilang, meninggalkan Tenten sendiri, memandangi surat Neji, lalu pergi…

End of Flashback

---------------------

Kemarin Neji dan yang lainnya telah pergi. Namun surat darinya masih terlipat rapi di atas meja riasnya, tak tersentuh. Tenten ganti memandangi surat tersebut. Lalu ia berdiri dan meraih surat tersebut. Dibukanya, lalu ia baca…

Aku tersenyum pada angin

Namun, kamu tidak melihat menembusnya

Aku bernyanyi pada air

Namun, kamu terbang di dalam angin

Aku berteriak pada dunia

Namun khayalmu melambai pada angkasa

Neji

Dahinya berkerut sejenak. Beberapa menit kemudian, senyum merekah di bibirnya, menghiasi wajahnya.

“Neji…”

---------------------

Beberapa bulan kemudian, tim tersebut kembali dengan selamat. Mereka berhasil menghancurkan Otogakure, dan membawa Orochimaru sebagai buktinya. Keberhasilan mereka dengan segera menyebar di seluruh Konoha. Siang itu, Neji sedang berjalan pulang menuju rumahnya, setelah melaporkan hasil misi tersebut kepada para tetua dan Hokage. Ia melihat sepucuk surat di depan pintu rumahnya. Surat tersebut ditujukan untuknya. Ia bawa ke dalam kamarnya, lalu ia buka…

Neji, aku tahu kau akan kembali. Terima kasih atas suratmu. Ini balasannya.

Jangan bilang aku tidak lihat senyummu

Karena dalam kesunyianku, aku menatap menembus angin

Jangan katakan aku tidak ikut bernyanyi

Aku dapat mendengar ritmemu dari dalam air

Jangan kira aku berkhayal terlalu jauh

Karena khayalanku sesungguhnya adalah khayalan pada dunia

Dan jangan bilang aku tidak menyimakmu

Karena aku dengar seluruh untai teriakmu

Tapi mestikah aku katakan semua itu?

Atau kamu yang harus?

Tenten

Neji tersenyum. Ditatapnya langit biru diluar jendela kamarnya.

“Tunggu aku… Tenten.”

---------------------

Tenten terdiam dalam kamarnya, menatap awan-awan yang menari indah di angkasa. Pikirannya gelisah. Ia takut Neji tidak merasakan hal yang sama. Tiba-tiba, dia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Dia bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah pintu masuk. Dilihatnya Neji berdiri di depan pintunya.

“Hai.”

Tenten tersenyum. Dia minggir, lalu mempersilahkan Neji untuk masuk. Ditutupnya pintunya, lalu berjalan mengikuti Neji.

Mereka berdua duduk. Menit demi menit berlalu dalam keheningan. Lalu, tiba-tiba Neji berbicara.

“Tenten, tentang surat yang waktu itu, aku benar-benar menyukaimu, dan… eh… Maukah kau menjadi pacarku?” Ucap Neji. Wajahnya merah.

Tenten mendongak. Dilihatnya ekspresi Neji, untuk meyakinkan dirinya bahwa ia serius.

“Apakah kau sudah membaca suratku?” Tanyanya tersenyum.

“Ya.”

“Kalau begitu, kau pasti tahu jawabanku.”

Neji tersenyum, lalu memeluk Tenten dengan erat. Tenten terenyum pada pemuda di depannya, lalu membalas pelukannya dengan erat.

“Kalau benar begitu, berjanjilah padaku, sekali lagi, bahwa kau takkan pernah meninggalkanku selamanya…”

end

tensaisbaka FIC ( sayang )

Sayang

‘Sudah dua hari…’

Seorang kunoichi dengan model rambut yang mungkin lebih mirip panda menatap ke luar jendela kamarnya. Hujan.

‘Neji masih belum pulang juga…’

Flashback…

“Jalan pagi-pagi begini memang enak ya… Setelah ini langsung pulang dan latihan bareng Neji!” Perempuan berambut panda itu terlihat sedang berjalan di antara pepohonan menikmati udara segar di pagi itu.

‘Nanti jadi bilang nggak ya…? Tapi kalau ternyata dya nolak gimana…??’ Batinnya sambil menundukan wajahnya ke bawah dan tetap berjalan. Rencananya hari ini Tenten mau mengatakan perasaannya kepada Neji, teman latihannya. Sebenarnya, sang weapon mistress sudah lama menyukai teammate-nya itu, namun ia masih belum berani untuk mengatakannya apalagi ia tidak tau sama sekali perempuan seperti apa yang disukai oleh Tensai Hyuuga itu.

SYAATS..!!

Saat itu juga mata sang kunoichi menangkap beberapa sosok bayangan yang ia kenal bergerak di antara pepohonan.

‘Eh?, Neji?’ Mengapa Tenten bisa tau kalau itu Neji? Karena, tiap hari neji selalu keramas pake Emeron Shiny Grow yang mengandung ekstrak lidah buaya sehingga rambut Neji yang panjang makin panjang dan terlihat berkilau jika terkena sinar matahari.

“NEJIII…!!” Otomatis, kelima shinobi itu langsung berhenti.

“Aduuh.., ada apa lagi sih ini…?? Mendokuse…” Keluh seorang shinobi termalas se-Konoha gakure.

“Tenten? Ada apa?” Shinobi pengguna Byakugan itu mengeluarkan pertanyaan yang di tujukan kepada kunoichi yang memanggil namanya.

“Sudahlah…!! Ayo cepat…, nanti Sasuke keburu jauh…!!” Cerocos seorang shinobi dengan ranbut jabrik pirang dan tanda aneh di pipinya.

“Diam kau…!! Aku kan cuma mau bertanya ada apa dan kalian mau kemana?!” Tenten membalasnya dengan ketus.

“Heii… Kalian, hentikan…!!” Lerai seorang shinobi lainnya yang berbau seperti anjing karena memang selalu bergaul dengan anjing.

“Aku lapar…” Shinobi gemuk dari klan Akimichi itu mengusap-usap perutnya.

“Yaah… Memang sih, ini misi dadakan… Si Uchiha itu… ia pergi dari konoha, ke tempat seseorang yang bernama Orochimaru itu.” Jelas Neji singkat.

“Ehh?? Padahal aku kan belum sempat mengobrol dengannya…” Keluhnya sambil memasang wajah kecewa di wajahnya. Padahal ia hanya ingin tau bagaimana reaksi sang Bunke Hyuuga. Dan saat itu juga, Neji memalingkan wajahnya seraya mengumpat.

‘Huh, si Uchiha SIALAAN itu!!’( Author kebetulan memang benci sama Sasuke). Dan kata-kata kutukan lainnya.

“Ohh..” Tenten pun ber-oh kecil tanda mengerti. “Lalu, kapan kau kembali? Berarti kita tidak latihan selama berapa hari?” Lanjutnya.

‘Huh! Cuma Neji yang ditanya!’ Batin si Kyuubi.

“Hmm.., kami masih belum tau pasti karena misi seperti apa ini saja juga belum jelas…” Jelasnya lagi.

“Begitu…, padahal ada yang ingin kukatakan.. Kalau begitu setelah misi ini saja ya!”

“Sudahlah, cepat katakan saja, daripada buang-buang waktu.” Ia mengatakannya sambil melipat tangannya dengan gaya tenangnya.

“EHH?! Ti.., tidak mungkin di sini kan…!!” Tenten pun memprotes sambil menyembunyikan blushing-nya.

“Heii, ayo cepat, waktu kita sempit!!” Belum sempat neji menjawab sang Chuunin-baru-jadi kembali berbicara dengan gaya malasnya yang seperti biasa.

“Ya sudahlah, semoga berhasil ya! Ganbatte!!”

Tanpa ba-bi-bu lagi kelima shinobi itu langsung melesat dari pandangan Tenten.

End of Flashback…

Memang rasanya aneh kalau baru dua hari sudah khawatir, karena dua hari itu waktu yang terlalu singkat untuk melaksanakan misi darurat seperti ini. Tapi tetap saja ia gelisah.

Ketika tersadar, ternyata hujan telah berhenti. Kunoichi itu melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya, berharap bisa melihat pelangi… Berharap Neji telah kembali…

Clak, Clak!!

Seorang kunoichi lainnya terlihat berlari dengan tergesa-gesa melewati genangan-genangan air yang ada di sekitarnya menuju ke kantor Hokage-sama dan kebetulan melewati rumah Tenten.

‘Ah.., itu kan si jidat le.. ups! Bukan! Sakura…’

“Sakura?! Ada apa?” Tanya Tenten penuh harap-harap cemas.

“Akh, Tenten-san! Tadi aku dapat panggilan dari Tsunade-sama! Sepertiinya berhubungan dengan pengejaran Sasuke!!” Jawabnya sambil terengah-engah.

‘Sasuke.. Berarti ada hubungannya dengan Neji juga!’( Saat ini yang ada di otak Tenten cuma Neji).

“A..apa aku boleh ikut juga?”

“Boleh saja! Kebetulan aku juga diperintahkan untuk membawa beberapa Genin yang tersisa!”

Ketika sampai, di ruangan Tsunade-sama sudah ada Ino, Hinata dan beberapa orang ninja medis.

“Baiklah, tugas kalian adalah mencari dan merawat shinobi-shinobi yang kukirim untuk mengejar Sasuke!! Mereka adalah; Nara Shikamaru, Uzumaki Naruto, Akimichi Chouji, Inuzuka Kiba, dan Hyuuga Neji.” Tsunade mulai memberi komando.

“Lakukan pengejaran ke arah Otogakure” Ia melanjutkan.

“Sekarang!!”

Sesuai dengan komando sang Hokage, ninja-ninja itu langsung melesat pergi.

Di tengah hutan, cukup jauh dari Konohagakure

“Hinata! Bagaimana?” Kunoichi dari klan Yamanaka mulai merasa cemas karena sejak tadi mereka belum menemukan satu orang pun.

“A.. ada, Akimichi Chouji… Dan..,dan.. Neji-niisan!” Sang pewaris Souke Hyuuga mulai angkat bicara karena sejak tadi ia diam,mencoba berkonsentrasi dengan Byakugannya.

Mendengar nama Neji, Tenten langsung melontarkan pertanyaan kepada sang Heiress.

“Dimana?!”

STAAKK!!

Mereka berhenti tepat di depan Chouji yang sudah tak sadarkan diri. Melihat keadaan shinobi yang hobi makan keripik kentang itu, para ninja medis langsung bertindak. Sementara itu, Tenten…

“Hinata?!” Sang Weapon Mistress kembali menagih jawaban yang ia minta kepada anak pertama ketua klan Hyuuga sekarang.

“Ngg…, di, di arah barat laut sebelah timur. Lukanya cukup parah, banyak terdapat pendarahan.”

“Baiklah, kalau begitu aku duluan ke sana!” Dengan tergesa-gesa Tenten mengambil beberapa gullungan perban.”Tenten-san, nanti kami akan kirimkan beberapa ninja medis ke sana!” Ninja medis berambut pink itu menghampiri Tenten.

Tenten hanya menjawabnya dengan anggukan singkat.

STAAK!!

Tenten menapakan kakinya di tengah-tengah lautan darah yang tak lain adalah darah Neji ketika bertarung dengan Kidoumaru. Tenten mengmati darah yang ada di dekat kakinya dan melihat genangan-genangan darah lainnya di depannya. Sebenarnya, ia tak begitu mengerti petunjuk yang di berikan Hinata tadi, karena itu ia memutuskan untuk mengikuti jejak darah itu.

Selama mengikuti darah-darah itu ia banyak menemukan banyak senjata asing yang bentuknya seperti kunai dan anak panah, dan tak lama kemudian ia mulai dapat mencium bau Neji. Berikut pertanyaannya; Mengapa Tenten sampai bisa tau bau Neji padahal penciumannya tak setajam Kiba? Tentu saja karena Tenten adalah stalker setia Neji yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, bahkan ia sampai tau bahwa merek deodorant yang di pakai oleh Neji adalah Rexona for Men.

‘Neji.., tunggu aku!!’

Setelah itu barulah sang kunoichi menemukan sesosok Hyuuga Jenius tengah terkulai lemah tak berdaya dengan sehelai bulu burung di tangan kanannya.

“Neji!!” Reflek ia langsung berlari ke arah laki-laki yang sudah lama di sukainya itu.

Menyadari bahwa Neji mengalami banyak pendarahan seperti yang di katakan Hinata, Tenten langsung meraih perban yang tadi ia bawa. Ia berniat menghentikan pendarahan Neji untuk sementara, karena itu ia mencoba membuka baju Neji dengan perlahan tapi pasti.-Blushing-.

‘Gilee…, ni cowok badannya menggoda iman banget sich..!!’ Pikirnya, karena tadi ia juga sempat berperang dengan inner nya sendiri lantaran takut imannya goyah( Weqs?!). Tetap saja ia tak bisa berhenti merasa ketakutan dan khawatir melihat begitu banyak darah sang Bunke Hyuuga yang telah keluar. Ia pun mencoba membalut perban itu sebisanya sambil mencoba mengingat-ingat pelajaran medis sewaktu di akademi dulu.

Sesekali Tenten mencoba merasakan detak jantung Neji.’Sudah mulai melemah…’

Tenten menidurkan neji di pangkuannya dengan lembut.”Neji…, Neji…?”

Selama menunggu tim medis kadang ia mencoba membangunkan Neji. Sebenarnya ia hanya ingin menghapus pikiran di benaknya. Pikiran jika Neji tak akan bangun lagi… Namun, tetap saja entah kenapa di dalam otaknya malah berkali-kali terbayang ketika ternyata Neji tak membuka matanya lagi, ketika ia tak bisa melihat wajah tenangnya lagi, dan ketika ia tak bisa mendengar kata-kata dinginnya lagi… Dan pada akhirnya ia tak bisa lagi menahan air mata yang telah menggenang di mata coklatnya sejak tadi.

Dan pada akhinya semuanya tertumpahkan.

Setitik air mata turun dan mendarat di wajah neji. Dan kenyataan pun berkata lain.

Perlahan Neji membuka matanya, namun pandangannya masih buram.

‘Apa…? Siapa…?’

Sekilas ia melihat sesosok kunoichi yang ia kenal.

‘Tenten ada apa? Kenapa dia ada disini…? Kenapa dia menangis? Apa karena aku? Apa aku begitu berharga untuknya?...’ Neji terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri tanpa bisa langsung menanyakannya kepada Tenten.

Tiba-tiba saat itu juga sang Tensai Hyuuga merasakan kesakitan yang amat sangat pada luka-lukanya.

“AARRGH!!”

“Neji?! A.., ada apa?” Tenten yang menyadari bahwa Neji sudah sadar dan tengah mengerang keskitan langsung menghapus air matanya. Sementara itu Neji masih mengerang sambil memegangi luka di perutnya dan meronta-ronta.

“Neji..! bertahanlah sedikit lagi!!” Sang weapon mistress mencoba menenangkan laki-laki itu dan memeluknya dengan erat. Dan pada akhirnya Neji kembali tenang dan jatuh pingsan…

“Ketemu!! Hyuuga Neji!!”. Salah seorang dari pasukan ninja medis memberikan komando untuk berhenti, dan saat itu juga Tenten telah selesai membalut luka Neji.

“Akh… Akhirnya kalian datang juga!!” Tenten menarik nafas lega.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya ninja medis yang sama yang kelihatannya adalah ketua dari pasukan itu.

“Dia mengalami banyak pendarahan. Tadi aku sudah mencoba menghentikan pendarahannya untuk sementara. Sekarang lebih baik cepat bawa dia ke rumah sakit!” Tenten menjawabnya tanpa banyak basa-basi.

Dan dengan sigap para ninja medis itu membawa Neji kembali ke desa.

‘Neji…, bertahanlah…’

Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah sakit, disana sudah ada Shizune dengan ninja medis lainnya. “Akimichi Chouji sedang di tangani oleh Tsunade-sama, anak ini biar aku yang tangani!!” Ia berseru kepada pasukan ninja medis yang membawa Neji sejak tadi.

Tenten mencoba memberitaukan apa yang terjadi tadi.”A…, anu, tadi Neji sempat meronta sepertinya pendarahan pada perutnya sudah sangat parah…”

“Baiklah kalau begitu. Kalian, cepat bawa anak ini ke ruang operasi!!” Shizune kembali memberikan komando. Selanjutnya ia berlari mengikuti para ninja medis yang membawa Neji.

“Ma..,maaf, apa aku bisa menunggu sampai operasinya selesai?” Otomatis pertanyaan kunoichi itu menghentikan Shizune. Tenten memandangnya penuh harap.

“Sepertinya akan berlangsung lama, lebih baik kau pulang saja.” Sesaat ninja medis yang ada di bawah Tsunade itu memandang Tenten dan tersenyum kecil lalu ia menyodorkan pelindung kepala Neji yang sudah berlumuran darah sehingga lambang konoha-nya tak begitu jelas kepada permpuan yang menundukan kepala didepannya itu.

“Bisakah kau membersihkan ini dan memperbaikinya untuk teman lelakimu itu?”

“Akh…, i.., iya, baiklah!” Ia pun meraih benda itu dari tangan Shizune. Perempuan berambut hitam itu memberikan senyum singkat kepada Tenten dan kemudian pergi.

Di apartemen Tenten…

Sang pemilik apartemen sederhana itu melangkah masuk dengan gontai. Langsung menuju dapur yang ukurannya tak begitu besar tapi cukup untuk ukurannya. Ia langsung menuju tempat dimana ia biasa mencuci piring dan mulai membersihkan lambang konoha pada ikat kepala yang dititipkan Shizune padanya tadi. Ia mengusap benda itu dengan lembut.

‘Neji…, apa dia baik-baik saja ya?...’

Pikiran-pikiran negatif mulai memasuki pikirannya. Sekuat tenaga ia berusaha mengubah pikiran-pikiran negatif itu menjadi pikiran yang positif.

“Haha.., apa sih yang kupikirkan, Neji itu seorang Hyuuga! Shinobi yang kuat, tidak mungkin mati begitu saja kan!” Lagi-lagi Tenten berusaha menghibur dirinya sendiri dengan cara berbicara pada dirinya sendiri.

“…” Ia terdiam. Lagi. Walaupun begitu ia tetap tak bisa membuang pikiran negatif itu.

Ia melangkah lagi, kali ini ke kamarnya ia duduk di pinggir tempat tidurnya sambil mencoba mengusir rasa gelisah di dalam hatinya.

Pagi yang cerah. Orang-orang kelihatan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Tenten membuka lemarinya, diraihnya baju atasan biru dengan gaya china dan celana selutut coklat. Di depan kaca ia kembali menata rambutnya dengan gaya cepol dua seperti biasa. Tadi ia sudah menerima telepon dari rumah sakit, katanya, operasi Neji sukses. Ia senang bukan main. Karena itu dia juga langsung mengabari Hinata tentang berita itu. Gadis pemalu itu hanya menjawab dengan, “Be.., benarkah? Kalau begitu aku harus segera memberi tahu Otou-sama.” Entah karena memang ia terlalu pemalu atau ia tak begitu perduli tentang Neji.

Tenten mulai menelusuri jalan menuju rumah sakit. Pagi itu begitu cerah. Gadis yang baru berumur empat belas tahun itu sempat mampir ke toko bunga Yamanaka. Ia memilih bunga berwarna lavender. Sekilas, warnanya terlihat dingin namun sebenarnya lembut. ‘Hihi, seperti Neji…’ Batinnya.

Di rumah sakit Konoha…

“Ngg.., Hyuuga Neji ya?” Perawat itu mulai membuka-buka bukunya dengan seksama. Didepannya terlihat si rambut panda memperhatikan perawat itu.

“Akh.., ini dia! Dia ada di kamar nomor 38 di lorong B.” Perawat itu kembali menatap sang kunoichi sambil tersenyum, ia pun membalasnya dengan senyum lagi dan anggukan.

“Terima kasih!” Gadis itu langsung bergegas ke kamar yang di tujunya.

‘Fuuh… Tarik nafas…’

GREEK…

Pintu kamar pun terbuka, dan pemandangan yang ia lihat adalah Shizune dengan beberapa ninja medis lainnya kelihatan baru selesai memeriksa Neji.

Mereka tengah membereskan peralatan dan berjalan menuju pintu.

“Ah, Tenten-chan mau menjenguk ya? Sayang sekali, Neji masih tidur, mungkin kelelahan karena operasi kemarin.” Shizune tersenyum lembut.

“Ti…, tidak apa-apa kok. Aku Cuma mau menaruh bunga ini!” Tenten membalas senyumannya.

“Baiklah! Kalau begitu ku tinggal dulu ya!” Wanita lembut itu melangkah keluar dari kamar di ikuti oleh anak buahnya.

Tenten pun mendekati tempat tidur di mana Neji berbaring. Rambut laki-laki itu tergerai begitu saja, di dahinya terlilit perban yang menutupi lambang “Juuin”-nya. Ia hanya memakai kaos tipis berwarna putih sehingga perban-perban yang menutup luka-lukanya sedikit terlihat. Tenten memasukan bunga yang ia bawa dengan perlahan ke dalam vas bunga yang sudah tersedia. Lalu ia duduk di bangku yang tepat berada di samping tempat tidur Neji. Mengamati wajah Neji yang sedang tidur.-Blushing-.

‘Lutunah…’ Itulah pikiran pertama yang muncul di benaknya.

‘Ikh…, imut banget sich…!! Mana tahan…!!’ Tenten mulai histeris sendiri di dalam hati. Ketika Tenten sedang enak-enak berkhayal, tiba-tiba rasa mengantuk yang amat sangat besar menyerang dirinya mungkin karena malamnya dia memang tidak tidur lantaran mikirin Neji, alhasil, ia pun tertidur dengan sukses dengan tangan yang terlipat sebagai bantal di pinggir tempat tidur Neji, tepatnya di dekat kepala Neji.

Beberap saat setelah Tenten tertidur, Neji malah terbangun karena mendengar suara dengkuran. Ia pun bangkit ke dalam posisi duduk dan akhirnya menyadari siapa yang tengah tertidur di sebelahnya.

‘Tenten? Sedang apa dia disini? Bukannya seharusnya dia berlatih dengan Gai sensei dan Lee?’ Otak jenius Neji mulai berpikir dengan keras.

‘Hmm, mungkin dia bermaksud menjengukku. Apa aku tidur terlalu lama? Baiklah, ku bangunkan saja dia!’ Neji bermaksud membangunkannya tapi…, sesuatu menghentikannya. Di kamar itu hanya ada dia dan gadis sepantarannya yang tertidur.

“…” -Blushing-

‘ARRGH!! Tidak Neji!! Jauhkan pikiran kotor dan cepat bangunkan anak ini!!’ Neji mulai berbicara kepada inner-nya sendiri. Sepertinya otak jenius Neji sudah sedikit di cemari oleh Naruto.

Setelah berhasil menenangkan diri, Neji kembali melanjutkan urusannya dengan Tenten.

“Woi, Tenten!!” Tidak berhasil.

“TENTEN!!” Masih belum.

“TENTEN….!!” Belum berhasil juga, padahal suara Neji sudah seperti suara klakson di jalan raya.

“PANDAAA!!” Suara Neji sampai menggema ke seluruh penjuru rumah sakit, dan alhasil semua pasien yang ada langsung kejang-kejang. Tapi.., maaf anda belum beruntung…

Neji pun mulai frustasi. Akhinya ia pun menggunakan cara terakhir yang biasanya berhasil jika di pakai untuk membangunkan Lee.

“Sayank…, bangun donk..” JDAAK!! Kepala Tenten langsung menghantam dagu Neji.

“Ji, tadi siapa yang bilang sayang-sayang?” Tenten bertanya dengan penuh harap, sambil tengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang lain selain Neji.

“Setan kali!!” Neji membalasnya dengan ketus + dingin denga tangannya memegang dagunya yang dihantam oleh Tenten.

“Cih!!” -Cemberut-

“Sudahlah! Sedang apa kau disini?”

“Ya menjengukmu!! Memangnya kau tidak mau di jenguk?!” Masih cemberut.

“Jangan cemberut, bisa-bisa kau tambah jelek.” Neji membalas dengan tenang. Dan sebelum Tenten sempat protes, laki-laki dingin itu kembali melanjutkan, “ Lalu apa?”.

“Eh? Apanya?”

“Yang mau kau katakan. Masa’ sudah lupa?”

“EH?! I.., itu…” -Blushing-.

“ Waktu itu kan kau tidak mau mengatakannya. Makanya sekarang cepat katakan!” Kata-kata Neji membuat jantung Tenten berdebar tak keruan, Neji juga. Kenapa? Karena sebenarnya Neji sudah memperkirakan apa yang mau Tenten katakan, Kalau salah malu-maluin kan?

“I.., itu.., tidak begitu penting kok..” Tenten menundukan kepalanya. Tapi Neji menatap matanya dalam-dalam.

“Tapi setelah ini aku langsung pulang ya..?” Neji hanya diam seribu bahasa.

“A.., aku se, sejak dulu selalu…” Tatapan Neji malah semakin dalam.

“Menyukaimu…” Dengan suara yang amat sangat kecil, hampir berbisik, dan ternyata… BINGGO!! Tebakan Neji benar!! Tapi Neji malah ikut-ikutan blushing.

Sementara itu sang kunoichi sedang bersusah payah menahan cairan asin yang meleleh dari matanya. Tenten, seorang gadis yang tomboy dan amat susah untuk merasakan yang namanya menyukai seseorang. Sekalinya sudah merasakan cinta pertama ia takkan pernah bisa melupakannya, contohnya sekarang, dadanya terasa amat sangat sesak seperti di tusuk oleh ribuan kunai yang di asahnya sendiri sehingga menjadi amat tajam seperti perasaannya untuk Neji yang selalu di jaganya sampai saat ini. Sekarang ia menyesal sudah menyukai seorang Hyuuga Neji, seorang Hyuuga jenius. Kebetulan saja ia bisa dekat dengannya karena mereka ditempatkan pada tim yang sama dan karena Neji memilihnya sebagai partner berlatihnya. Semuanya hanya kebetulan.

Dan pada saat itu juga Tenten langsung berbalik.

“Sudah ya, aku pulang!! Yang tadi bukan apa-apa kok, tidak perlu di tanggapi kali ini cairan asin itu benar-benar keluar dan mengelus pipinya.

‘Aku menyesal sudah menyukai mu…’

Belum sempat Tenten melang kah, Neji sudah menggenggam pergelangan tangannya.

“Aku belum memberikan jawaban.”

“Tidak perlu!”

“Aku…” Detik selanjutnya Tenten langsung menarik lengannya dan menutup kedua telinganya.

“Neji…, tolong.., sudah cukup… jangan sakiti aku lebih dari ini…” Neji bisa melihat pundaknya yang bergetar dan air matanya yang menetes jatuh, karena itu ia mengurungkan niatnya untuk berbicara.

Dan tanpa di duga, tanpa bangkit dari tempat tidur, Neji malah menarik Tenten ke pelukannya. Otomatis Tenten kaget, selain ia tak punya tenaga ia juga tidak ingin melepaskan diri dari pelukan itu. Ia bisa mencium bau Neji dengan sangat jelas, bau yang ia sukai. Sementara itu, Neji mengelus rambut coklat Tenten dengan lembut.

“Ne.., neji…??”

“Kalau ini jawabannya, apa menurutmu aku masih menyakitimu?”

“Jangan lepaskan aku…” Itulah jawaban Tenten.

“Tapi aku pegal.., dan lagi aku juga lapar…” Benar juga.., sejak pagi ia belum makan.

“Ikh! Kau ini tidak romantis sama sekali!!” Tenten langsung melepaskan diri.

“Sudahlah!! Aku mau pulang!!”

“Begitu? Kalau begitu hati-hati di jalan ya, say” Mendengar ucapan Neji, Tenten langsung berbalik.

“Kau bilang apa tadi?” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Sayang. Kenapa lagi? Tidak boleh? Perlu ku ganti jadi honey atau darling?” Neji mengeluarkan senyum licik nya.

Tenten membalasnya dengan senyum licik lainnya.

“Tidak perlu kok yank”

end

tensaisbaka FIC ( when you cry )

When You’re Cry

All Neji’s POV

Lagi-lagi anak itu...

“Oii..., Neji...!! Apa kau sudah menunggu lama??”

Entah kenapa dia selalu bisa teriak-teriak seperti itu dengan santai walaupun aku tak pernah menjawabnya dan lagi pula aku sudah menunggu disini sejak 45 menit yang lalu. Daripada membuang waktu lebih banyak lagi, aku mulai mengambil posisi. Tanpa sepatah kata pun. Latihan rutin ini selalu kami sejak pagi. Entah sejak kapan Lee dan Gai-sensei tidak berlatih bersama kami lagi dan entah sejak kapan kami mulai terbiasa berlatih berdua seperti ini.

“Eh..?? Sudah mau mulai??”

“Tentu saja. Memangnya kau pikir sudah jam berapa ini? Sudah terlalu telat untuk latihan pagi.” Akhirnya aku bicara.

Kami mulai bertarung, menyerang satu sama lain. Walaupun aku tau hasilnya akan sama saja dengan yang kemarin-kemarin. Aku selalu keluar sebagai pemenang.

Aku sama sekali tak tau apa yang ada di pikiran panda betina itu dan apapun yang berhubungan dengannya. Yang ku tau hanya dia selalu menjadi gadis yang bebas. Tapi ia pernah menentangnya dengan berkata bahwa bebas itu berarti kesepian.

Ketika pertama kali datang ke apartemennya aku sangat kaget ketika tau bahwa ia tinggal sendirian disana. Aku sendiri juga tinggal sendirian, tapi apa perempuan seperti itu bisa tinggal sendirian saja? Kupikir, semua perempuan itu sama saja. Manja dan selalu mengandalkan orang lain seperti kunoichi lainnya. Tapi kenyataannya ia bisa hidup sendirian seperti itu.

Ia berbeda dengan Hinata-sama yang sangat pemalu dan pendiam. Ia berbeda dengan sakura yang pemarah dan pencari perhatian. Ia berbeda dengan Ino yang manja dan centil. Ia berbeda dengan Temari yang jutek dan cerewet. Ia selalu berbeda dengan kunoichi-kunoichi lainnya. Ia selalu ceria dan periang seakan tak ada apapun yang membebaninya.

Akulah yang paling mengenalnya. Tapi aku tak pernah melihatnya menangis. Ia tak pernah menjadi perempuan yang lemah. Ia selalu terlihat kuat. Terakhir kali aku melihatnya menangis hanya ketika aku memarahinya dan berkata bahwa dia itu lemah saat kami berlatih menjelang ujian chuunin. Aku sangat ingat waktu itu, ketika itu ia menangis di pundak Lee, dan entah kenapa aku jengkel melihatnya. Dan setelah itu ia tak pernah terlihat menangis lagi. Kadang aku bertanya-tanya jika aku mati, apa dia akan menangis untukku? Sejujurnya, aku mengharapkannya.

Sial... Walaupun aku berhasil mengalahkan manusia laba-laba itu, pada akhirnya aku juga... Ugh... kalau terus begini.. aku juga tidak bisa terus lagi, kembali ke desa juga tidak mungkin... padahal sudah sampai sini... percuma saja...

KRSAA..K!!

“Si...siapa itu...??” Aku mencoba mengeluarkan kata-kata dengan sisa-sisa tenagaku.

“NEJI...!!” Suara perempuan? Tapi siapa? Sial... melihat pun aku sudah...

Aku bisa merasakan cairan-cairan hangat berjatuhan diatas wajahku. Apa dia menangis? Apa dia Tenten? Aku bisa mengenalnya dari suaranya yang sedari tadi terus memanggil-manggil namaku. Apa dia benar-benar menangis untukku?...

...

...

...

Hah...? Dimana ini? Aku mulai membuka mataku perlahan.

Rumah sakit... Mungkin seseorang membawaku kesini... Hn? Apa ini? Tenten? Sedang apa dia disini?

“Oii... Kenapa kau tidur di sini??” Tidak ada jawaban.

“Tenten, cepat bangun dan lepaskan tanganku!!” Akhirnya aku melepaskan lenganku dengan paksa. Sepertinya dia sudah bangun...

“Akh, eh..., Neji, kau sudah sadar??” Pertanyaan yang aneh. Kalau aku belum sadar kenapa aku bisa bertatapan mata dengannya?

“Syukurlah...” Aku benar-benar tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat sekarang. Ternyata dia benar-benar menangis. Padahal, mati pun tidak.

“Eh, oi... Tidak perlu menangis kan...?” Rasanya sekarang ini keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku... Oh, Kami-sama..., dia benar-benar menangis...

“Ku..., kupikir..., Neji... Neji...” Dia mulai sesenggukan. Perempuan kalau sedang menangis memang semanis ini ya...??-Blushing-

“Neji..., kau benar-benar tidak apa-apa kan...??”

“Yah..., begitulah, untung saja panah itu tidak menembus jantungku...” Aku mencoba untuk tetap tenang.

“Su... sudah, jangan bicara seperti itu lagi!! Tadi aku bermimpi, Neji tidak bersamaku lagi...” Air matanya mengalir dengan deras, aku tidak tau harus bicara apa sekarang ini... Jadi aku memilih..., untuk menariknya ke dalam pelukanku...

“Baka... Yang seperti itu tidak mungkin terjadi kan...??” Aku mencoba berbicara selembut mungkin. Dan amat sangat tak di sangka, ternyata Tenten membalas pelukanku... Kalau sejak tadi aku tidak mengalihkan pandangan pasti aku sudah jatuh pingsan seperti Hinata-sama.

“Neji-kun..., arigato...” Ugh..., aku bisa merasakan wajahnya di dadaku, dan yang bisa kulakukan hanya mempererat pelukanku. Sudah cukup, Neji... Batasmu hanya sampai sini...(Inner Neji)...

Aku bisa mendengar suara langkah kaki seseorang mendekati kamar ini..., tapi Tenten terlalu sayang untuk di lepas, jadi aku memutuskan untuk tetap memeluknya. Dan...

GREEK...

Di balik pintu adaShizune dengan beberapa ninja perawat lainnya. Mereka merusak momen bahagiaku...

“Wah, wah... Neji-san, Siang bolong begini sudah mesra ya...” Saat itu juga Tenten melepaskan diri dari pelukanku. Ukh... dasar Shizune sialaan...

“Shi..., Shizune-san!! Kalau masuk ketuk dulu dong!!” Lagi-lagi dia blushing..., manisnya...

“Yaah... Aku tau kalian tidak ingin diganggu saat ini... Tapi aku harus memeriksa neji-san dulu sekarang.” Gadis yang merupakan murid Tsunade-sama itu mulai memeriksa luka ku.

“...” Sejak tadi, aku tidak melontarkan kata-kata sama sekali. Sementara itu entah kenapa Tenten terus menatapku dengan tatapan yang aneh dan dengan blushing tentunya.-Jawabannya adalah tenteu saja karena saat di periksa baju Neji di buka dan ternyata... Badannya muscular begete bowwh!!(Author mulai mikir yang aneh-aneh)-

“Shizune-san, bagaimana...?” Akirnya dia mengalihkan pandangannya.

“Hmm...” Dia pasti merencanakan sesuatu... Aku bisa membaca pikiranya...

“Yaah..., bagaimana ya..? Habisnya, sebenarnya lukanya terlalu parah dan mungkin besok masih harus di oprasi lagi... Tapi kalau tubuhnya tidak kuat menahannya, bisa saja nyawanya terancam...” Huh... Akting yang jelek Shizune-san...

“A...apa?! Benarkah?...” Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Tidak ku sangka dia tertipu semudah itu...

“Shizune-san, hentikan candaan mu itu. Tidak lucu, lagipula aktingmu jelek.” Akhirnya aku langsung bertindak, ketimbang anak itu menangis lagi...

“Hehe..., ketahuan yah...? Ternyata sulit juga ya, berbohong di depan seorang Hyuuga Neji. Gomen ne, Tenten-san? Sebenarnya Neji-san baik-baik saja kok, dia hanya butuh sedikit pemulihan...”

“Ehh? Jadi yang tadi itu tidak serius kan?” Wajahnya mulai terlihat cerah lagi.

“Begitulah... Ya sudah kalau begitu, tadi Lee-san juga baru datang. Aku harus segera memeriksanya.” Ninja-ninja medis itu langsung melesat pergi. Kalau Lee sudah pulang berarti...

“Tenten, apa kau tidak menjenguk Lee?”

“Tidak ah, aku menemani Neji saja, lagipula dia pasti sudah di sambut oleh Gai-sensei.” Fufufu..., ternyata dia lebih memilih ku di bandingkan Lee...-Neji mulai keliatan autis-

“...” Firasatku mulai tidak enak.

BRAAAKH...!!

“Uwoookh...!! Neji-kun!! Tenten-chan!! Aku sudah dengar dari Shizune-san...!! Jadi begini ya, cinta masa muda...!!” Benar saja, walaupun di penuhi perban, dia tetap bersemangat.

“Lalu... Mau apa kau ke sini?” Tenang... aku harus tetap menjaga ke-cool-an ku(terutama di depan Tenten)...

“Ngg... Mau melihat kalian. Eh? Sudah selesai ya...? Kalau begitu seharusnya aku datang lebih cepat...” Dan dengan itu pun akhirnya dia pun pergi dengan ekspresi kecewa. Aku yakin setelah ini Gai-sensei akan bertanya macam-macam kepadanya. Gejimayu baka... –Sweatdroped-

“Huuh!! Dasar Lee bodoh!!”

“Hn”

“Neji-kun...”

“Hn?” Ini dia yang kutunggu-tunggu...-Neji ngarep-

“Neji..., kau benar-benar tidak apa-apa kan?” Cih...

“Yah... Tentu saja. Ada yang ingin kau katakan lagi kan? Aku bisa membacanya dari wajahmu.” Aku tetap berusaha bersikap se-tenang mungkin.

“...”-Tenten sweatdroped + blushing- Imutnya...

“Ya sudah, biar aku saja...” Neji..., inilah saatnya...

“AISHITERU!!” WTF?!

“Heh?” Tenang Neji, tenang... –Padahal jantung dah mau nyembur dari mulut...-

“Neji, aku tau kau mendengarku! Jangan harap aku mau mengulanginya!” Ya, aku memang mendengarnya, tapi aku tidak percaya bahwa benar-benar dia yang mengatakannya.

“Ya, aku tau...”

“Lalu?”

“...”

“...” Lho? Ada apa ini? Apa yang terjadi?

Dan ternyata setelah kesadaran ku kembali, aku menciumnya!! Di bibir pula!! Tidakk...!! Neji!! Apa yang kau lakukan?? Padahal aku sudah berjanji batas-ku hanya sampai memeluknya sajaa!! Kami-sama, maafkan aku...!! Tidaak...!! Aku sudah berbuet hina...!! Apa boleh buat, sudah terlanjur, dilanjutkan saja deh... Mubazir kalau di lepas... Tapi sudah terlepas tuh... Hieks...

“Neji...” OMG!! Dia blushing!! Maniesnya...

“I...,itu jawabannya!!” Akhirnya aku menemukan kata-kata yang pantas...

Dan selanjutnya dia malah kembali memelukku lagi. Aku hanya bisa tersenyum geli melihatnya. Dan ketika aku mengalihkan pandangan ku ke jendela, disana sudah ada beberapa makhluk(Naruto, Kiba, Shizune, Chouji, dan masih banyak lagi -Shikamaru lagi sibuk pacaran sama Temari-) yang jelas-jelas sedang mengintip dan di vonis setelah ini akan di rawat di rumah sakit Konoha selama 3 bulan...

JYUUKEEN...!!”

Dan benar saja, mereka langsung di bawa ke bagian darurat. Dan untung saja aku tidak lupa masih ada Tenten di sini.

“Tenten.”

“Eh, Ya?”

“Aishiteru.”

Owari

tensaisbaka FIC ( when you smile )

When You’re Smile

All Tenten’s POV

“Sudahlah, hari ini sampai sini saja. Sepertinya kau harus menambah waktu latihanmu. Kalau seperti ini terus, kau tidak akan jadi kunoichi yang kuat.” Seperti biasa, di akhir waktu latihan, pasti laki-laki dingin itu berbicara seperti itu sambil melangkah pergi.

Dasar Hyuuga...

Sombong dan dingin. Itulah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Hanya dengan mengatakan dua hal itu semua orang pasti tau bahwa dia itu adalah seorang Hyuuga Neji. Aku sudah lama berada dalam satu tim dengannya, jadi aku sangat tau seperti apa sikapnya. Arogan, pendiam, dingin, tak berperasaan, tidak memiliki ekspresi, dan jenius.

Walaupun begitu, aku selalu iri kepadanya. Dia seorang Hyuuga. Di tambah lagi dia jenius dan kuat. Dalam latihan sehari-hari seperti ini dialah yang selalu keluar sebagai pemenang. Lee pun tidak bisa menandinginya. Namanya dikenal oleh begitu banyak orang. Dan lagi dia terkenal di kalangan permpuan, walaupun masih kalah di bandingkan si Uchiha itu. Walaupun berasal dari kalangan Hyuuga bunke, ia kelihatan lebih di segani daripada sepupunya sendiri yang berasal dari souke –author sedang menyindir Hinata yang teramat sangat di bencinya-.

Tidak terasa, ternyata aku sudah berada di depan pintu apartemenku. Bukan apartemen mewah. Hanya apartemen kecil yang sederhana. Berbeda sekali dengan rumah Neji yang sangat mewah.

Neji pernah berkata kepadaku bahwa aku ini gadis yang bebas. Bebas? Apa itu bebas? Bebas bagiku hanyalah kesepian. Neji selalu meremehkanku. Dia bilang tidak mungkin aku bisa tinggal sendirian saja di sini. Tapi buktinya, aku bisa bertahan sampai sekarang. Walaupun tanpa orang tua dan saudara. Sekarang, sudah ada Lee yang kuanggap sebagai saudara ku sendiri dan Gai-sensei yang seperti orang tuaku sendiri. Tapi aku tidak tau bagiku neji itu apa. Apakah dia bukan siapa-siapa bagiku? Atau mungkin aku menganggapnya lebih dari Lee ataupun Gai-sensei?...

“...” Lagi-lagi begini... Setelah berpikir tentang hal itu aku selalu berakhi begini... Menangis-di kamar-sendiri... Rasanya aku benar-benar menyesal ketika sadar bahwa sebenarnya aku menyukainya. Di tambah lagi ketika aku menyadari bahwa tidak mungkin dia menyukaiku yang begitu bertolak belakang dengannya. Aku tidak tau kenapa dan sejak kapan aku menyukainya. Padahal melihatnya tersenyum lembut kepada ku. Yang bisa kulihat hanya senyum yang sinis ketika dia mengalahkanku. Dia juga tidak pernah memujiku. Yah.., wajar saja, aku tak pernah melakukan sesuatu dengan sempurna.

Tapi jika aku melakukan semuanya dengan baik, apakah dia akan tersenyum lembut kepadaku? Aku tidak ingin terlalu mengharapkannya untuk mengatakan “Aishiteru” kepadaku karena itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lembut padaku...

Sial... Ternyata memang tidak bisa...

Padahal kupikir bisa mengalahkan orang Suna itu dengan mudah... Percuma saja latihan habis-habisan kalau hasilnya seperti ini...

Habis sudah...

Ngg?? Rasanya ada seseorang yang menopang tubuhku... Neji? Bukan... itu Lee... Huh, tidak mungkin Neji turun dan menolongku... Baginya tidak ada gunanya menolong orang lemah sepertiku...

Kalau terus begini, selamanyapun Neji tidak akan mengakuiku...

Nggh... badanku sakit semua...

Begitu tersadar aku sudah ada di ruang perawatan. Dengan penuh perban tentunya. Dan disampingku... ada Neji?? Haah..., dia pasti datang untuk menceramahiku lagi. Aku yakin dia tidak memiliki rasa khawatir untukku. Lagipula ia pasti di paksa oleh Gai-sensei atau Lee untuk menjagaku di sini...

“Hei.., Neji? Ternyata aku memang kalah ya...??”

“Tentu saja, aku kan sudah bilang kau harus latihan lebih serius lagi!!”

Apa siih? Aku kan sudah mencoba seserius mungkin!!

“Kalau begini, kau hanya terlihat seperti kunoichi murahan yang lemah seperti Hinata-sama!!”

Aku tidak lemah!! Dasar sombong!!

Aku hanya diam seribu bahasa mungkin ketika dia mulai menceramahiku dengan kata-kata tajamnya. Sebenarnya saat itu juga aku ingin menangis, tapi jika aku benar-benar menangis di depannya, pasti dia akan menganggapku ‘gadis lemah yang cengeng’. Tapi pada akhirnya, tetap saja aku menangis ketika Hyuuga dingin itu keluar dari ruang perawatan. Aku tau dia sudah mengalahkan Hinata yang dari keluarga souke, tapi tidak perlu sesombong itu kan? Apa dia pikir aku tidak bisa menjadi sekuat Tsunade-sama? Lihat saja, Hyuuga!! Aku akan membuktikannya secepat mungkin padamu!!

“Haa..h, DASAR NEJI MENYEBALKAN!!” Rasanya saat ini semua orang di Konohagakure bisa mendengar suaraku...

Bodoh!!, bodoh!! Sudah bilang begitu, tapi tetap saja memanggilku untuk latihan!! Lagipula kalau di hitung-hitung sebulan ini dia terus menyuruhku untuk menemaninya latihan untuk ujian chunin babak ke tiga besok.

Hee?? Dia sudah disini rupanya?? Kupikir aku datang lebih awal... Haah... Lagi-lagi sedang bermeditasi...

“Oii..., Neji... Aku sudah disini...!!” Kalau tidak begini, dia tidak akan terbangun dari meditasinya.

“Hmm? Tenten? Datang lebih awal rupanya...” Ia mulai berdiri dari posisi meditasinya. Kalau melihatnya, entah kenapa semua rasa marahku kepadanya langsung hilang. Haah..., aku memang tidak bisa marah didepannya...

“Yaa..h.., kebetulan saja aku bangun lebih pagi dari biasanya... Sudahlah, ayo kita mulai saja sekarang!!” Aku mengeluarkan dua buah gulungan dari kantung di celanaku.

“Baiklah...”

“Kaiten!!” Lagi-lagi dia mengeluarkan jurus andalannya dan menghempaskan kunai-kunai ku... Kalau begini bagaimana aku bisa menyerangnya? Lagipula kami sudah lama sekali bertarung, cakraku sudah benar-benar terkuras habis!!

“Ugh..., sepertinya cakraku sudah habis...” Hmm? Rasanya aku mendengarnya menggumamkan sesuatu... Baiklah, satu serangan terakhir!!

“Hoi, Tent... Ugh!!” Gawat!! Ternyata dia menyuruhku selesai!! Kenapa juga kunaiku mengenai pundaknya!?

“Ne..., Neji, gomenasai!! Kupikir kau masih ingin melanjutkannya...” Aku mencoba mengambil kunai yang kulempar tadi.

“Huuh... Aku memang masih terlalu lemah... Sudahlah, ini bukan apa-apa...” Uuhh.. Lagi-lagi cuma senyum sinis... Yang kuinginkan itu senyum yang lembut tauk...!!

“Jangan bicara begitu!! Ayo ke rumahku!! Aku akan mengobati lukamu!!”

“Agh... baiklah...”

“Nah, tunggu saja di sini, aku akan mengambilkan obat dan perban untukmu.” Aku mempersilahkannya duduk di sofa di dalam ruangan apartemenku yang tentu saja tidak luas.

“Hmm? Apa ini?” Sesaat, aku mendengar suara Neji. Ya ampun... Lagi-lagi aku lupa dimana aku meletakkan buku ku. Memang bukan buku harian, tapi buku itu semua isinya adalah ungkapan perasaanku dan semua halamannya basah karena aku menulisnya sambil menangis... Semoga saja aku tidak meletakkannya sembarangan, apalagi kalau sampai di baca Neji... Habis sudah...

“Hei Neji, bisa tolong buka bajumu??”

“Akh.., eh... Baiklah...” Kenapa dia? Kenapa ekspresinya seperti itu?? Lagipula kenapa juga dia menatapku dengan tatapan aneh seperti itu??

“Ada apa? Kau tidak suka apartemenku?”

“Agh..., tidak, bukan apa-apa...” Tetap saja gerakannya aneh... Ya sudahlah, lebih baik aku cepat-cepat mengobatinya sebelum darahnya keluar lebih banyak lagi... Kalau di pikir-pikir aku ini cukup beruntung juga bisa melihat Neji telanjang dada begini... Apa boleh buat, lagi pula aku sudah biasa mengobatinya.

“Yak, sudah selesai!!”

“Ah..., ng..., arigato...” Ia mulai memakai bajunya. Tapi tetap saja sikapnya masih aneh. Kenapa sih dia?

“Oh ya, Tenten, besok pagi kita berlatih sebentar sebelum ujiannya dimulai... ya...?” Setelah itu ia langsung berbalik lagi dan meninggalkan apartemenku.

“Haah... Si Neji itu, apa dia tidak capek ya, berlatih terus? Ng?”

Lho? Lho? Ini kan buku ku!! Ternyata ada disini?!Ya ampun!! Jangan-jangan Neji membacanya?? Apa karena itu sikapnya jadi aneh?? Habis sudah... Sekarang Neji pasti menganggapku salah satu fangirl-nya yang aneh dan cengeng!! Habis sudah kalau benar begitu. Yaah..., semoga saja tidak...

Haah... Harus bagaimana nanti wajahku di depannya?? Ukh... kenapa dia sudah ada di sana siih...?? Baiklah... bersikap biasa saja seperti tidak ada apa-apa...

“Ooiii!! Neji!!”

“Ah, kau rupanya.” Bagus... harus ku teruskan seperti tadi...

“Ayo kita mulai sekarang!!”

“Hn. Karena waktu kita singkat sekarang, aku ingin kau melemparkan senjatamu dari segala arah. Aku tidak ingin si bodoh itu mengetahui blindspot-ku.” Baguslah, sikapnya juga sudah kembali seperti biasa.

“Baiklah, kumulai sekarang ya..!!”

“Kapanpun kau mau.”

Akhirnya ujian chunin selesai... Tapi aku benar-benar tidak percaya ini...

Neji... kalah...?? Apa dia bercanda?? Padahal Neji sudah menekan semua tenketsunya kan? Dari mana cakra sebanyak itu di perolehnya? Benar-benar tidak masuk akal... Anak itu benar-benar berbeda dibandingkan saat babak penyisihan kedua waktu itu... Yang lebih penting sekarang Neji...!!

“Hmm... Ruang perawatannya di sini kan??”

Ukh... masuk tidak ya...? Neji pasti sedang benar-benar hancur sekarang... Padahal dia sudah berlatih sekeras itu... Lagipula ini juga pertama kalinya dia dikalahkan oleh genin yang masih di bawahnya... Baiklah, sekarang tugasku adalah menghiburnya!!

“Hei, Ne..., ji...?”

“Ah... Tenten...”

Di..., dia... tersenyum?? I... ini... tidak mungkin... kawaii-nya...-blushing-...

“Eh... apa aku mengganggumu...??”

“Hmm, tidak...” Ah..., itu... Tanda kutukan yang ia ceritakan padaku waktu itu...

“Tadi sayang sekali ya..? Padahal kau benar-benar kelihatan hebat tadi.”

“Yaah.., mungkin itu karena aku terlalu meremehkannya atau mungkin memang karena aku masih lemah...”

“Ti..., tidak kok!! Kau benar-benar hebat!! Pasti itu hanya kebetulan saja dia bisa menang!!”

“Tenten..., arigato...” Ya ampun!! Dia tersenyum lagi...!!

“Hehehe...” Baiklah... aku juga mengeluarkan senyum andalanku!!

“Hn? Kau pakai lipgloss ya?” Apa?! Dia sadar??

“Eh? Hehe... Jarang-jarang kan? Aku cuma ingin mencobanya saja... Begini-begini aku kan juga perempuan... Warnanya jelek ya...?”

“Hmm... Tidak juga... Manis kok...” Ne..., Neji blushing?? Seorang Tenten sepertiku bisa membuatnya blushing??

“Eh? Ma... ngg??” Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip-adegan di sensor-padahal author sedang membayangkan yang aneh-aneh-

Tidaaaa..kk!! Sekarang bibirnya benar-benar menyentuh bibirku...!! Aku tidak percaya ini!! Apa selama ini aku sedang bermimpi?? Semoga saja bukan...

“Ne...Neji?” Akhirnya dia melepaskan bibirnya. Sayang sekali...(Tenten ngarep)

“Akh..., ma... maaf...”

“Eh... tidak apa-apa...” Tidak ada apa-apa apanya...!?

“Ngg..., soal buku yang kemarin... Sebenarnya aku membacanya, jadi, maafkan aku. Lalu, apa kau... benar benar menyukaiku...?”

Baiklah Tenten... Apa boleh buat, ini saatnya... Tarik nafas...

“... Neji!! Aishiteru!! Sebenarnya ini sudah lama sekali... Tapi tak berani kukatakan!!”

“Akh... Jadi kau..., benar... Kalau begitu aku juga..., aishiteru..., Tenten...”

“Eh...Neji...? A..., aku...”

“Ngg..., sepertinya, hari minggu nanti kita tidak perlu berlatih...”

“Eh? Neji? Apa maksudmu??”

“ Kau harus makan malam di rumahku...”

Himura Kyou FIc ( piggyback )

PIGGYBACK

Siang ini terasa sangat panjang. Langit terlihat sangat bersih, benar-benar bersih, tidak ada gumpalan kapas satu pun. Hanya satu bulatan emas menyilaukan menggantung di langit, membakar tiap butir pasir yang ada di gurun itu. Rasanya alas kaki yang dikenakan seperti akan segera meleleh saking panasnya setiap kali melangkah. Keringat pun telah menguap sebelum sempat menetes membasahi badan. Pasir yang berhamburan ditiup angin membuat mata perih dan mengganggu pernafasan.

Bagi shinobi, keadaan alam yang ganas seperti itu tidak akan menghentikan kegiatan mereka. Tujuh shinobi Konohagakure sedang dalam perjalan pulang menuju desa asalnya. Mereka telah sukses menyelesaikan misi penyelamatan seorang Kazekage dari tangan Akatsuki. Tidak terlalu sukses sebenarnya, karena satu shinobi Suna gugur dalam misi tersebut. Hal yang membuat Sakura masih murung selama perjalan ini.

Kemurungannya melambatkan kakinya untuk melangkah, membiarkan dirinya tertinggal di belakang rombongan. Namun ternyata, bukan dirinyalah yang paling lambat dalam rombongan tersebut. Jauh jauh di belakangnya, terdapat satu jounin berbaju hijau yang sedang kepayahan memapah satu jounin bermasker yang memang sedang tidak fit. Dengan tergopoh-gopoh keduanya berusaha berjalan secepatnya menyusul murid-muridnya.

“Sensei-tachi, kalian lambat sekali!!” Naruto sampai harus berteriak untuk memanggil kedua jounin yang terlihat seperti dua titik di garis horizon.

“Maaf Guy-kun, karena menggunakan sharingan, bahkan untuk berjalan pun aku…” sang jounin bermasker merasa tidak enak telah menghambat perjalanan mereka.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, yang penting kau tidak terluka parah” Sang jounin berbaju hijau bernama Guy itu tidak mengeluh dan tetap memapah rekannya dengan tenaga penuh.

“Tapi Guy-kun, kita semakin jauh dari rombongan…” Kakashi memandang jauh ke depan, sosok murid-murid mereka tampak semakin mengecil.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, yang penting mereka tidak meninggalkan kita” Guy tetap bersabar.

”Tapi Guy-kun, aku ingin menghibur Sakura yang masih sedih…” Kakashi tampak mengkhawatirkan muridnya.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, dia pasti sedang dihibur oleh yang lainnya di sana” Guy memicingkan matanya untuk melihat keadaan jauh di depan.

“Tapi Guy-kun, aku juga ingin membaca Icha Icha yang terbawa di dalam ransel Naruto..” Kakashi sudah tidak tahan ingin membaca ulang buku itu untuk yang kesepuluh kalinya.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, kau bisa membacanya saat kita menemukan oase untuk berteduh dan bermalam” Guy berusaha tetap sabar.

“Tapi Guy-kun, kalau malam kan sudah terlalu gelap untuk membaca” Kakashi terus merengek pada rekan yang sedang memapahnya.

“Tidak apa-apa Kakashi-kun, kau bisa pakai perapian sebagai penerangan” Guy berusaha menguatkan iman untuk menghadapi orang yang sedang dipapahnya.

“Tapi Guy-kun, aku—“ ucapan Kakashi terpotong oleh Guy yang matanya telah berkilat-kilat. Api semangat membara di sekujur tubuhnya, mengalahkan api matahari yang menyengat gurun itu. Kakashi menyesal telah merengek pada rekannya yang antik itu.

“OKEE!! AKU AKAN MEMBAWAMU LEBIH CEPAT!!” teriak Guy tanpa ada nada marah yang terselip di dalamnya. Ia menggeser ranselnya ke bagian depan dan segera mengayunkan badan Kakashi yang sedang tidak berdaya itu ke punggungnya. Kakashi tidak punya kekuatan untuk melawan perbuatan Guy tersebut. …memangnya perlu dilawan kah?

Dengan begitu Guy dapat berlari lebih cepat. Dalam sekejap kedua jounin itu melewati Sakura yang tadi berjalan di urutan kedua dari belakang. Sambil membenahi rambutnya yang berantakan karena tertiup oleh angin hasil lari kencang gurunya, Sakura hanya memandang mereka dengan tatapan kosong, ‘dua laki-laki dewasa gendong-gendongan…’ satu sweatdrop muncul di dahinya.

Guy terus berlari hingga dapat menyusul murid-muridnya yang lain. Keempat shinobi muda itu terkejut melihat dua sosok jounin yang mendekati mereka dengan kecepatan cahaya.

“Ahaha!!! Bahkan dalam keadaanku yang seperti ini kalian tidak akan bisa mengalahkan aku!!” Guy tertawa dengan memperlihatkan gigi-giginya yang putih berkilau, satu mata berkedip dan satu jempol teracung khas nice guy pose. Kakashi yang ada di punggungnya sudah hampir pingsan terpontang-panting. Dalam hitungan detik Guy telah jauh di depan mereka. Murid-muridnya terdiam seribu bahasa terhadap pemandangan kilat yang melewati mereka dalam sekejap barusan.

“Ooh!! Ini pasti termasuk bagian dari latihan!!” seorang Guy versi mini berteriak penuh semangat setelah melihat gurunya berlari menggendong Kakashi. Ia pun menggeser ranselnya ke depan dan membungkuk, memberikan punggungnya kepada rekannya yang bermata putih dari klan Hyuuga.

“Lee-kun, kau mau ku juuken?” pemuda itu marah sambil tetap berusaha menunjukkan sikap yang se-cool mungkin.

“Ooh!! Kalau kamu ga mau,” Lee tidak patah semangat dan menoleh kanan kirinya, “hei hei Naruto-kun!” ia kembali membungkuk, membelakangi Naruto. Naruto tidak sempat menjawab permintaan Lee. Tahu tahu dia sudah berada di punggung Lee yang sedang memasang kuda-kuda untuk berlari.

“Yosh! Semangat masa muda!! DASH!!!” badai pasir dadakan tercipta, membentuk jejak yang dibuat oleh kaki Lee, meninggalkan teman-temannya yang masih terpaku melihat déjà vu seorang berbaju hijau menggendong laki-laki.

“Whew, ga heran kalau Lee-kun jadi ikut-ikutan” terdengar suara Sakura tak jauh dari mereka yang ditinggal oleh manusia-manusia penuh energi itu. Akhirnya ia berhasil menyusul rombongan, yang ternyata telah tertinggal juga. Sakura berharap agar ia bisa tahan menghadapi keadaan ini.

“Maaf Neji-kun, Tenten-chan, aku harus menyusul mereka. Kakashi-sensei sedang terluka dan mereka yang sedang berlari bisa kelelahan sewaktu-waktu. Aku harus mendampingi mereka sebagai ninja medis” kesedihan sudah sedikit menghilang dari raut wajah Sakura. Tampaknya semangat para manusia berbaju hijau itu untuk cukup mampu mengembalikan semangatnya lagi. Ia pun berlari menuju dua badai pasir dadakan, meninggalkan dua shinobi itu di tengah gurun.

Keduanya melanjutkan perjalanan mereka tanpa terburu-buru. Berjalan dengan kecepatan yang sama, menyusuri pasir-pasir yang membakar kaki mereka. Tak ada keluhan, tak ada gurauan, tak ada obrolan. Mereka berjalan dalam diam. Cukup lama mereka berjalan tanpa suara.

Tenten merasa hal ini tidak bisa didiamkan terus. Ia mulai membuka pembicaraan, “Eh Neji-kun…” ada jeda dalam ucapannya, berusaha mencari-cari topik yang bisa mencairkan suasana dingin di tempat yang panas itu.

“Ng… hari ini cuaca cerah ya?” si gadis bercepol dua itu berucap sekenanya apa yang terlintas di dalam otaknya.

“Hari ini panas” jawab Neji pendek dengan pandangan lurus ke depan, tanpa memandang lawan bicaranya.

“Ahaha iya ya…” Tenten hanya tertawa, menertawai kebodohannya dalam mengambil bahan pembicaraan yang bodoh. Suasana menjadi hening kembali. Ia pun membuka pembicaraan lagi, “Eh Neji-kun…” matanya berputar-putar mencari topik baru.

“Ng… kira-kira kapan kita sampai Konoha ya?” tentu saja Tenten sudah tahu jawaban dari pertanyaan ini, tapi hanya ini yang baru saja terlintas di otaknya.

“Tiga hari” lagi-lagi Neji hanya menjawab dengan singkat tanpa ada pemanis di kata-katanya.

“Benar juga ya, ahaha…” Tenten kembali tertawa, ia sudah menduga bakal jadi seperti ini. Keningnya berkerut. Matanya terpejam kuat. Berusaha menggali otaknya lebih dalam. Tenten tidak menyukai keheningan ini, ia berpikir keras mencari bahan obrolan. Tapi bagi Neji, ini bukanlah hal yang perlu dipikirkan karena memang dia adalah orang yang tidak banyak bicara alias bicara seperlunya.

“Eh Neji-kun…” Tenten tidak tahu apa yang mau dibicarakan lagi, otaknya terlalu panas tersengat matahari. Satu kalimat meluncur tanpa ia pikir dulu, “ng… siapa cewek yang lagi kamu taksir?”

“Te—“ tiba-tiba Neji menghentikan ucapannya. Kakinya pun tiba-tiba berhenti melangkah. Angin gurun juga tiba-tiba berhenti berhembus. Akhirnya ia menoleh, memandang Tenten dengan mata putih yang terbelalak, dengan penuh tanda tanya di kepalanya.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” satu kalimat yang cukup panjang yang diucapkan oleh Neji hari ini. Tenten hanya bisa tersenyum. Ia benar-benar sudah tidak bisa berpikir lagi. Keringat mengucur di sela-sela wajahnya.

“Ah, gapapa kok. Cuma mau tanya aja. Te tadi itu…” Tenten tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Matanya agak berkunang-kunang. Sambil memijit dahi di antara alisnya, Tenten berusaha melanjutkan kalimatnya dengan senyuman, “jangan-jangan Temari-san ya? Ahaha…”

Neji terdiam melihat rekannya yang tampak sedikit aneh. Napas Tenten agak tidak teratur. Keringat yang mengucur semakin deras membasahi badan Tenten.

“Tenten-san, kamu gapapa?” Neji berjalan mendekat. Satu telapak tangan terangkat, tepat di depan wajah Neji. Tenten memberi isyarat melalui tangannya bahwa ia baik-baik saja. Ia kembali tersenyum, berusaha dibuat seceria mungkin.

“Aku gapapa kok. Ayo kita harus menyusul mereka!” Tenten kembali berjalan, mengikuti jejak-jejak kaki yang dibuat oleh rekan-rekannya yang sudah jauh di depan. Neji pun segera mengikutinya dan menyamakan kecepatannya. Kini mereka kembali berjalan berdampingan dalam diam lagi.

‘Tampaknya berjalan dalam diam memang lebih baik karena kami menjadi berjalan lebih cepat’ Tenten menghela nafas panjang, ‘tapi perjalanan ini jadi terasa sangat lama dan jauh…’ ia mengayunkan kakinya, melangkah setapak demi setapak. Bukan mengayunkan sebenarnya, ia sedikit menyeret kakinya untuk melangkah.

Neji, yang akhirnya sedikit memperhatikan rekan yang ada di sampingnya, sesekali melihat keadaan Tenten dalam diam. Dilihatnya bibir Tenten yang agak mengering. Jalan nafasnya telah berganti melalui mulut alias terengah-engah. Kakinya yang diseret itu.

“Tenten-san, kamu beneran gapapa?” sekali lagi Neji berusaha meyakinkan apa yang telah dilihatnya. Ia mendapatkan sebuah senyuman yang tercipta dari bibir Tenten yang memucat, Neji sama sekali tidak menyukai jawaban itu.

Tenten terus berjalan, ‘Kenapa sekarang Neji-kun malah ngomong terus yah?’ ia sudah tidak peduli, atau lebih tepatnya, ia sudah tidak mampu memikirkannya. Kepalanya benar-benar berat.

Tenten terus berjalan tanpa mata yang terfokus. Ia hanya mengandalkan pandangan yang sudah kabur untuk mengikuti jejak yang tercetak di padang gurun itu. Tiba-tiba ia menyandung sesuatu yang cukup besar di depannya. Seonggok manusia sedang berlutut membelakanginya. Menawarkan punggungnya yang bidang untuk dinaiki oleh Tenten. Manusia itu adalah Neji.

Otak Tenten sudah terlalu kepanasan sehingga tidak bisa memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan. Otak Neji belum terbiasa mengahadapi situasi seperti ini sehingga tidak bisa memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan.

…10 menit kemudian.

Mereka berdua masih terpaku kaku dalam posisi masing-masing. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya desiran angin membawa pasir yang terdengar oleh telinga. Karena Neji mulai pegal untuk terus berlutut, ia mencoba untuk menghilangkan keheningan yang terjadi.

“Tenten-san, ga usah kamu sembunyiin lagi” Neji berkata dengan tetap berlutut membelakangi sang kunoichi, “sebenarnya kakimu sedang terluka kan?”

Tenten tersentak kaget. Apa yang ia terus sembunyikan sejak itu akhirnya ketahuan. Wajahnya memerah, “da-dari mana kamu tahu Neji-kun?” Tenten berusaha untuk tidak mempercayai jawaban yang akan diucapkan oleh Neji.

“…tadi aku melihat dengan byakugan, apa itu luka yang kamu dapat sewaktu kita melawan Akatsuki berwajah hiu itu?” …Neji mengakui perbuatannya. Wajahnya juga memerah, apakah hanya sekedar kaki yang ia lihat dengan byakugan? –digorok- XD

Tenten tertunduk dan tersipu. Walau Neji membelakanginya, ia tahu apa yang terjadi karena byakugan masih aktif. Neji melambaikan tangannya ke belakang, menyuruh Tenten untuk segera menaiki punggungnya.

Dengan agak malu-malu Tenten merangkulkan kedua tangannya pada leher Neji. Ia siap untuk mencekik shinobi itu –saia yang dicekek-

Akhirnya Neji mulai berjalan dengan Tenten di punggungnya. Keduanya, masih saja, tetap saja, selalu saja, hanya diam selama perjalanan. Dalam kepala masing-masing sudah terbendung beribu hal yang ingin dibicarakan, namun tak ada satu pun yang mampu mengeluarkannnya.

Nafas yang agak terengah-engah masih terdengar dari mulut Tenten. Terdengar jelas di telinga Neji, karena kepala sang gadis terkulai di salah satu pundaknya. Neji bisa merasakan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Mereka langsung saling berpaling dengan muka merah ketika menyadari bahwa sesekali pipi mereka bersentuhan.

“Eh Neji-kun, maaf, aku berat ya?” Tenten mengungkapkan hal yang terus ia pikirkan selama digendong oleh Neji.

“Nggak kok” seperti biasa, Neji hanya menjawab sekedarnya. Tenten memang sudah tidak berharap banyak mereka bisa mengobrol dengan lancar.

“Di rumah Hyuuga, aku sudah terbiasa mengangkut karung beras setiap hari” tidak seperti biasa, Neji tidak pernah melanjutkan kalimatnya yang selalu minimalis.

“Nggak cuma itu, tiap hari aku juga mengurus kebun Hyuuga yang sangat luas. Badanku cukup kuat kalau hanya untuk menggendongmu” ternyata Neji mampu mengembangkan sebuah kalimat menjadi cukup panjang.

Tenten sedikit kagum melihat Neji yang hari in berbicara, yang menurutnya, itu cukup banyak. Tanpa sadar ia tertawa geli. Neji yang mendengarkan tawa itu menjadi kikuk dan tidak melanjutkan omongannya.

Neji yang dulu, adalah Neji yang dingin dan tidak banyak bicara. Ia selalu berpikiran bahwa semuanya sudah ditakdirkan. Ia tidak pernah mempedulikan orang lain, hanya memandang orang yang dianggapnya kuat, Sasuke misalnya. Ia bahkan pernah berniat membunuh sepupu yang seharusnya ia lindungi. Ini semua karena nasibnya yang terlahir dalam keluarga cabang klan Hyuuga.

Neji yang sekarang telah menghangat. Ia mulai memperhatikan sekitarnya. Bicaranya sudah tidak seketus dulu, walau bicaranya hanya yang seperlunya saja. Tenten cukup bahagia dengan perubahan yang terjadi dalam diri Neji. Neji yang dulu selalu menegur dan memarahinya yang sering kalah dalam berlatih maupun bertanding. Bila Neji belum berubah, tentu sekarang Tenten sudah ia marahi agar lebih berhati-hati dan lebih banyak berlatih.

Tenten mensyukuri perubahan ini. Ia menikmati tumpangan yang diberikan oleh Neji. Kini ia tidak ragu untuk menyandarkan seluruh badannya ke punggung yang bidang itu. Pipinya menempel pada sebelah pundak Neji. Angin yang menerpa membuatnya mulai mengantuk. Seiring Neji yang terus berjalan, Tenten sudah tertidur pulas dalam gendongannya. Sebuah senyuman kecil terpasang di wajah Neji saat ia melihat wajah tidur Tenten yang sangat nyenyak di pundaknya.

-Namun sampai sekarang Tenten lupa berterima kasih pada Naruto yang telah mengubah Neji-

Langit yang biru telah berganti menjadi oranye kemerahan. Udara yang panas telah berubah mendingin. Kedua shinobi itu masih belum berhasil menyusul rekan-rekannya.

‘Sudah sore, sebaiknya aku mencepatkan jalanku’ Neji pun berlari melintasi padang gurun itu. Ia berusaha untuk berlari tanpa membangunkan Tenten. Jujur saja, sebenarnya tangannya sudah kram menahan berat tubuh Tenten. Punggungnya sudah pegal dan kakinya sudah lelah. Namun ia tidak mau melepaskan gelar cowok keren begitu saja. Ia pun terus berlari hingga bintang-bintang mulai bermunculan di langit yang hitam.

Neji terus berlari, berlari, dan berlari mengikuti jejak kaki yang tertinggal. Kelima shinobi yang mendahuluinya belum juga terlihat. ‘apa aku tadi terlalu lambat karena mengurus cewek jaim ini ya?’ Neji menengok untuk memeriksa keadaan Tenten. Wajah tidurnya benar-benar damai.

‘Oi, Neji, kenapa kamu malah menyalahkan Tenten. Ini bukan karena Tenten. Ini karena kamu memang lambat. Kamu harus lebih kuat lagi, Neji!’ Neji berbicara kepada dirinya sendiri. Ia berjanji dalam hatinya, setelah sampai di Konoha ia akan memperbanyak porsi latihan dan porsi pekerjaan rumah tangganya. Kalau perlu, semua pelayan di rumah Hyuuga ia yang gantikan.

Neji terus berlari. Semakin lama ia merasakan beban di punggungnya bertambah berat. Kaki lelah yang terus berlari tentu lama kelamaan kekuataannya untuk menyangga akan berkurang. Bagaimanapun juga, ini terlalu berat untuk seorang Tenten. Neji tidak ingin membayangkan yang tidak-tidak, ia juga tidak berharap apa yang ia pikirkan itu benar adanya. Namun ini benar-benar berat!

Rasanya seperti sedang menggendong kulkas dua pintu.

Bukan itu saja, rasanya seperti ada sepuluh ekor gajah afrika yang dijejalkan secara paksa ke dalam kulkas tersebut. Apakah Tenten memang seberat ini saat tidur? Neji tidak berani memikirkannya. Ia tetap berlari dengan sekuat tenaga. Ia tidak ingin dirinya dan Tenten tidak bisa bermalam bersama yang lain, atau tepatnya, ia tidak ingin terlihat lemah oleh yang lainnya.

Setelah berjam-jam berlari, jejak kaki rekan-rekannya belum juga menunjukkan sosok mereka. Ia menemukan bongkahan bebatuan karang yang cukup besar. Neji sudah kelelahan. Sangat kelelahan. Akhirnya ia menghentikan perjalanannya dan berhenti di batu karang tersebut.

“Maaf Tenten-san, mungkin sebaiknya kita bermalam di sini” Neji benar-benar sudah tidak kuat menggendong Tenten yang tiba-tiba menjadi sangat berat itu. Ia pun berlutut lagi untuk menurunkan sang kunoichi tersebut.

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan.

“Tenten-san?” Neji mulai khawatir. Sejak berlari tadi ia belum menengok Tenten karena tidak ingin wajah lelahnya dilihat oleh Tenten. Ia juga tidak menggunakan byakugan karena tenaga habis terkuras untuk berlari.

“Tenten-san??” Neji sudah khawatir. Ia segera mengelap wajahnya yang penuh keringat dengan lotion pembersih dan tissue basah. Setelah wajah tampannya sudah kembali cerah berkilau, ia memberanikan dirinya untuk menengok keadaan Tenten yang tampaknya masih tertidur di pundaknya.

Sepasang mata putih milik Neji hampir terlepas keluar dari tempatnya.

Giant Panda, nama latinnya adalah Ailuropoda melanoleuca yang memiliki arti kaki-kucing hitam-putih. Habitatnya di daerah barat dan barat daya China. Walaupun termasuk hewan karnivora, makanan utamanya adalah bambu. Panda dapat mencapai panjang sampai 1.5 meter dengan tinggi 75 centimeter dihitung dari pundaknya. Berat panda jantan berkisar 153 kg, sedangkan panda betina sekitar 100 kg. Panda memiliki gigi geraham yang besar dan rahang yang kuat untuk mengunyah bambu. Info selengkapnya dapat dilihat di .org/wiki/giant_panda

Tidak hanya itu, panda yang sedang digendong Neji ini membawa satu big ninja scroll yang biasa dipakai Tenten untuk menyummon senjata-senjatanya.

Neji hanya tertegun. Terpaku. Terdiam. Apakah, apakah, apakah panda ini Tenten? Setelah Neji membenarkan posisi matanya yang hampir copot, setelah ia menggosok-gosok matanya sampai merah, setelah ia menyemprot matanya dengan sebotol penuh obat tetes mata, panda itu tidak menghilang dari pandangan Neji.

Ini bukan ilusi? Neji tak sanggup berkata-kata. Panda itu telah turun dari punggung Neji. Kini Neji merasa lebih ringan. Ternyata beban berat yang selama ini ia rasakan memang berasal dari panda itu.

Neji hanya memandangi panda itu dengan tatapan putus asa. Di mana Tenten? Dari mana panda ini? Walaupun cepol Tenten mirip telinga panda, tapi masa sih dia berubah wujud jadi panda? Oh, jangan-jangan, karena ini malam bulan purnama, saatnya Tenten berubah jadi panda? Jadi sebenarnya Tenten adalah manusia panda? Pikiran Neji sudah teraduk-aduk.

Panda itu berjalan ke sana ke mari di sekitar Neji..Lamunan Neji terpecah saat panda itu mengendus-endus tas yang dibawa olehnya.

Awalnya Neji bingung apa maunya panda itu. Lalu ia membuka tas dan mengeluarkan salah satu isinya. Sebungkus lunpia, jajanan khas kota Semarang yang berisi rebung. Dari mana ia mendapatkannya, jangan tanyakan…

Tanpa basa-basi panda itu langsung menyambar lunpia yang sedang dipegang oleh Neji. Hampir saja tangan Neji ikut terkunyah. Panda itu memakan lumpia dengan sangat lahap.

‘Kalau ga salah, Tenten juga suka lumpia’ satu hal yang membuat Neji kembali memikirkan yang tidak-tidak.

“Tenten-san?” Neji mencoba memanggil panda itu. Tak disangka, ternyata si panda berhenti mengunyah untuk sesaat. Hancur sudah harapan Neji. Panda itu memang Tenten. Setelah menyatukan hatinya yang sudah pecah berserakan, Neji mulai berbicara lagi.

“Sebenarnya…” Neji bingung untuk memulai dari mana. Jantungnya berdetak kencang. ‘Hei, masa sih aku mau membuat pengakuan ke seekor panda??’ hatinya protes, ‘tapi mumpung Tenten dalam wujud panda, dia tidak akan mengerti maksudku, semoga saja’

Neji memasang wajahnya yang paling tampan, dengan sikap yang gentle dia melanjutkan kalimatnya, “Tenten-san, sebenarnya tadi sewaktu kamu menanyakan siapa cewek yang sedang kutaksir… Te itu adalah…”

“GYAAAAA!!!”

Panda itu menerkam Neji seketika. …maksudnya sih memeluk Neji.

Neji bagaikan guling mini di dalam dekapan panda itu. Mereka berdua berguling-guling di padang gurun. Maksudnya si panda sih, ngajak main Neji.

“Gyaaa!!! Tenten-saaaan!!!” Neji tidak berdaya.

--

Sementara itu…

“Oi, Sakura-chan, gapapa nih? Hampir tiga jam dia kayak gini” nada Naruto terdengar cemas melihat salah satu rekannya yang sedang berguling-guling sendiran di hadapannya. Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil mengobati kaki seorang kunoichi bercepol dua.

“Sakura, kenapa kau beri genjutsu pada pemuda itu?” Kakashi yang sedang tiduran di tenda sambil membaca Icha Icha untuk yang kesebelas kalinya tampak tidak terlalu mempedulikan apa yang terjadi.

“Betul Sakura-san! Neji-kun sudah kelelahan menggendong Tenten-san, kenapa malah digenjutsu seperti itu??” Guy dan Lee bertanya bersamaan dengan penuh semangat.

Sakura baru saja selesai membalutkan perban pada kaki Tenten yang mulutnya masih menganga melihat Neji berguling-guling memanggil namanya seperti orang kesurupan. Sang ninja medis pun mulai angkat bicara.

“Kalian lihat sendiri kan bagaimana Neji-kun begitu bersemangat menggendong Tenten-chan?” senyum nakal Sakura berikan pada Tenten yang terduduk di bibir tenda dengan muka semerah saos sambal, “bahkan dia tidak sadar sudah berlari mendahului kita, seperti memakai kacamata kuda bwakakak!!” Sakura tidak dapat menahan tawanya.

“Makanya waktu Naruto-kun dan Lee-kun berhasil menghentikan Neji-kun yang sudah setengah pingsan berlari seperti itu, aku genjutsu aja! Tuh dia tampak senang sekali sampai guling-gulingan gitu!” Sakura tertawa bahagia, tanpa mengetahui apakah Neji juga bahagia atau tidak berada di dalam pelukan seekor panda khayalan yang sedang berguling-guling.

END