Chapter 6
Ino berlari tergesa-gesa menuju rumahnya. Sasaran utamanya adalah Inoichi.
“Ayah!!” Ino mendobrak pintu, lalu berlari mencari ayahnya yang sekarang berada di dapur.
“Ino! Kau sudah pulang?” sapa Inoichi.
“Ayah!! Aku tidak mau terlibat dalam perjodohan ini!!” kata Ino tegas.
“Heh? Maksdumu, kau tidak mau dijodohkan dengan Shikamaru?” ulang Inoichi.
“Aku tidak tahan lagi! Tadi baru saja Sai memutuskan hubungan kami…” kata-kata Ino tertahan. Ia pun mulai menitikkan air mata.
“Bagus dong!! Dengan begitu, kita dapat dengan mudah melangsungkan pertunanganmu dan Shikamaru. Lalu kita akan segera mendapatkan tanduk rusa itu!!” kata Inoichi tanpa memperdulikan Ino yang sedang menangis.
“Aku tidak mau membanding-bandingkan Sai dengan tanduk rusa!! Aku tidak mau bertunangan dengan Shikamaru! Apalagi sampai menikah dengannya!” kata Ino di sela tangisnya.
“Hei! Hei! Ada apa denganmu? Kau tidak ingin mendapatkan tanduk rusa itu?” tanya Inoichi. Ia agak kaget juga melihat Ino menangis seperti itu. Selama ini, Inoichi selalu menganggap Ino adalah gadis yang tegar dan tidak mudah menangis. Tapi, setegar apapun seseorang, pasti ada batasnya. Ada kalanya orang itu menangis karena tak mampu memendam perasaannya.
“Ayah…” kata Ino setelah tangisnya agak mereda. “Sekarang aku sadar.. Cinta lebih penting daripada tanduk rusa semahal apapun..”
Inoichi terdiam mendengarkan kata-kata Ino. Menurutnya, perkataan Ino ada benarnya juga.
“Selamanya, aku hanya mencintai Sai. Dan aku tidak ingin lagi mempermainkannya. Aku tidak ingin menyakiti perasaannya. Aku takut, ia kehilangan emosinya seperti dulu,” kata Ino pelan.
Inoichi terdiam untuk beberapa lama. Ia memikirkan perkataan Ino. Yang menjadi pilihan adalah: tetap melanjutkan perjodohan ini, atau membatalkannya?
“Aku ayah yang bodoh, ya?” kata Inoichi.
Ino memandang wajah ayahnya seakan bertanya ‘kenapa bodoh?’.
“Aku sebagai seorang ayah, tidak pantas menjerumuskan anaknya sendiri. Apalagi, yang menerima akibatnya adalah anaknya sendiri,” lanjut Inoichi.
“Jadi, maksdu ayah?” Ino menanti kata-kata Inoichi selanjutnya.
Inoichi menarik napas dalam-dalam, lalu menghebuskannya perlahan…
“Aku akan membatalkan perjodohan ini..”
***
Temari duduk menghadap jendela. Hembusan angin pagi menerbangkan tiap helai rambutnya. Ia masih berada di tempat penginapan. Hari ini, ia seperti tidak memiliki semangat hidup. Ia hanya terus memandang ke luar jendela. Yang dilihatnya hanyalah awan. Pemandangan itu membuat hatinya sakit, karena ia jadi teringat oleh seseorang yang paling dekat dengannya. Seseorang yang paling disayanginya. Dan Temari sangat merindukan orang itu.
Pandangannya tertuju pada sepucuk surat yang tergeletak di atas mejanya. Ia mengambil surat itu dan mengambil isi suratnya.
Surat itu adalah kiriman dari Gaara dan Kankurou. Takamaru, si pengantar surat dari Suna, baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Temari membaca isinya, dimulai dari baris paling atas.
Ohayo, nee-san! Tanjoubi omedeto gazaimasu ne!
Kami berdua telah menyiapkan surat ini 3 hari sebelum hari ulang tahunmu.
Bagaimana keadaanmu di Konoha? Kau pasti sedang bersenang-senang dengan Shikamaru, ya?
Temari tersenyum aneh ketika membaca kalimat tadi. “Sayang sekali, keadaan di sini tidak sesuai dengan yang kalian pikirkan,” bisiknya. Lalu ia melanjutkan membaca surat itu.
Kami sangat merindukanmu, nee-san.
Kami berjanji, ketika kau pulang nanti, kami akan membuatkan pesta ulang tahun yang paling meriah!
Cepatlah pulang. Kami menunggumu, nee-san..
Gaara, Kankurou
Temari tertawa kecil ketika membaca kalimat ‘Kami akan membuatkan pesta ulang tahun yang paling meriah!’. Tapi, tiba-tiba saja ia jadi teringat dengan Shikamaru. “Shikamaru..” panggilnya lirih. “Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama? Apakah kau akan datang dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku?” gumamnya. “Ah! Tidak mungkin! Sekarang, Shikamaru sudah memiliki wanita lain. Wanita yang lebih BERKUALITAS dibandingkan aku. Dan mungkin setelah dia menikah dengan perempuan itu, ia akan pergi jauh meninggalkanku, lalu bersenang-senang dengan perempuan itu..”
Tiba-tiba, ia merasa ada kecupan yang lembut menyentuh pipi kanannya. Temari tersentak, lalu menoleh ke samping.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu,” kata laki-laki itu dengan senyum hangat. “Tanjoubi Omedeto…”
Temari tak dapat mempercayai pengelihatannya. “Shi.. ka..ma..ru…” Temari langsung memeluk erat pria yang dinanti-nantinya selama ini. Ia pun menangis di pelukan Shikamaru. Ia melepas kerinduan yang selama ini menghiasi kesendiriannya.
“Sudah, jangan menangis.. aku paling takut melihat wanita menangis..” Shikamaru menenangkan Temari.
Temari melepas pelukannya. Ia memandang Shikamaru dengan senyum bahagia. “Bagaimana caranya kau bisa ke sini?” tanya Temari setelah tangisnya mereda.
“Aku kabur dari rumah,” jawab Shikamaru singkat.
“Kabur? Bagaimana kalau ibumu nanti marah?” tanya Temari cemas.
“Ah! Sudah, biarkan saja! Aku tidak tahan kalau dikurung di rumah terus-terusan!” kata Shikamaru. “Oh, ya. Ini, aku bawakan kue ulang tahun untukmu,” Shikamaru menyodorkan kue ulang tahun berbentuk bulat mungil. Di atasnya, tertancap lilin berbentuk angka 19. Shikamaru menyalakan api di atas lilin itu.
“Ayo, buat permintaanmu..” kata Shikamaru sambil menaruh kue itu di atas meja.
Temari memejamkan matanya, lalu mengucapkan harapannya dalam hati. Setelahnya, ia meniup lilin itu.
“Apa harapanmu?” tanya Shikamaru penuh rasa ingin tahu.
“Ra-ha-si-a!!” jawab Temari dengan senyum misterius.
“Terserah.. apapun harapanmu, aku yakin itu baik untukmu,” kata Shikamaru. “Eh iya, kenapa kau tidak ke akademi?”
“Haaah..” Temari menghembuskan napas panjang. “Aku sedang tidak bersemangat hari ini,” lanjut Temari.
“Kenapa? Kau pikir hari ini adalah hari ulang tahunmu yang paling menyakitkan?” tebak Shikamaru.
Temari meringis, “Iya. Tapi sekarang tidak, karena kau sudah ada di sini, menemaniku di hari spesialku ini..” kata Temari.
“Lebih baik kau beres-beres, lalu ke akademi. Hari ini aku juga ke akademi, kok!” kata Shikamaru.
“Ya sudah, aku mandi dulu, ya. Tunggu aku,” kata Temari, lalu menuju ke kamar mandi.
“Jangan lama-lama! Bisa-bisa aku mati bosan karena kelamaan menunggu!” pesan Shikamaru.
“Ya, ya! Tenang!”
***
Ruang pribadi Sai..
Sai memandangi sebuah lukisan hasil karyanya. “Ino,” desisnya sambil mengusap lukisan itu. Ia membuat lukisan itu untuk hadiah ulang tahun Ino di hari ke depan. Meskipun ini baru bulan Agustus, ia sudah membuat lukisan itu jauh-jauh hari. Tapi, sepertinya, ia tidak akan memberikan lukisan itu kepada Ino. Karena ia tahu, Ino hanya membuat hatinya sakit.
“Kenapa kau begitu kejam terhadapku?” gumamnya. “Teganya kau menukarku dengan tanduk rusa..”
Sai melihat lukisan itu sekali lagi. Kedua tangannya mulai terangsang untuk membanting lukisan itu. Sebelum akhirnya terjadi, ia mendengar suara ketukan pintu.
Tok.. Tok.. Tok.. suara ketukan itu terdengar lemah, namun jelas. Suara itu berasal dari lantai dasar. Sai melongok ke luar jendela. “Siapa itu?” tanya Sai sambil melihat ke bawah.
“Ini aku..” jawab suara itu,lagi-lagi terdengar lemah. Sai tidak dapat mengenali suara itu. Ia lalu turun ke lantai dasar untuk mencari tahu. Sampai di lantai dasar, ia menuju ke pintu utama. Dibukanya pintu itu, dan.. ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Ino.
“Sai.. aku—“
“Untuk apa kau datang ke sini!? Mau mengantarkan undangan pernikahanmu dengan Shikamaru!?” dengan cepat, Sai memotong pembicaraan Ino. Emosinya terlihat jelas di raut wajahnya. Emosi yang tidak dibuat-buat olehnya.
“Tolonglah.. beri aku kesempatan untuk berbicara..” kata Ino dengan suara parau.
Sai jadi iba melihat Ino. “Apa yang ingin kau katakan?” tanya Sai. Akhirnya ia mengizinkan Ino buka mulut.
“Aku.. dan ayahku.. kami berdua setuju akan membatalkan perjodohanku dengan Shikamaru..” Ino memulai topik pembicaraannya. Sai masih terdiam untuk mendengarkan kata-kata Ino selanjutnya.
“Aku telah sadar.. kasih sayang lebih penting dari tanduk rusa sekalipun. Aku minta maaf, Sai, aku telah membanding-bandingkanmu dengan tanduk rusa. Aku tidak mau bertunangan dengan Shikamaru, apalagi menikah dengannya. Hanya karena tanduk rusa, aku memperlakukanmu seperti mainan. Aku ingin selamanya bersamamu. Aku tidak ingin kehilanganmu..” kata Ino panjang lebar.
Mulut Sai serasa digembok. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Apa benar, yang kamu katakan tadi?” tanya Sai.
“Aku tidak bohong! Sai, beri aku kesempatan sekali lagi..” pinta Ino.
“Huuff..” Sai menghembuskan napas. “Baiklah, kali ini, aku memaafkanmu,” kata Sai akhirnya.
Ino—dengan mata birunya yang berbinar, langsung memeluk Sai dengan erat. Sai membalasnya dengan senyum. Senyum yang berasal dari hatinya. Bukan senyuman paslu yang dulu sering ia tunjukkan kepada setiap orang. ‘Terima kasih, Ino, kau sudah datang ke sini. Aku hampir saja merusak hadiah ulang tahunmu,’ batin Sai.
***
“Mau sarapan dulu?” tanya Shikamaru di tengah jalan menuju akademi.
“Boleh. Di Yakiniku Q, ya!” jawab Temari.
“Terserah kamu. Apapun pasti akan kuturuti. Ini kan hari ulang tahunmu,” kata Shikamaru.
Tiba-tiba, dalam hitungan detik, di hadapan mereka berdua, muncullah Sai dan Ino.
Shikamaru tersentak. ‘G.. gawat.. Ino ada disini.. kalau dia tahu aku kabur dari rumah, ia pasti akan memberitahu ibu..’ pikir Shikamaru. Sementara itu, Temari memasang muka galak. ‘Mau apalagi dia? Mau mengajak Shikamaru kawin lari?’ pikir Temari. Shikamaru mundur selangkah, hendak kabur dari situ. Tapi Ino sudah terlanjur menahannya.
“Tidak usah takut, Shikamaru. Aku tahu, kau kabur dari rumah, kan? Tadi ibumu yang memberi tahuku,” kata Ino.
“Mau apa kau?!” tanya Shikamaru.
“Kami ke sini untuk memberi tahu satu hal yang penting,” jawab Sai.
“Apa itu?” tanya Temari.
“Lebih baik kita bicarakan saja di Yakiniku Q. Bagaimana?” tawar Shikamaru.
“Ide yang bagus,” jawab Sai dan Ino kompak.
Di Yakiniku Q…
“Jadi.. apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Shikamaru.
“Shikamaru, aku dan ayahku berencana untuk membatalkan perjodohan kita,” jawab Ino.
“Begitu rupanya.. apa masalahnya?” tanya Temari.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak mau menukar Sai dengan tanduk rusa,” jawab ino pelan.
“Tanduk rusa? Apa maksudmu?” tanya Shikamaru heran.
Dengan berat hati, akhirnya Ino menceritakan semuanya.
“Kurang ajar! Jadi, kau dan ayahmu itu menghasut keluargaku, ya!?” sungut Shikamaru setelah mendengar semuanya dari Ino.
“Aku benar-benar menyesal.. aku minta maaf..” Ino menundukkan kepala.
“Masih pantaskah kau menjadi teman setimku dan Chouji!? Kau itu cuma merusak nama baik ‘InoShikaCho’!” kata Shikamaru dengan nada tinggi. “Lebih baik kau keluar dari tim 10, daripada kau cuma merusak nama baik tim kita! Seandainya Asuma-sensei masih hidup, pasti ia kecewa dengan sikapmu! Sayang, sekarang dia sudah tidak ada di antara kita,” Shikamaru berkata panjang lebar.
“Shikamaru, kumohon.. beri aku kesempatan sekali lagi.. aku tidak mau berpisah dengan kalian berdua..” Ino memelas.
“Shikamaru, berilah dia kesempatan..” bujuk Temari. “Setiap orang kan punya kelemahan..”
Shikamaru terdiam sebentar. “Masih untung Temari membelamu. Kalau tidak ada dia, mungkin kau sudah kuhajar habis-habisan!” kata Shikamaru. “Jadi, apakah kau sudah memberi tahu ibuku tentang ini?” tanya Shikamaru.
Ino menggeleng, “Belum. Aku dan ayahku belum siap,” kata Ino.
“Bagaimana kalau sore ini, kita semua menghadap Yoshino-san bersama-sama?” usul Sai.
“Baiklah. Ino, jangan lupa ajak ayahmu. Nanti sore, kita ke rumahku bersama-sama,” kata Shikamaru.
“Aku mengerti. Ya sudah, aku pamit dulu. Aku harus menjaga toko bunga,” Ino pamit.
“Aku juga pamit. Aku harus menjalankan misi dengan tim 7,” Sai ikut pamit. Mereka berdua pun meninggalkan Shikamaru dan Temari.
“Ehm.. Shikamaru?”
“Apa?”
“Apakah ibumu nanti akan menerima ini semua?”
“Entahlah..” jawab Shikamaru pelan. “Aku hanya bisa pasrah..”
To be continued…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thank you