Minggu, 10 Mei 2009

i can't leave you 1 ( monicogelo )

Chapter 1

Sudah satu tahun sejak Shikamaru dan Temari resmi menjadi sepasang kekasih.

Dan di hari yang bertepatan dengan hari itu, Temari kembali ditugaskan ke Konoha untuk membantu persiapan ujian Chuunin.

Karena hal itulah, tak heran kalau hari itu Shikamaru bangun pagi-pagi buta dan bergegas menuju ke gerbang Konoha untuk menjemput Temari yang akan datang dari Suna.

Biasanya, Shikamaru selalu bangun kesiangan. Sekitar jam 10 atau jam 11. Kecuali kalau ada misi penting yang harus dilaksanakan. Dia akan bangun pagi untuk urusan itu. Itupun karena ibunya yang memaksa. Kalau tidak dipaksa, Shikamaru tidak akan bangun sekalipun ia harus melaksanakan misi penting hari itu juga.

Tapi kali ini, Shikamaru benar-benar memecahkan rekor luar biasa. Ia bangun pagi-pagi sekali tanpa paksaan dari ibunya. Ia bangun, juga bukan karena alarm yang sengaja ia hidupkan semalam sebelumnya.

Semua itu karena niatnya sendiri.

“Hoooaaaamm.. Loh? Shikamaru? Kamu sudah bangun? Sejak kapan?” Shikaku yang baru bangun, langsung menajamkan pengelihatannya. ‘Apakah itu benar anakku? Apa aku masih tidur dan bermimpi?’ pikirnya.

“Sejak kalian masih tertidur pulas, Yah,” jawab Shikamaru sambil sarapan.

“Apa aku bermimpi? Tidak mungkin anakku bisa bangun sepagi ini! Apalagi, tidak ada seorangpun yang membangunkannya..” Shikaku bergumam. “Bangun, Shikaku!” Shikaku menampar pipinya sendiri.

“Ayah tidak sedang bermimpi, kok. Ayah sudah bangun!” kata Shikamaru.

Shikaku mulai mempercayai pengelihatannya. “Apa yang membuatmu bangun sepagi ini?” tanya Shikaku, lalu duduk berhadapan dengan Shikamaru. “Hari ini kamu ada misi ya?”

Shikamaru masih mengunyah sarapannya. “Nanti ayah akan tahu sendiri,” kata Shikamaru penuh misteri.

Giliran Yoshino yang keluar dari kamar tidurnya. “Shikamaruuu.. bangun.. sudah pagi..” Itulah kata-kata pertama yang diucapkan Yoshino ketika baru bangun tidur. Ia tak menyadari kehadiran Shikamaru, karena matanya masih lengket.

“Hei, Bu, aku di sini. Aku sudah bangun,” Shikamaru melambai-lambaikan tangannya di depan mata Yoshino.

Yoshino langsung melotot. “Hah?! Sejak kapan kamu bangun sepagi ini?” tanya Yoshino.

“Sejak hari ini,” jawab Shikamaru santai.

“Ada misi penting ya? Apa itu yang membuatmu bangun sepagi ini?” Yoshino membuka jendela untuk menghirup udara di pagi hari.

Sebelum Shikamaru menjawab, Shikaku langsung mendahului, “Nanti kau akan tahu sendiri,” katanya sambil menirukan gaya Shikamaru. Penuh misteri.

“Aku sudah selesai. Aku berangkat ya, Ayah, Ibu.. Daaaah..” Shikamaru bergegas keluar. Ia berlari kecil sambil bersenandung riang.

Shikaku dan Yoshino mengawasi Shikamaru lewat jendela.

“Aneh, mengapa dia begitu riang hari ini?” tanya Shikaku.

“Iya.. Tidak biasa-biasanya..” timpal Yoshino.

“Ada yang tidak beres dengan anak itu..” kata Yoshino lagi.

“Apa jangan-jangan, dia mau bertemu dengan kekashinya?” selidik Yoshino.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu.. Tidak mungkin orang secuek dia bisa jatuh cinta..” kata Shikaku.

“Oh yeah!?” Yoshino berkacak pinggang. “Kamu juga orang yang cuek seperti dia, tapi kenapa kamu bisa jatuh cinta kepadaku dan menikahiku?”

“Heee.. kan masalahnya beda..” Shikaku menyeringai. “Tapi kalau Shikamaru memang benar-benar sudah punya kekasih, ya.. baguslah! Aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu pertamaku..” Shikaku berangan-angan.

“Kau ini! Jangan berpikir sejauh itu! Ada-ada saja..” Yoshino menepuk pundak Shikaku.

Beralih ke Shikamaru. Sekarang dia sudah berada di depan gerbang Konoha dalam keadaan stand-by. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Padahal Temari baru akan tiba kira-kira pada pukul 8 pagi.

“Shikamaru sedang apa di situ?” tanya Kotetsu yang sedang berjaga di pos.

“Tidak tahu. Tanyakan saja sendiri padanya,” kata Izumo.

Baru saja Kotetsu akan memanggil, Izumo menahan dengan cepat.

“Bicara baik-baik padanya! Jangan bicara yang aneh-aneh! Ingat! Kita sudah dapat ultimatum dari Shikamaru! Kau masih ingat kejadian setahun yang lalu kan, Izumo?”

“Ha? Kejadian yang mana ya?” Kotetsu benar-benar tak mengingatnya.

“Ugh! Masa kau lupa? Waktu Temari-san ke sini! Ingat tidak? Waktu Shikamaru menyatakan perasaannya…” Izumo berusaha mengingatkan Kotetsu.

Kejadian setahun yang lalu…

Ketika Shikamaru menyatakan perasaannya di hadapan Temari…


“Kalung ini melambangkan perasaanku kepadamu..” Shikamaru menarik napas dalam-dalam.

“Aishiteru..” ucapnya kemudian.

Ingatkah kalian?


Ketika Izumo dan Kotetsu diberi ‘pelajaran tak terlupakan’ dari Shikamaru…

“Nani???” Shikamaru terbelalak. “Jadi sejak tadi kalian ada di situ!?” tanya Shikamaru.

“Ya.. begitulah..” Izumo dan Kotetsu tersenyum jahil. “Kami sengaja sembunyi…” Kotetsu menahan tawa.

“KA—LI—AN!!!” Shikamaru mengepalkan tangannya. Mukanya memerah karena marah bercampur malu.

“Aaaaa!!!! Ampuuun!!!!”

BRUG! DASH! JREK! DUARR!

“Shikamaruuu.. maaf.. kami minta ampun deh..” kata Izumo dan Kotetsu dengan posisi terbalik. Tubuh mereka terikat tali.

“Bagaimana?? Enak tidak, rasanya digantung di atas gerbang Konoha setinggi ini??” tanya Shikamaru dari bawah dengan senyum mengejek.

“Shikamaru!! Turunkan aku!! Aku takut ketinggian!!” teriak Kotetsu.

“Shikamaruu.. tolonglah.. kepalaku mulai pusing..” rengek Izumo.

Untung Shikamaru masih punya rasa kasihan. Maka, Shikamaru menurunkan kedua orang gila itu.

“Kalian berdua, dengarkan aku baik-baik ya. Ini ultimatum pertama. Kalau kalian masih berani melakukan hal ini, tidak akan kumaafkan! Akan kugantung kalian di atas patung wajah Hokage!” ancam Shikamaru sambil menunjuk ukiran wajah-wajah Hokage yang sangat tinggi itu.

“B—baik, Shikamaru! Kami berjanji tidak akan mengulangi!” kata mereka berdua.

“Hhmmm… Bagus..”


“Kotetsu, apa sekarang kau sudah ingat kembali?” tanya Izumo.

“Ya, ya. Aku ingat sekarang. Ok, aku akan menjaga kata-kataku.”

“Awas ya, kalau sampai kamu mengungkit-ungkit masalah hubungan mereka berdua! Aku tidak mau digantung di atas patung Hokage!”

“Iya! Jangan khawatir…” Kotetsu berjalan menghampiri Shikamaru yang masih berdiri di depan gerbang.

“Hei, Shikamaru!” Kotetsu menepuk pelan pundak Shikamaru.

“Eh, Kotetsu..”

“Sedang apa kau pagi-pagi begini berdiri di sini?” tanya Kotetsu baik-baik.

“Aku menunggu utusan Suna. Ujian Chuunin sudah hampir dekat, jadi dia diutus ke sini untuk membantu persiapan ujian Chuunin.”

“Utusan Suna? Siapa?” Kotetsu pura-pura tidak tahu.

“Kankurou,” jawab Shikamaru singkat.

“Kankurou?? Bukannya—”

“Aku hanya bercanda! Ya siapa lagi kalau bukan Temari?”

“Oooh.. Tapi, kenapa kamu datang sepagi ini?”

“Terserah aku dong!”

“Oooh.. Aku tahu, pasti karena kau—” Kotetsu hampir saja lancang, sampai akhirnya Izumo dengan cepat muncul di belakang Kotetsu dan menutup mulut Kotetsu.

“Karena aku apa?” tanya Shikamaru sinis.

“Eee.. mungkin maksud Kotetsu, karena kau rindu padanya..” ralat Izumo. Sementara itu Kotetsu meronta-ronta minta dilepaskan.

“Apa??”

“Eh! M—maksudku, mungkin karena kau takut datang terlambat dan kena marah Temari-san.. ya kan?” Izumo gelagapan.

“Huh! Sok tau!” sindir Shikamaru. “Lebih baik kalian kembali ke pos! Aku ingin sendirian di sini!” usir Shikamaru.

Tanpa berkata apa-apa, mereka berdua langsung berlari ke pos dengan napas lega. Kalau Kotetsu lancang, hampir saja mereka digantung di atas patung Hokage.

Tak disangka, Temari begitu cepat sampai ke Konoha. Padahal jam baru menunjukkan pukul 06.30.

“Shikamaru!” Temari berlari ke arah Shikamaru.

“Hai! Temari!” Shikamaru memeluk Temari. “Kenapa kamu datang sepagi ini?” tanya Shikamaru.

“Aku berangkat lebih awal dari Suna, karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu!” kata Temari.

“Aku juga sengaja bangun pagi-pagi untuk menemuimu..” Shikamaru dan Temari berjalan masuk ke desa.

Kotetsu dan Izumo tak berani berkomentar apa-apa, selain menyapa “Selamat pagi”. Mereka takut akan ancaman Shikamaru.

“Temari, hari ini kan hari jadi kita..” kata Shikamaru.

“Oh iya! Sekarang tanggal 3 Agustus ya? Aku hampir saja lupa! Bagaimana kalau kita makan-makan?” usul Temari.

“Aku tidak akan mengajakmu makan, tapi aku akan mengajakmu ke rumahku.”

“Ngomong-ngomong, orangtuamu mengetahui hubungan kita tidak?” tanya Temari.

“Mereka belum tahu apa-apa tentang kita. Makanya itu, aku ingin mengajakmu ke rumahku! Aku akan mengenalkanmu kepada kedua orangtuaku. Kamu sendiri, apa kamu sudah memberitahu Gaara dan Kankurou?”

“Hmm.. sudah.”

“Benarkah? Lalu, apa komentar mereka?”

Flashback…

BRAK! “Gaara!!” Temari membuka pintu ruang kerja Gaara dengan penuh semangat.

“Ada apa, nee-san?” Gaara kaget.

Temari langsung melompat ke atas meja Gaara yang penuh dengan dokumen-dokumen dan memeluk Gaara.

“Nee-san! Lepaskan aku!” Gaara mulai sulit bernapas.

“N—nee-san? Ada apa sih?” tanya Gaara setelah Temari bangkit berdiri. Ia memungut dokumen-dokumen miliknya yang bertebaran ke mana-mana.

“Arigatou, Gaara-sama! Terima kasih karena kamu sudah mengutus Matsuri menjadi kepala pasukan penjaga benteng pertahanan!”

Kret.. seseorang membuka pintu. “Waktunya makan siang, Gaara. Eh, Temari! Kau sudah kembali?” Kankurou masuk ke ruangan Gaara.

“Kankurou!!” Temari menyambar Kankurou dan langsung memeluknya.

“Kau kenapa sih?!” tanya Kankurou.

“Aku senaaang sekali!” Temari memeluk Kankurou makin erat.

“Hei! Lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas!” kata Kankurou yang benar-benar sesak. “Oksigen!! Aku butuh oksigen!!” pekiknya panik.

Temari melepaskan pelukannya. “Apa kau baru bertemu orang gila, lalu ikut-ikutan gila?” tanya Kankurou.

“Jahat! Aku masih waras tau!”

“Kalau mengaku masih waras, kenapa hari ini kau seperti orang kesurupan?” Kankurou duduk di hadapan Gaara.

“Aku hampir mati sesak tau!”

“Kankurou, bukan kau saja yang jadi ‘korban’. Aku juga..”

Temari tersenyum penuh misteri. “Kau kenapa sih?” tanya Gaara setelah merapikan dokumen-dokumennya.

“Ayo beri tahu kami!” pinta Kankurou.

Temari menyeringai. “Shikamaru menembakku!” kata Temari kemudian.

“Apa!? Laki-laki itu menembakmu!?” Gaara shock.

“Berani sekali dia! Temari! Bagian mana yang terluka?!” tanya Kankurou panik.

“Apa sih masksud kalian? Maksudku, Shikamaru menyatakan perasaannya kepadaku..” jelas Temari.

“Ooooh…” mereka berdua mengerti.

“Jadi, kau dan dia sudah punya hubungan khusus dengannya?” tanya Kankurou antusias.

“Pacaran?” ulang Gaara.

“Yaa.. begitulah! Bagaimana, kalian setuju tidak?” tanya Temari.

Mereka berdua terlihat berpikir keras.

“Baiklah, kalau itu membuat nee-san lebih bahagia, aku tidak akan segan untuk merestui kalian. Asal, jangan kelewatan! Kau satu-satunya kakak perempuan kami!” kata Gaara.

“Aku setuju! Nanti kalau kalian menikah, aku jadi pendamping pengantin ya!” kata Kankurou semangat.

“Kalau begitu, pendamping pengantin prianya siapa?” tanya Gaara.

“Hmm.. Matsuri!” usul Temari.

“Tunggu! Kalau pendamping pengantin prianya Matsuri, lebih baik, pendampingmu Gaara saja! Bagaimana? Mereka berdua terlihat cocok kan?” kata Kankurou dengan senyum jahil.

“Maksudmu, Gaara dan Matsuri?” tanya Temari.

“Yep!” Kankurou mengangguk.

“Hahhh.. bicara apa kau ini..” Gaara membolak-balik dokumennya. Pura-pura tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Kankurou barusan.

“Hehehe… Gaara, mukamu memerah..” Kankurou melirik wajah Gaara yang sengaja disembunyikan.

“Apa sih?!” Gaara terlihat kesal dengan tingkah kakaknya.

Temari dan Kankurou pun tertawa bersama. Sementara Gaara masih membolak-balik dokumennya yang sebenarnya dalam posisi terbalik. Wakakakakak!

End Flashback…

Mereka hampir dekat dengan akademi. Rencananya, setelah diberi pengarahan dari Tsunade, Shikamaru mau membawa Temari ke rumahnya.

“Shikamaru?”

“Hn?”

“Apa orangtuamu akan menerimaku?”

“Pasti! Kenapa? Kau takut mereka tidak merestui hubungan kita?”

“Sepertinya begitu..”

Shikamaru merangkul Temari. “Jangan cemas, mereka pasti akan menerimamu..”

Temari berusaha tersenyum, walaupun sebenarnya perasaannya tidak enak.

To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you