Chapter 5
Pagi ini, langit terlihat mendung. Suasana hati Shikamaru juga tidak baik. Yoshino memutuskan untuk mengurungnya di rumah. Jadilah, ia sekarang berada di dalam kamarnya yang gelap. Ia duduk termenung di atas tempat tidur. Ia masih memikirkan kata-kata ibunya semalam.
SHIKAMARU!! SEBENARNYA SIAPA YANG KAMU PILIH? IBU, ATAU GADIS ITU?!
Kata-kata itu terus mengusik pikirannya.
Apa kau lebih memilih dia dibandingkan aku, ibu kandungmu sendiri?
“Arrrggh!!” Shikamaru memegangi kepalanya yang serasa mau meledak. Semakin diingat, semakin membuat kepalanya sakit.
‘Kenapa aku harus menghadapi dua pilihan ini!?’ batinnya. ‘Kalau, aku menuruti ibuku, apa yang harus kukatakan pada Temari?’
Sementara itu, Temari yang ada di penginapan, sudah bersiap untuk berangkat ke akademi.
‘Aneh.. kenapa dia belum datang? Padahal, dia selalu menjemputku tepat waktu..’ Temari melihat ke luar jendela. Jalanan masih sepi.
‘Apa aku jemput saja, ya, ke rumahnya?’ pikirnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke rumah Shikamaru. Meskipun ia tahu—Yoshino tidak akan menerima kedatangannya.
***
Temari melewati hutan rusa. Ia melompat-lompati dahan-dahan pohon. Dari bawah, terlihat rusa-rusa yang sedang berlari ke sana-kemari. Ada pula rusa-rusa yang sedang makan dedaunan.
Terlihat juga seseorang yang tak asing di mata Temari.
Shikaku. Ia sedang memberi makan rusa-rusanya. Temari pun menapakkan kakinya di tanah, lalu berlari mengahmpiri Shikaku.
“Shikaku oji-san!” sapa Temari.
“Hey! Temari! Apa yang kau lakukan di sini, nona cantik?” sahut Shikaku.
“Nona cantik? Oji-san bisa saja! Aku ke sini mau mencari Shikamaru. Aku dan dia kan masih punya tugas di akademi. Apa dia masih tidur?” tanya Temari.
Seketika itu juga, wajah Shikaku berubah jadi lesu. “Shikamaru.. dia..”
“Shikamaru kenapa, Oji-san?” tanya Temari agak cemas.
“Istriku mengurungnya di rumah. Shikamaru tidak boleh keluar rumah, kecuali atas perintah istriku..” jelas Shikaku.
“Begitu ya.. kasihan sekali dia..” kata Temari.
“Ehh.. kau ingin bertemu Shikamaru? Ayo, aku antar!” ajak Shikaku.
Temari mengikuti langkah Shikaku. ‘Sebenarnya apa yang menyebabkan Shikamaru sampai dikurung oleh ibunya sendiri?’ batinnya. ‘Apa karena aku?’
Shikaku membuka pintu. “Shikamaru!! Temari mencarimu!!” teriak Shikaku.
Tiba-tiba saja, yang tidak diinginkan muncul. Yoshino berjalan tergesa-gesa menuju teras rumah.
“Heh! Gadis berambut aneh! Untuk apa kau ke sini!?” bentak Yoshino.
“Ehm.. oba-san, hari ini aku dan Shikamaru ada tugas di akademi.. jadi aku ke sini untuk menjemput Shikamaru..” kata Temari gugup.
“Shikamaru tidak bisa diganggu! Beritahu Tsunade-sama, carikan pengganti Shikamaru!” kata Yoshino ketus.
“Tapi oba-san…” kata-kata Temari terputus.
“Sudah jangan membantah!” kata Yoshino kasar.
Shikamaru yang sedang meringkuk di kamarnya, langsung mendongak kaget. ‘Suara itu… seperti suara Temari..’
“Satu lagi,” kata Yoshino sebelum membanting pintu rumahnya. “Jangan lagi kau dekati anakku! Dia sudah aku jodohkan dengan perempuan pilihanku, yang jauh lebih berkualitas darimu!” kata Yoshino sadis.
“Sekarang, pergi dari rumahku!! PERGI!!!” bentak Yoshino.
“TUNGGU, TEMARI!! JANGAN PERGI!!” Shikamaru berlari keluar dari kamarnya.
“Shikamaru!! Siapa yang menyuruhmu keluar?! Cepat masuk!! Jangan temui perempuan ini lagi!” Yoshino memaksa Shikamaru untuk masuk ke rumahnya.
“Shikamaru…” panggil Temari.
“Temari!! Jangan pergi!!” teriak Shikamaru yang makin menjauh. Yoshino terus mendorongnya.
“SHIKAKU! AYO, MASUK!!” teriak Yoshino dari dalam. Ia masih terus menahan Shikamaru yang meronta-ronta.
Shikaku memandang Temari dengan wajah pasrah. “Temari.. maaf.. aku tidak bisa berbuat apa-apa..” sesal Shikaku.
“Oji-san..” Temari ingin memohon, tapi Shikaku sudah terlanjur menutup pintu.
“TEMARI!!!” suara Shikamaru masih terdengar jelas dari dalam rumah. “JANGAN PANGGIL-PANGGIL NAMA ITU LAGI!!!” suara Yoshino juga tak kalah keras.
Temari yang kini berdiri di depan pintu—sendirian—hanya bisa berdiri mematung.
“Shikamaru…” panggil Temari pelan.
CRASH… hujan pun turun. Angin kencang berhembus. Temari mulai menggigil kedinginan.
Dengan lesu, ia berjalan tertatih-tatih menerobos hujan deras—menuju ke akademi yang masih jauh.
Tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang melindunginya. Entah apa itu. Sesuatu itu lebih mirip gumpalan tinta hitam yang membentuk sebuah payung yang aneh.
Temari mendongak ke atas. ‘Payung?’ pikirnya, lalu menoleh pelan ke arah pemilik payung itu.
“Tidak baik menerobos hujan deras seperti ini, nanti kau bisa sakit,” kata laki-laki pemilik payung itu. Laki-laki itu berkulit putih pucat, dan mengenakan pakaian hitam. Ia tersenyum ramah menatap Temari.
Temari sama sekali tidak mengenalnya.
“Kenapa diam? Ayo, jalan. Aku antar, ya!” kata laki-laki itu.
Temari membalas senyum laki-laki itu. “Terima kasih..” ucapnya.
Temari dan orang yang tak dikenalnya itu pun berjalan bersama menerobos hujan deras.
“Kau mau kemana?” tanya laki-laki itu—masih tetap tersenyum.
“Mau ke akademi,” jawab Temari. ‘Orang ini baik sekali..’ pikirnya. Temari berinisiatif untuk mengenalkan dirinya. “Aku Sabaku no Temari, dari Sunagakure. Kau?”
“Oh ya! Perkenalkan, namaku Sai,” kata laki-laki yang bernama Sai itu.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Temari.
“Tadi aku kebetulan lewat sini, lalu aku melihatmu menerobos hujan. Ya sudah, langsung saja aku menghampirimu ke sini..” jelas Sai. “Kau sendiri sedang apa di sini?” tanya Sai.
“Aku dan Shikamaru punya tugas di akademi, jadi aku datang ke sini untuk menjemputnya,” jelas Temari.
“Begitu.. tapi, kenapa dia tidak bersamamu sekarang?”
“Ehh.. Shikamaru sakit, jadi ia tidak bisa bertugas di akademi,” kata Temari bohong.
“Oh.. Eh iya, kau sudah sarapan belum?”
“Belum.. kau sendiri?”
“Aku juga belum. Kita ke Yakiniku Q saja yuk! Mau tidak?” tawar Sai.
“Oh.. boleh..”
***
Di Yakiniku Q…
“Eh.. Sai?”
“Ya?”
“Boleh aku jujur? Sebenarnya Shikamaru tidak sedang sakit..”
“?” Sai agak bingung. “Lalu?”
“Ceritanya panjang. Sebenarnya, aku dan Shikamaru sudah memiliki hubungan khusus. Tapi, sejak Shikamaru dijodohkan dengan perempuan pilihan ibunya, aku tidak boleh bertemu lagi dengan Shikamaru. Apalagi melanjutkan hubungan kami. Dan pagi tadi, aku diberi peringatan oleh ibunya, kalau aku tidak boleh dekati Shikamaru lagi…”
“Lalu, apa yang terjadi dengan Shikamaru sekarang?” tanya Sai.
“Dia dikurung ibunya. Dia tidak boleh keluar rumah,” jawab Temari.
Sai ikut prihatin. “Jadi.. kau tidak boleh bertemu dengannya karena.. ia akan dijodohkan dengan perempuan lain?”
“Hmph..” Temari mengangguk pelan.
Wajah Sai tiba-tiba berubah jadi sedih. Ia seperti mengingat sesuatu yang mirip dengan kasus Temari.
“Jangan takut, kau tidak sendirian!” Sai berusaha tersenyum, agar Temari tidak sedih.
“Apa maksudmu berkata begitu?” tanya Temari heran.
“Di luar sana, masih ada orang yang senasib denganmu. Dia juga mengalami kasus yang sama denganmu,” kata Sai.
“Kau tahu? Siapa?”
“Aku,” jawab Sai pendek.
“K—kau? Apa yang terjadi denganmu?”
“Yah.. kira-kira sama sepertimu.. aku memliki hubungan khusus dengan perempuan pujaanku. Tapi, ia akan dijodohkan dengan laki-laki lain..” kata Sai dengan nada sedih.
Temari terdiam sebentar. “Siapa laki-laki yang akan dijodohkan dengan kekasihmu itu?”
“Aku tidak tahu.. ia merahasiakannya dariku..” jawab Sai pelan.
Temari tersenyum tipis. Senyum yang menunjukkan perasaan senasibnya dengan Sai. Seperti yang dikatakan Sai, ia tidak sendirian. Masih ada orang yang senasib dengannya.
Temari mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Sepertinya hujan sudah reda.”
Sai menengok ke luar jendela. Terlihat Naruto, Sakura, dan Yamato berjalan menuju ke suatu tempat. “Eh iya! Aku lupa!” Sai menepuk jidatnya setelah melihat mereka. “Aku ada latihan hari ini!”
“Ya sudah, aku juga mau ke akademi,” kata Temari, lalu berjalan keluar dari kedai.
“Aku duluan ya, Temari!” Sai berlari menyusul Naruto, Sakura, dan Yamato.
“Sampai jumpa..” Temari melambai. Lalu ia berbalik arah menuju ke akademi.
Sling.. tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Eh! Sai! Siapa nama keka…” kata-kata Temari terputus. Sai sudah menghilang dari pandangannya.
“Ah.. ya sudahlah.. tidak penting…” Temari kembali melanjutkan perjalanannya menuju akademi.
***
Hari ini, Temari terpaksa bekerja sendiri. Tanpa Shikamaru. Masalahnya, Tsunade tidak bisa mencarikan pengganti Shikamaru.
Temari pun terpaksa berbohong. Ia mengatakan kalau Shikamaru sedang sakit, jadi tidak bisa bertugas di akademi.
Sehari tanpa Shikamaru memang berat rasanya. Tidak ada orang yang bisa diajak ribut. Tidak ada orang yang suka tertidur saat bekerja. Tidak ada orang yang hobi mengeluh dan berkata ‘merepotkan’ ratusan kali dalam satu jam.
Tidak hanya hari itu, tapi, sampai hari ini, Temari masih tetap dalam kesendirian. Sudah berhari-hari lamanya Shikamaru dikurung oleh Yoshino. Dan selama itulah, Temari tidak bisa menemui Shikamaru. Hari-hari yang menyakitkan..
suatu sore, setelah selesai bekerja, Temari beristirahat sejenak sambil bersandar di kursinya. Lalu memperhatikan kalender yang terletak di atas meja kerjanya.
Ia membaca nama bulannya. Hachigatsu. Lalu ia membaca tanggal hari ini. Tanggal 20.
“20 Agustus..” gumamnya. “Itu berarti, 3 hari lagi aku ulang tahun..”
Wajahnya tampak sedih. Padahal, tidak semestinya orang yang akan berulang tahun, menampakkan wajah yang terlihat sedih dan tak bersemangat.
‘Sampai kapan aku harus menjalani saat-saat seperti ini?’ Temari merenung. ‘Apakah di hari spesialku nanti, aku akan merayakannya sendiri tanpa kehadirannya?’
Tok.. Tok.. “Temari-san, ini aku. Boleh aku masuk?” seseorang memanggil dari depan pintu.
Temari mengenali suara itu. “Iruka-senpai? Masuklah.”
“Temari-san, apakah semua pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Iruka.
Temari mengangguk lesu. “Aku bantu kau membereskan dokumen-dokumen ini, ya?” kata Iruka, lalu membereskan dokumen-dokumen di atas meja.
Temari ikut membantu Iruka. Tapi, geraknya sangat lemah dan tak bersemangat. Iruka langsung mengerti kenapa Temari terlihat tak bersemangat, karena ia sudah mengetahui semua tentang Temari dan Shikamaru. Siapa lagi kalau bukan dari Naruto..
“Ehm.. Temari-san, lebib baik, kau kembali saja ke penginapan. Biar aku yang membereskan sendiri data-data ini,” kata Iruka.
“Ng? Kenapa?”
“Kamu kelihatannya kelelahan.. lebih baik kamu kembali ke penginapan lalu istirahat.”
“Senpai tidak keberatan?” tanya Temari.
“Ah! Ini masalah kecil! Aku sudah biasa!” kata Iruka enteng.
“Baiklah, aku duluan ya, senpai! Terima kasih!” Temari meninggalkan Iruka.
***
Temari berjalan menuju penginapan. Di perjalanan, ia melewati kedai makanan yang sudah tidak asing lagi baginya. Hampir setiap kali Temari bertugas di Konoha, ia dan Shikamaru makan bersama di kedai itu. Temari memandang kedai itu dengan senyum pahit. Tiba-tiba, matanya memandang sosok laki-laki yang sepertinya ia kenal.
“Dia itu…” Temari berusaha mengingat-ingat. “Ah! Itu kan laki-laki yang waktu itu sarapan bersamaku! Kalau tidak salah.. namanya.. Sai!”
Temari memandang lekat-lekat. Ia menangkap sosok perempuan yang duduk berhadapan dengan Sai. Mereka berdua terlihat akrab sekali. Seperti sepasang kekasih. Sepertinya Temari mengenal perempuan itu. Sulit untuk mengenali perempuan itu, karena kaca jendela Yakiniku Q agak buram. Temari menajamkan pengelihatannya. Dilihatnya rambut gadis yang sedang bersama Sai itu. Warnanya pirang, panjang, dan.. “Ino!?” Temari agak memekik.
“Begitu..” gumam Temari. “Ino sudah memiliki hubungan khusus dengan pria lain.. tapi, kenapa menerima perjodohan itu? Sebenarnya apa maksudnya?”
Tanpa berpikir lama, Temari bergegas masuk ke kedai itu, lalu menghampiri meja Sai dan Ino.
“Eh, Temari! Kebetulan kita bertemu di sini!” sapa Sai.
“Temari, ini Ino, kekasihku,” Sai memperkenalkan Ino pada Temari.
“Jadi kau sudah punya hubungan khusus, Ino!? Lalu apa maksudmu menerima perjodohan itu!?” tanya Temari.
“Kenapa? Kau tidak suka?” Ino cuek.
“Apa kau hanya mempermainkan Shikamaru?!” tanya Temari.
Ino bangkit dari tempat duduknya. “Kalau bukan karena tanduk rusa itu, aku tidak mungkin menerima perjodohan itu!” Ino lancang, tapi sesaat kemudian ia sadar apa yang baru saja dikatakannya. Ino reflek menutup mulutnya.
“Tanduk rusa?” ulang Temari bingung. “Apa maksudmu?” tanya Temari.
Ino jadi salah tingkah. Ia menarik Temari menjauh dari Sai.
“Heh, dengarkan aku baik-baik!” kata Ino.
“Aku itu cuma pura-pura menerima perjodohan ini! Yoshino-san berjanji, jika aku menikah dengan Shikamaru, dia akan memberikan tanduk rusa unggulan klan Nara kepadaku! Dan aku sangat menginginkan tanduk rusa itu! Jadi kuperingatkan, jangan lagi kau dekati Shikamaru! Kalau kau masih berurusan dengannya, aku akan meminta ayahku untuk mempercepat hari pertunanganku dengan Shikamaru! Kau tidak bisa apa-apa, gadis Suna menyebalkan! Yoshino-san ada di pihakku! Ingat itu!” Ino mengancam.
“Hei! Jika kau menikah dengan Shikamaru, bagaimana dengan Sai?!”
“Mudah saja! Aku akan langsung memutuskan hubunganku dengannya! Lagipula, sampai saat ini, dia masih belum tahu, siapa laki-laki yang akan dijodohkan denganku!” kata Ino dengan gaya angkuh.
Tanpa mereka sadari, dari awal Ino berbicara dengan Temari, Sai menguping pembicaraan mereka. Otomatis ia mendengar semua yang dikatakan Ino. ‘Jadi.. selama ini aku dianggap apa olehnya? Mainan?’ batin Sai. Hatinya sangat pedih.
“Kuperingatkan sekali lagi, jauhi Shikamaru!! Kalau tidak,aku akan melakukan apa saja sesukaku untuk mendapatkan Shikamaru!!” ancam Ino.
“Lakukan saja! Aku tidak takut! Sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkan Shikamaru!” tantang Temari.
Ino membuang muka, lalu berjalan meninggalkan Temari. “Eh? S—Sai?” Ino kaget ketika mendapati Sai yang berdiri tak jauh dari tempat dirinya dan Temari berbicara empat mata.
“Se.. sejak kapan kau di sini?” tanya Ino gugup.
Sai tidak menoleh sedikitpun. “Ternyata…” Sai berkata pelan. “Ternyata selama ini aku hanya dipermainkan..”
Ino kaget setengah SEKARAT. ‘Jadi.. dia mendengar semua omonganku?’ pikirnya.
“Kau ini… perempuan tak berperasaan!! PEREMPUAN SIALAN!!” Sai membentak, setelah itu ia meninggalkan Ino. Tak disangka, Sai yang biasanya diam dan selalu tersenyum, bisa membentak sekasar itu. Lagi-lagi, satu orang memecahkan rekor.
“SAAAIII!!!” jerit Ino. Terlambat. Sai sudah menghilang dengan cepat.
“Sai.. aku minta maaf…”
To Be Continued…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thank you