Kamis, 21 Mei 2009

Endles story 3 ( B3By FIC )

Shikari mengerjapkan matanya. Nggak seperti pagi hari yang biasa, matahari yang masuk dari jendela kamarnya lebih lembut. Angin pagi yang segar berhembus dari luar. “oh iya.. ini hari pertamaku di Konoha!”.

Dia melompat dari tempat tidurnya. Kemudian menatap adiknya yang masih terlelap. Shikari bergerak perlahan menuju pintu, nggak ingin membangunkan adiknya.

Itu mungkin baru sekitar jam setengah enam pagi. Matahari baru berupa semburat oranye di ufuk timur. Shikari berjalan di teras rumahnya, menatap pepohonan hijau yang tumbuh di halaman.

“Shikari-chan udah bangun?” ibunya melongok dari kamarnya.

Shikari mengangguk. “aku nggak sabar pengen kenalan sama anak-anak lain! Tou-san belom bangun?”

Temari menggeleng. “tou-san baru bangun nanti, kalo’ matahari udah tinggi. Tou-san mu kan shinobi paling males dari Konoha sampe Suna!”

Shikari tertawa. Ibunya emang sering banget ngata-ngatain ayahnya. Tapi mereka berdua saling sayang kok. Soalnya, kata Om Kankurou, kalo mereka nggak saling sayang, Shikari dan Rishiru nggak mungkin lahir. Shikari nggak begitu ngerti sih maksudnya. Gimana caranya rasa sayang berubah jadi dia dan Rishiru?

“hei! Aku denger itu!” kata Shikamaru dari dalam kamar. Tapi disusul dengkuran yang menandakan kembalinya Shikamaru ke alam mimpinya.

“tuh kan?” ibunya tersenyum. “karna Shikari udah bangun, gimana kalo’ temenin kaa-san belanja ke pasar? Kemaren kita Cuma makan ramen instant gara-gara belom sempet belanja!”

“horeee! Ayo, Kaa-san!”


pasar pagi Konoha penuh ibu-ibu yang belanja.(iyalah belanja! Kalo maling, ntar dikejar-kejar orang!). Shikari menggenggam tangan ibunya, sementara ibunya menatap daging-daging jualan dengan seksama.

“Temari!” panggil seorang ibu lain yang menggandeng anak laki-laki.

Shikari menatap anak itu. Rambutnya pendek lurus berwarna kuning gading, mirip dengan warna rambut ibunya. Anak itu memakai baju yang menutup sampai mulutnya dan juga sebuah kacamata hitam kecil bertengger di hidungnya.

“ah! Ino, apa kabar?” ibunya menyapa balik. Terus mereka cipika-cipiki sambil ngobrol-ngobrol.

“Hai, aku Shikari Nara. Namamu siapa?” sapa Shikari ke anak itu.

“Hai juga!” anak itu membalas dengan ceria. “aku Oshi Aburame, kamu bukan orang konoha, ya?” tanya anak itu yang ternyata namanya Oshi.

Shikari mengangguk. “aku dari Suna. Baru pindah kemarin. Kok tau sih?”

“aku nggak pernah ngeliat kamu atau ibumu.”

Oshi terliha berpikir sebentar. “hei! Shikari-chan! Kamu tau nggak? Disini kita punya perkumpulan kecil. Namanya Konoha’s shinobi junior. Kita kumpul di taman sana itu..” Oshi menunjuk sebuah taman di ujung jalan. “kamu mau dateng? Banyak anak lain juga!”

Shikari mengangguk bersemangat, “mau! Adik kembarku boleh dateng juga, kan?”

Oshi mengangguk, “boleh dong! Semua anak konoha boleh gabung sama kita!”

Temari dan Ino ngobrol sebentar. Well.. yang harus di underline, sebentar di sini adalah sebentar dalam standard ibu-ibu. Yang kalo’ standard anak kecil seumur dua bocah ini, udah bikin mereka bosen setengah mati.

“kaa-san! Ayo! Pulang dong..” Oshi menarik baju ibunya, nggak sabaran.

“iya, iya. Oshi-kun. Maaf, Kaa-san udah lama nggak ketemu tante Temari!” Ino mengusap-usap lembut rambut anaknya. “Temari, aku pulang dulu ya!”

“jaa-nee, Shikari-chan! Nanti kita kumpul jam sepuluh ya!”

“Ok, Oshi-kun!”

mereka saling melambaikan tangan. Temari menatap Shikari sambil tersenyum. “kayaknya Shikari-chan udah dapet temen, ya?”

Shikari menggangguk sambil tersenyum senang. “kaa-san! Aku dan Rishiru diundang masuk ke Konoha’s shinobi junior atau semacam itulah sama Oshi-kun, nanti kita mau kumpul jam sepuluh. Kita boleh pergi, kan?”

Temari balas tersenyum ke anaknya. Ternyata Shikamaru benar. Di Suna, anak semuran Shikari dan Rishiru cenderung sedikit. Bisa dibilang mereka nggak punya teman lain selain Sagura (baca chapter 1, ini anaknya Sakura Gaara) yang sering main ke rumah. Disini, anak-anaknya bisa belajar bersosialisasi dengan baik sama anak-anak seumuran mereka. Dan lagi, keadaan di Konoha lebih aman.

“boleh dong! Kalo’ gitu, ayo kita pulang dan bikin sarapan. Kaa-san berani taruhan, tou-san sama Rishiru-kun udah kelaperan nungguin kita!”


“Rishiru-kun!!” Shikari berlari dari ujung lorong rumahnya, langsung memeluk adik laki-lakinya itu.

“aduuuh.. nee-chan kenapa sih?! Bikin kaget aja!”

“aku tadi ke pasar sama kaa-san. Terus aku kenalan sama anak yang namanya Oshi-kun. Dia ngundang kita kumpul-kumpul sama anak lain di taman jam sepuluh!”

“aah.. ngerepotin aja sih, nee-chan! Aku mau tidur-tiduran hari ini.. capeek. Kemaren kan kita jalan seharian..” keluh Rishiru.

Shikari menggelengkan kepalanya. “nggak bisa! Kamu HARUS ikut. Kalo’ nggak, ntar kamu nggak dapet temen loh!”

“Haah.. Iyaa deh! Aku ikut!”

“ANAK-ANAK! SARAPAN!” panggil ibu mereka.

Wait a sec. Kaa-san!” jawab Rishiru.

on the way!” sahut Shikari.


Jam 10 pagi, konoha’s park..

“woy! Shikari! Disini!” panggil Oshi, sambil melambaikan tanganyake Shikari yang menggandeng Rishiru.

Shikari melambai ke arahnya, lalu, menarik Rishiru ke sana.

“semua! Ini Shikari-chan dan...” Oshi menatap Rishiru yang berekspresi malas.

“Rishiru..” jawab Rishiru.

“oke, semua! Ini Shikari-chan dan adik kembarnya, Rishiru-kun Nara, mereka anggota baru kelompok kita!”

Rishiru dan Shikari melambaikan tangan ke anak-anak disana.

“nah, kita perkenalan sekarang. Aku, Shikari-chan udah tau.. Oshi Aburame.”

“aku! Aku!” seorang anak cowok berambut pirang melambaikan tanganya, “ aku Nashi Uzumaki! Dan aku calon Hokage!”

“yeah, right! Dan aku bakal masukin tanganku ke mulut Akamaru!” kata seorang anak cowok yang pipinya bertato taring warna merah, “Aku Inuzuka Hige!”

“dan mahluk hijau indah dari Konoha, Ryou Lee!” seorang anak beralis tebal mengacungkan jempolnya, sambil tersenyum dengan kilauan gigi yang menyilaukan mata.

“aku.. nyam.. nyamm.. Akamichi Chourin.” Anak perempuan berpipi chubi yang membawa sekantong besar potato chip, mengulurkan kantong itu ke Shikari dan Rishiru, “aku bagian konsumsi disini. Jadi kalian boleh minta makanan punyaku. Tapi jangan banyak-banyak, ya?”

Shikari menggeleng, tapi Rishiru mengambil sedikit. “thank’s, kamu baik deh, Chourin-chan..”

“Semua! Maaf, aku telat!”

seorang anak cewek berambut panjang, hitam terurai, menghampiri mereka. “woah! Kita dapet anggota baru, ya?” tanyanya sambil menatap Shikari dan Rishiru.

“iya, Naiten-chan! Mereka baru pindah ke Konoha kemaren,” Oshi menjelaskan.

“oh.. aku denger dikit, sih dari kaa-san. Katanya, ada sepasang anak kembar dari klan Nara yang pindah ke Konoha. Tapi aku nggak tau kita seumuran. Aku Naiten Hyuuga. Salam kenal!”

okee.. jadi si pirang bertampang (sedikit) idiot, cowok berpipi merah, anak aneh beralis tebal, cewek chuby yang suka bagi-bagi makanan, dan cewek dengan bola mata putih.. pikir Shikari. Hey! Not bad, juga!

Cowok ngerepotin berambut pirang, cowok tukang ledek yang mukanya di tato, cowok berambut konyol yang aneh, cewek baik yang suka ngasih makanan, dan cewek berambut hitam.. pikir Rishiru. Dia menghela nafas panjang, ini bakal jadi hari yang merepotkan!

“jadi? Hari ini kita ngapain?” tanya Hige.

“aku! Aku punya ide!” Nashi meninjukan tanganya ke udara. “Gimana kalo’ kita umpanin Hige-chan ke anjing gila di pinggir desa?”

“maumu apa sih!” Hige melotot ke arah Nashi. (AN: Hige takut anjing. Kenapa bisa? Well.. tanyalah sama original authornya..)

“aku kesel tau! Ngapain Hige-chan menghina mimpiku jadi Hokage?!”

“kalo’ tou-san’mu Hokage, bukan berarti kamu juga bakal jadi Hokage!!”

“siapa bilang aku bakal jadi Hokage karna Tou-san?! Aku bakal jadi Hokage dan bikin semua desa sadar sama keberadaanku! Aku, sebagai Nashi Uzumaki! Bukan Nashi anaknya Naruto Uzumaki!”

“yeah.. yeah.. apa katamu lah!” jawab Hige sambil angkat bahu.

“sialan!!” Nashi melompat, tapi ditahan sama Naiten.

“emangnya kamu nggak suka jadi anak tou-san’mu?” tanya Shikari.

“eh.. bukan gitu sih...” Nashi memandang Shikari. “Cuma, orang-orang nggak pernah ngeliat aku sebagai ‘Nashi..’ mereka ngeliat aku sebagai anaknya ‘rokudaime’..”

“trus kenapa? Emangnya Nashi-kun nggak bangga ayahnya jadi Hokage?” Rishiru gantian nanya.

“bangga dong!” protes Nashi.

“kalo’ gitu, Nashi-kun harusnya bangga jadi anaknya rokudaime. Biarin aja orang-orang lain. Kata ayahku, mikirin kata orang lain itu merepotkan!” jawab Rishiru.

“okee.. kayaknya, Rishiru-kun bener..”

Nashi terlihat berpikir sebentar. Semua memandang kagum shikari dan Rishiru.

“wow! Aku suka cara ngomong kalian!” Oshi merangkul Rishiru dan Shikari. “tapi lain kali biarin aja. Seru loh ngeliat Nashi-kun sama Hige-kun berantem..” bisik Oshi pelan di telinga mereka.

“ah! Udah hampir jam makan siang!” kata siapa lagi kalau bukan Chourin.

“oh iya, udah hampir makan siang. Jadi? Nanti kita kumpul disini lagi?” tanya Hige.

“iya deh. Jam 3 aja, ya?” kata Naiten.

“Shikari! Rishiru!”

semua menengok, terlihat Shikamaru berlari ke arah mereka.

“Tou-san!”

“aahh.. kalian lagi ngumpul rupanya..” Shikamaru menatap anak-anak di depanya.

“iya, om Nara. Aku...” belum sempat Oshi menyebut namanya, Shikamaru menebak. “kamu.. anaknya Aburame Shino dan Ino, kan?”

Oshi mengangguk.

“kamuu.. pasti anaknya Rock Lee?”

Ryou Lee mengangguk.

“dan, anaknya Hinata dan Naruto!”

Nashi mengangguk heran.

“dan.. ah! Inuzuka! Anaknya Kiba, ya?”

Hige memiringkan kepalanya bingung.

“ya tuhan!” Shikamaru menghampiri Chourin. “Chourin? Kamu udah gede sekarang! Om liat kamu terakhir masih segede ini..” Shikamaru merentangkan jari-jarinya.

Chourin tersenyum, tapi nggak tau mesti ngomong apa.

“ini.. pasti! Pasti anaknya Tenten dan Neji Hyuuga!”

Naiten menatap curiga ke arah Shikamaru.

Nashi menarik tangan Shikari, “hey.. hey.. Shikari-chan! Jangan-jangan ayahmu punya jutsu buat tau nama orang tua, ya?”

Shikari menggeleng. “tou-san.. kok kenal orang tua mereka?”

“kenal dong. Mereka temen seangkatan tou-san di akademi. Oh ya, kalian nggak pulang buat makan siang?”

“Oh iya! Bisa-bisa diabisin tou-san!” Chourin menepuk dahinya. “aku pulang dulu ya!” dan berlari menuju rumahnya.

“Nashi-kun, pulang yuk?” ajak Naiten.

“loh? Nashi-kun dan Naiten-chan tinggal bareng?” tanya Shikari.

“kita kan sepupu..” Nashi menatap Shikari dengan bola mata putihnya. Lalu berjalan berdua dengan Naiten.

“aku juga pulang dulu, Om Nara. Shikari, Rishiru, Jaa-nee!”

Oshi berlari pulang. Meninggalkan tiga orang Nara di belakangnya.

well.. hari ini kita nggak makan di rumah..” Shikamaru menggandeng tangan kedua anaknya, “kita makan di kedai langganan tou-san!”


yakiniku Q..

“wahahahahaa! Akhirnya, loe balik juga!” tawa Chouji yang menggelegar rasanya nyaris meruntuhkan dinding-dinding kedai yakiniku itu.

“iyalah.. gue kan cinta Konoha!” kata Shikamaru sambil menuang sake ke gelasnya.

Rasanya baru sebentar mereka pisah. Tau-tau, Shikari dan Rishiru udah ketemu lagi sama Oshi.

“loh? Rishiru-kun? Shikari-chan?” sapa Oshi waktu kembali bertemu dua temen barunya itu.

“Temari! Ketemu lagi!” sapa Ino dan kembali bercipika-cipiki dengan Temari.

“dan ini..” Temari menatap seorang perempuan berambut coklat yang duduk di sebelah Chourin, “istrinya Chouji, ya?”

perempuan itu mengangguk sambil tersenyum, “Akamichi Kana,” Kana pun ikut bercipika-cipiki. Dan nggak lama kemudian, ibu-ibu ini udah asik bergosip.

“kaa-san! Kaa-san!” Oshi menarik baju ibunya, “katanya kita mau ketemu temen lama kaa-san?”

“itu.. Oshi-kun liat om yang di kuncir tinggi itu?” Ino menunjuk Shikamaru yang duduk di meja terpisah bareng Shino dan Chouji, “dia team mate Kaa-san waktu abis lulus akademi”

“0oo.. sama kayak om Chouji ya?”

Ino mengangguk.

“hei, Shino.. liat tuh anakmu..” gumam Shikamaru yang sedikit mabuk.

Shino menatap Shikamaru, menanyakan ‘kenapa’ Cuma dengan deheman singkat, “Hmm?”.

“ngeliat dia sekali, gue langsung tau dia anak loe.. tapi begitu dia ngomong, gue tau itu anaknya Ino!”

“haha.. iya bener..” Chouji mengangguk setuju, “kayak ngeliat Shino versi doyan ngomong!”

“rese’ loe berdua!” Shino menenggak minumanya.

“woah!”

semua menatap ke arah suara itu. Seorang laki-laki dengan pipi bergambar taring merah tersenyum ke arah mereka. Di tanganya, dia menggandeng seorang cewek berambut coklat hitam dengan poni dimiringkan. Headband kirigakure diikatkan ke lehernya(AN: aufa.. deskripsinya aku liat di fic-nya suigetsu. Ga apa2 kan?). Sementara dipipinya, terlihat tatoo yang sama dengan laki-laki yang menggandengnya.

“Oshi-kun! Shikari-chan! Rishiru-kun!” Hige berlari menghampiri teman-temanya. “kita ketemu lagi!” dia nyengir lebar.

“Shikamaru! Kapan balik loe?!” sapa Kiba sambil ikut-ikutan duduk bareng-bareng.

“baru kemaren. Ini istri loe?”

“yup, kenalin, Ini Ryoushin.” Kiba tersenyum ke istrinya.

“Ryoushin! Sini!” Ino memanggil.

“Kib, aku kesana dulu ya?” Ryoushin meminta izin ke suaminya.

Kiba mengangguk sambil menarik pelan tangan istrinya, membuat Ryoushin membungkuk sedikit dan mencium lembut pipinya, “oke.”

“gila.. gue kangeen banget sama loe semua..” pipi Shikamaru kini memerah karena pengaruh sake.

“gue juga. Nggak ada lagi temen yang ngajakin gue ngeliat awan sejak loe ke Suna” jawab Chouji.

"itu apaan sih? ribut banget di luar?" geram Kiba.

Shikamaru mengangkat bahunya. di luar emang sedikit ribut. penasaran, Shikamaru menengok keluar.

“pergi! Aku Cuma mau makan ramen sebentar! Kalian nggak perlu ikut-ikutan!”

“tapi Rokudaime-sama..”

“nggak ada tapi-tapian! Ayolah.. aku berhak dapet sedikit privasi, kan?”

“bukan begitu, Rokudaime-sama..”

“Hei Naruto, cut it off! Berisik tau nggak!” omel Shikamaru, menyembulkan kepalanya dari pintu Yakiniku-Q.

“wohoo! Shikamaru! Apa kabar, men!!” sapa Naruto.

“baek, dong. What’s up? Ribut banget!”

“ini, ANBU-ANBU rese’! masa mereka mau ngikutin gue makan Ramen segala. I need a little privacy, y’know!

“loh? Itu kan tugas mereka, ngelindungin loe. Gimana sih!”

“hiih! Pokoknya bubar! Dissmissed!”seru Naruto, mulai kesel.

“iya, Rokudaime-sama! Njeh! Njeh!” ANBU itu kayaknya mulai takut melihat mata Naruto yang mulai berubah merah. Dan buru-buru menghilang dalam kepulan asap.

finally..” Naruto menghela napas lega. “loe nyampe kemaren ya, Shikamaru?”

Shikamaru mengangguk sambil mencapit sepotong daging dengan sumpitnya.

“sorry ya.. kemaren gue rencana mau dateng ke rumah loe. Tapi sibuk banget!” Naruto meletakkan topi Hokagenya di meja. “so? How’s your new life?”

shikamaru tertawa kecil, “nothing special. Eh, tadi gue ketemu anak loe!”

“ooh.. si Nashi-kun. Ganteng kan? Mirip bapaknya!” naruto nyengir lebar sambil menenggak sake di gelasnya.

“mirip banget! Sampe gue kira loe minum pil dari organisasi berjubah hitam dan berubah jadi kecil lagi! Semua mirip Kecuali matanya, byakugan.”

yeah. Thank’s to her mother,” cowok pirang ini menyambar sepotong daging dengan sumpitnya. “kalian ngerasain nggak?”

“apa?” tanya Kiba sambil menuang sake ke gelasnya.

“rasanya baru kemaren kita masuk akademi. Dan nggak lama lagi, anak-anak kita masuk kesana! Rasanya.. aneh..”

Chouji menggangguk, setuju, “Ya, rasanya baru kemarin kita di hukum Iruka-sensei karena ketiduran di kelas..”

“atau bolos..” timpal Kiba.

“atau nggak ngerjain tugas..” tambah Shikamaru.

“kalo’ dipikir-pikir, kita anak nakal, ya?” Naruto tertawa.

“nggak usah pake dipikir, emang kita pada bengal-bengal!” Kiba ikut ketawa.

“sadar nggak? Ini kayak tekad api,” gumam Naruto, “setelah daun-daun berguguran, ada daun lain yang tumbuh,”.

“yeah.. generasi baru. Mungkin ini akhir dari kita.. udah saatnya generasi baru bersemi di konoha..” Kiba mengangguk kecil.

“tapi sampai mereka mampu menanggung beban Konoha.. masih tugas kita untuk melindunginya..” Chouji menambahkan.

“ya, sebagai Shinobi Konoha..”. Shikamaru menganggkat gelasnya, mengajak bersulang.

“yeah.. Shinobi Konoha..” ketiga temannya ikut mengangkat gelas.


Naruto baru aja pamit, katanya masih ada paperwork yang harus dia selesain. Begitu juga Kiba dan ryoushin yang kewalahan karena Hige yang ketiduran. Temari udah membawa pulang Shikari dan Rishiru, begitu pula Ino dan Kana. Tinggalah Chouji dan Shikamaru berdua. Saling menungkan Sake ke gelas yang sudah kosong.

‘BRUK!’

Chouji terkapar di atas meja, nggak kuat minum lagi.

“hey! Hey! Chouji! Jangan tepar disini! Mana kuat gue gendong loe sampe rumah!”

tapi Chouji nggak bergerak sama sekali. Pelayan Yakiniku-Q datang, menyerahkan Bon dan meminta bayaranya. Shikamaru membayarnya.

“maaf pak.. kita udah mau tutup..” kata pelayan itu.

“Chouji! Serius dong!” Shikamaru mengguncang badan temanya, tapi Chouji kayaknya udah nggak bernyawa.

Terpaksa. Shikamaru menggotong Chouji pulang. Bukan pekerjaan gampang. Badan Chouji nyaris dua kali besar badanya sendiri. Belum lagi, dia sendiri juga lagi mabuk.

“cho..chouji! i’ll kill you!” geram Shikamaru sambil memapah tubuh Chouji.

“Shika..hik.. shikamaru..” gumam Chouji.

“kalau loe bisa ngomong, gimana kalo loe jalan sendiri?” tapi biarpun berkata begitu, Shikamaru tetap memapah tubuh sahabatnya itu.

“gue seneng loe balik..” gumam Chouji lagi.

“gue juga seneng bisa balik..


“Kana! Kana!” Shikamaru menggedor pintu rumah klan Akamichi.

Pintu terbuka, Kana muncul. “Chouji! Dasar!” Kana membantu Shikamaru memapah Chouji kedalam, mengantarnya ke kamar.

“Kana? Boleh minta air?” tanya Shikamaru setelah membaringkan Chouji. Kana segera berlari ke dapur.

“hei.. Shikamaru..” panggil Chouji pelan.

“apa?”

“loe tuh Shinobi paling hebat. Loe inget gue bilang itu waktu loe lulus ujian chuunin, kan?”

“he-eh..” jawab Shikamaru.

“dan loe temen gue yang paling hebat juga..” sambung Chouji.

“loe juga..” balas Shikamaru.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you