Kamis, 21 Mei 2009

Endles story 2 ( B3By FIC )

“skak!”

“aah! Ayah kalah!” Shikamaru menepuk dahinya.

“kalah atau ngalah? Serius dong, otou-san! Aku bosen nih!” bocah cewek di depanya menggembungkan pipinya, ngambek.

“haha.. Shikari-chan udah jago. Ok! Next time, ayah serius deh!”

“janji loh, Yah!”

“SHIKARI-CHAN! SHIKAMARU! Kalo’ udah, beresin papan Shoginya!” teriak Temari dari dalam rumah.

Shikari tersenyum penuh kemenangan..

“kan tou-san yang kalah, jadi tou-san yang beresin!”

tapi sbelum Shikari selesai ngomong, ayahnya udah pergi.

“tou-san!!” jeritnya kesal.


6 bulan belakangan ini, dia mendapat missi yang mengharuskanya berada di Konoha. Kembali berada di Suna yang panas setelah segala udara nyaman di konoha.. tubuhnya belum bisa menerima perubahan iklim ini.

Shikamaru menatap langit Suna lewat jendela. tidak seperti langit konoha yang penuh awan-awan menarik, disini langit terlihat kosong. Hanya matahari yang menyorot dengan panas luar biasa yang balas menatap padanya

Dia menuju kamar anaknya di lantai atas.

Kamar anaknya cukup luas. Ada dua tempat tidur bersebelahan. Beberapa mainan tergeletak. Sinar matahari menembus masuk dari atas. Ada jendela kecil yang berada di atas kamar.

“Rishiru-kun, kamu di sini,”

seorang anak laki-laki seumuran Shikari, terlentang di atas karpet kamarnya, menatap jendela diatasnya.

Shikamaru duduk di samping anak laki-lakinya.

“tou-san..” sapa Rishiru. Anak itu duduk, menatap ayahnya.

“kamu nggak main di luar??”

“nggak ah.. di luar panas, enakan di sini, adem.. aku nggak suka matahari..”

“kamu bakal suka di konoha,” Shikamaru tersenyum sambil melingkarkan tangannya di bahu Rishiru.

“disana enak?” Rishiru menatap ayahnya. Balas memeluk. Cowok diumurnya emang masih suka manja-manjaan.

“enak banget, Nggak ada padang pasir yang panas, yang ada hutan hijau mengelilingi desa. Ada gunung dengan pahatan wajah hokage dan banyak awan”

“disini juga ada awan,” Rishiru menunjuk gumpalan putih tipis di langit.

“itu sih bukan awan! Awan yang ayah maksud, gede dan tebel. Menghalangi matahari, jadi nggak terlalu panas, awan-awan itu menarik buat diliat.”

“aku.. jadi pengen ke Konoha..”

Shikamaru menggendong Rishiru di bahunya, membuat pipi anaknya tertusuk-tusuk kuncirnya. mereka menuruni tangga. Ayahnya menceritakan tentang Konoha, sementara Rishiru mendengrkan dengan kagum.

Shikaru belari kearah mereka, “Rishiru-kun! Kamu kemana? Kan kita mau latihan!”

“repot ah, nee-chan!” kata Rishiru sambil melompat turun dari bahu ayahnya.

Shikari membentuk beberapa segel dengan tanganya, bayangan Shikari memanjang, mencapai kaki Rishiru dan menariknya.

Shikamaru terperanjat menatap anak perempuanya, “Shikari! Dari mana kamu belajar itu? Segel-segel tadi..”.

“eh? Kenapa emangnya? Aku Cuma ngeliat tou-san latian waktu itu dan nyoba-nyoba kok..

“iya, nee-chan! Aku latian.. tapi jangan tarik aku kayak gini!” protes Rishiru.

Dua anaknya keluar, ke arah dojo rumah mereka. Meninggalkan Shikamaru yang bengong, dikejutkan kemampuan anak ceweknya itu.

“hei, Temari..” sapa Shikamaru sambil masuk ke dapur.

“hemm?” Temari memunggungi suaminya, sibuk dengan kegiatan menyiapkan makan malam.

Shikamaru duduk di kursi, sikunya di meja, menopang wajahnya. “kamu tau? Shikari baru aja memakai Kagemane no Jutsu..”

“oh, ya? Well, kamu harus mulai ngelatih dia supaya jurus itu bisa dia pake dengan benar”. Temari masih sibuk dengan makan malanya. “dia emang sering di dojo akhir-akhir ini”.

“gimana dengan Rishiru? Apa dia juga bisa kagemane?”

“yah.. Rishiru lebih sering tidur-tiduran di kamar.”, Temari mengambil kipas kecil di dekatnya, meniupkan sedikit angin ke ikan bakarnya,”tapi dia juga sering masuk ke dojo bareng Shikari.”

"masa tidur-tiduran di kamar terus? males banget anak itu.." Shikmaru menggeleng-gelengkan kepalanya.

"wah.. kayak siapa, ya?"

Temari akhirnya selesai. Dia meletakkan lauk pauk-nya ke meja makan. “bisa bantu menata piringnya?”

how troublesome..” Shikamaru buru-buru menambahkan waktu ngeliat Temari cemberut, “apa sih yang nggak buat kamu?”

“kalo’ gitu sekalian panggil anak-anak di dojo, ya?” Temari tersenyum. Senyum yang selalu bikin Shikamaru bertekuk lutut di depannya.

as you wish, my lady” balas Shikamaru sambil menata piring-pirig itu dan keluar dari dapur, menuju dojo, begitu selesai.


“HIAAAT!”

“HAAAAT!”

‘bruhg!

‘DUG!’

Shikamaru mengintip ke dalam dojo. Kedua anaknya berlatih taijutsu. Rishiruu terlihat memimpin dari pada saudara perempuanya. Dia cepat, tangkas, dan sigap. Shikari nggak sanggup menyamai kecepatan Rishiru.

Shikari membentuk segel dengan tanganya, bayangannya menangkap kaki Rishiru yang akan meluncurkan tendangan, membuat adiknya jatuh berdebam ke lantai kayu dojo.

“serang dia sebelum segelnya selesai!” teriak Shikamaru dari pinggir.

Rishiru mengangguk, kembali menyerang Shikari dengan gencar. Shikari melompat mundur, kembali membentuk segel, tapi Rishiru berlari ke arahnya, meluncurkan tendangan ke arah tanganya.

“aaah..” Shikari berdecak kesal dan berusaha menyerang balik. Tapi Rishiru terlalu cepat.

Shikari kembali melompat ke belakang, dan membentuk segel lagi. Tapi kembali hancur karena pukulan Rishiru.

“buat segel lebih cepat!” Shikamaru memberi bantuan dari pinggir.

“SHIKAMARU! Kamu kan kusuruh manggil mereka buat makan malam! Bukan malah ngelanjutin latihan! Gimana sih!” Temari menarik telinga Shikamaru.

“aduuh.. iya, Sorry..Bubar!”

kedua anaknya berhenti. Menatap ayah mereka yang sekarang kena jeweran dari ibu mereka. Keduanya tertawa.


“kalian hebat! Aku nggak percaya! kalian bahkan belum masuk ninja Academy!” kata Shikamaru semangat waktu makan malam.

Kedua anaknya saling tatap. Tersenyum ke yang lain.

“ayah nggak tau perkembangan apa yang ayah lewatkan selama 6 bulan ini.. besok ayah akan ngelatih kalian!”

“yes!” jerit kedua anaknya senang.

“kenapa besok? Kita belom capek kok! Kita latihan sekarang aja!” Shikari terlihat bersemangat.

Rishiru mengangguk, ikut meyakinkan Shikamaru.

“hehe.. malem ini nggak bisa..” kata Shikamaru, melemparkan pandangan ke Temar,i yang sekarang, wajahnya terlihat memerah.

“malem ini, tou-san udah jadi hak milik kaa-san..” Shikamaru tersenyum nakal sambil mengecup pipi Temari lembut.

Di kamar anak..

“nee-chan.. tou-san ngapain sih sama kaa-san?” tanya Rishiru, rada kesel karena nggak jadi langsung latihan.

“nee-chan nggak tau.. mungkin mereka latihan?”

“tapi mereka nggak di dojo, kok! Mereka langsung masuk ke kamar abis makan malam..”

“hemmmm..”

dua bocah umur 5 taun ini berpikir keras, tapi nggak juga tau jawabanya. Memang, dalam hal ini, lebih baik tau terlambat dari pada tau kecepetan, kan?

“mungkin latihan yang harus di kamar kali?” kata Rishiru.

“ Aah... tidur yuk! Besok kita latihan sama ayah, kan? Rishiru, matiin lilinya dong?!”

Rishiru menggapai kipas kecil yang dia buat sendiri dan mengayunkan kipas itu asal-asalan. Dan angin kecil berputar ke arah lilin yang menjadi penerang satu-satunya di kamar mereka. Mematikannya.

“ ’met bobo, Rishiru-kun”

“ ‘met bobo, nee-chan”


Ayah merenggangkan tubuhnya di luar. Shikaru dan Rishiru buru-buru menghampirinya.

“ayo latihan, otou-san!” bujuk mereka.

“woy.. woy.. kalian terlalu excited deh, kita sarapan dulu, oke?”

“aah.. tapi sarapanya belom siap!” keluh Shikaru.

“gimana caranya biar cepet?” Tanya Shikamaru.

“Bantuin kaa-san!” Shikari berlari ke dapur.

“kamu nggak bantu kaa-san?” tanya Shikamaru sambil menatap anak laki-lakinya yang berdiri diam.

“ayah.. mau ngajarin Kagemane?” tanyanya.

“yup”

“aku.. nggak bisa..” gumam Rishiru sambil membuang wajahnya.

“sarapan!”

“apa tadi?”

“ayo makan, tou-san! Aku lapar!” Rishiru menarik tangan Shikamaru menuju dapur.


Ketiga ayah-anak itu berdiri di atas lantai kayu dojo. Kedua anaknya terlihat tak sabar, Shikamaru menatap mereka sambil tersenyum bangga.

“tou-san liat, Shikari-chan udah paham dasar penggunaan Kagemane. Sekarang, tou-san kasih beberapa segel yang harus kamu hafalin!”

Shikamaru menunjukkan beberapa segel dengan tanganya, Shikari mengikuti, tapi gagal. Shikamaru mengulangi dengan sabar sambil sesekali membetulkan jari-jari Shikari. Setelah kayaknya Shikari udah bisa ditinggal, dia beralih ke anak laki-lakinya.

“kamu bisa pake Kagemane?” tanya Shikamaru.

Rishiru menggeleng.

“oke.. kita coba segel-segel dasarnya..”

shikamaru mulai dari dasar mengajarkan Rishiru. Rishiru berusaha sekuat tenaga, tapi nggak ada yang terjadi sama bayanganya.

“kamu udah mengkonsentrasikan chakramu ke bayangan?”

Rishiru mencoba, tapi nggak bisa. Dia menggeleng.

“kaa-san!” jerit Shikari senang waktu ibunya muncul di pintu, membawa teh dan beberapa kue.

“ayo, istirahat dulu!”

“kamu mau latihan juga?” tanya Shikamaru menatap kipas di punggung istrinya. Udah 6 tahun mereka menikah, tetep aja Shikamaru merinding setiap menatap kipas itu.

Temari mengangguk sambil membagikan teh ke anak-anaknya. Keduanya pergi ke sudut dojo dan makan kue-kue itu berdua.

so? gimana mereka?” tanya Temari sambil menyeruput tehnya.

“Shikari sih bagus. Dia bener-bener bisa memakai kagemane. Masalahnya Rishiru..”

“kenapa?”

“aku nggak tau apa yang salah. Dia udah kukasih segel yang bener, aku juga merasakan dia berusaha mengkonsentrasikan chakranya ke bayangan, tapi nggak ada yang terjadi..” Shikamaru menggigit kuenya, “ini enak..” komentarnya.

“oh, ya? Itu resep dari Sakura. Terus Rishiru gimana?”

“nggak tau deh..”

Temari berdiri, menarik tangan Shikamaru. “mau ngapain?” tanya suaminya.

“ayo kita sparing! Aku udah lama nggak berantem nih!”

“haaah... how troublesome..

Shikamaru memangjangkan bayanganya, tapi Temari dengan cepat menghindari itu semua. Dia mengayunkan kipasnya, sebuah tiupan angin menghantam tubuh Shikamaru, melemparnya ke tembok dojo di belakangnya.

‘bush!’ menghilang. Kagebushin.

gotcha!” Shikamaru tersenyum dari belakang Temari. Temari nggak bisa bergerak. Dia terperangkap dalam serangan Shikamaru.

“tou-san jago!” teriak Shikari dari pinggir.

“ayo! kaa-san!” Rishiru menyemangati ibunya.

“hehe.. emangnya yang bisa pake bushin kamu doang?”

Shikamaru menengok ke atas, begitu juga dengan ‘another Temari’ yang kena kagemane.

“Sial!”

Temari ‘asli’ mengayunkan kipasnya ke Shikamaru yang tepat di bawahnya, membuat Shikamaru tertekan dengan tekanan angin dari atas.

“keren!” Rishiru menatap ibunya dengan pandangan berbinar-binar.

“haaah.. haaah..” Shikamaru akhirnya mendapatkan kembali napasnya.

“kok kamu tadi nggak lari?” tanya Temari.

“soalnya repot, kalo’ aku tadi lari, pasti jadi lama..” dia berdiri, kemudian mencium pipi Temari. “hari ini aku kan mau ngelatih mereka..”

“konyol..” kata Temari sambil berkecak pinggang.


“kamu udah hafal segel-segel tadi?” tanya Shikamaru ke Shikari. Shikari mengangguk.

“Rishiru. Kamu latihan mengkonsentrasikan chakra dulu, ya?”

Shikari mencoba segel-segel itu beberapa kali, kemudian berhasil waktu percobaan ke sekian kalinya.

“haha! Kamu bisa!” kata Shikamaru, bangga.

“iya dong! Tapi tadi tou-san kalah! Payah!”

“hehe..”

“aku baru sekali ngeliat kaa-san berantem. kaa-san hebat!”

“yup, kaa-san emang jagoan. Dia dulu salah satu jonin Suna yang terkenal sampe ke Konoha..” Shikamaru mengenang masa lalu mereka..

“oo..” Shikari mengangguk-angguk. “ angin itu keren! Sekarang aku tau kenapa Rishiru bisa make’ angin!”

“eh? Tadi kamu bilang apa?”

“angin itu keren.. tapi bayangan juga kok!” Shikari buru-buru menambahkan, takut ayahnya tersinggung.

“bukan! Tentang Rishiru!”

“eeh? Aku bilang Rishiru bisa make’ angin..”

“ITU DIA!”


Rishiru geleng-geleng di sudut lain dojo. Sejeras apapun dia nyoba, bayangannya nggak bisa gerak.

“Rishiru-kun!” panggil ayahnya.

“aku belom bisa, tou-san..”

“kenapa kamu nggak bilang?”

“bilang apa?”

“kamu bisa ngendaliin angin!”

“kan tou-san nggak pernah nanya..”

Shikamaru terdiam. Selama ini dia selalu mikir kalo’ dua anaknya itu sama. Kalo’ Shikari bisa, Rishiru juga bisa. Tapi sekarang dia sadar kalo’ dia salah. Mereka beda. Dan perbedaan itu harus bisa dia terima.

“iya, tapi kalo’ gini kan jadi jelas.. kamu emang nggak bisa kagemane, tapi kamu bisa pake angin kayak okaa-san. Jadi mulai sekarang, kamu latihan sama okaa-san, ya?”

“tou-san.. kecewa sama aku?” tanya Rishiru. Matanya nyaris berair.

“nggak dong. Kamu mungkin nggak bisa kagemane. Tapi kamu kan tetep anak laki-aki kesayangan tou-san..” Shikamaru tersenyum sambil mengelus lembut rambut coklat anaknya yang dikuncir sama kayak rambutnya sendiri.

“anak laki-laki tou-san kan Cuma aku..”

“pokoknya kamu lebih mirip sama tou-san. Kamu inget itu aja. Hal lainya itu..”

troublesome?” Rishiru menebak sambil tersenyum

“yup. Troublesome!


“gimana latihanya?” tanya Shikamaru waktu makan malam.

“hehe..” Rishiru mengacungkan jempolnya.

Temari mengedipkan sebelah mata ke anak laki-lakinya. “dia udah bisa kamaitachi sekarang!”

“latihan kalian gimana?” tanya Temari sambil mengulurkan semangkuk nasi ke depan suaminya.

“yaah.. shikari kan pinter kayak otou-san’nya. Jadi gampang tuh..” Shikamaru tersenyum lebar ke Shikari yang menggangguk bersemangat.


malamnya, di kamar..

“temari..” panggil Shikamaru.

“kenapa?”

“tahun ini mereka masuk akademi kan?”

Temari menggangguk. “bulan juli. Ini bulan april, berarti tiga bulan lagi”

Temari duduk di pinggil tempat tidur, menyisir rambut pirangnya. Shikamaru memeluknya dari belakang, dai meletakkan dagunya di bahu Temari.

Temari meletakkan sisirnya. Tanganya menggenggam lengan Shikamaru yang mengelilingi bahunya.

“waktu aku ke Konoha, Rokudaime tanya..”

“Naruto? Nanya apa?”

“kamu tau kan? Dia sama Hinata anaknya seumuran Shikaru dan Rishiru. Begitu juga anaknya Chouji. Anaknya Ino juga..”

“terus?”

“nah.. Naruto nanya, apa trio ino-shika-chou, bakal kadi quartet ino-shika-chou? Mmm.. maksudnya, apa nanti mereka berdua sekolah di Konoha”.

Temari melepas pelukan Shikamaru, “makudmu.. kita pindah ke Konoha?”

Shikamaru mengangguk. “pikir dulu, deh.. sistem pendidikan Konoha lebih bagus buat anak-anak kita.. dan disini anak seumur mereka sedikit sejak perang waktu itu. Suna academy belum tentu buka tahun ini. ”

Temari berdiri, berjalan menuju jendela. Melemparkan pandanganya keluar.

“aku nggak tau.. aku tinggal disini seumur hidup..” bisiknya.

Shikamaru meletakkan tanganya di bahu Temari. “aku ngerti. Tapi ini bukan demi kita. Ini buat mereka..”

Temari memeluk Shikamaru. Menyandarkan kepalanya di dada Shikamaru yang hangat. Udah lama dia nggak begini. 6 bulan. Dia merindukan suaminya.

“yaudah.. pokoknya, lakuin aja apa yang baik menurut kamu..” Temari memberikan kecupan ringan di bibir Shikamaru.

“thank’s, Temari..”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you