Minggu, 10 Mei 2009

i can't leave you 3 ( monicogelo )

Chapter 3

Capek bermain-main di hutan, Shikamaru dan Temari berhenti untuk istirahat.

“Huf.. ternyata, larimu cepat juga ya.. aku tidak bisa menangkapmu..” kata Temari sambil duduk di bawah pohon—memperhatikan rusa-rusa yang sedang berlari kesana-kemari.

“Ah.. kau masih lebih cepat dariku..” kata Shikamaru. “Akh.. aku capek! Kita sudah bermain di sini berjam-jam! Aku ingin pulang. Kau ikut ke rumahku, ya?” ajak Shikamaru. Sebenarnya dia tau kalau Temari masih memikirkan kejadian tadi, tapi mungkin saat ini dia sudah melupakannya.

“Ehmm.. aku ke penginapan saja..” jawab Temari.

“Mau kuantar?” tanya Shikamaru.

“Tidak usah. Kamu pulang saja, nanti bisa-bisa ibumu marah!”

“Ya sudah.. besok pagi aku jemput kamu di penginapan, ya?” kata Shikamaru.

“Ya. Cepat sana pulang! Nanti kena marah ibumu! Hari sudah hampir malam!”

“Iya aku tahu.. sampai ketemu besok, ya..” Shikamaru dan Temari menuju ke arah yang berlawanan.

Shikamaru kembali ke rumahnya. Ketika ia membuka pintu, ia mendapati kedua orang tuanya sedang duduk berhadapan dengan Ino dan Inoichi.

“Ada apa ini? Kok tumben ada Ino?” tanya Shikamaru.

“Shikamaru! Kenapa baru pulang sekarang!? Kemana saja kamu!?” omel Yoshino.

“Bermain di hutan,” jawab Shikamaru singkat, lalu berjalan masuk ke kamarnya.

“Eit!! Tunggu dulu, Shikamaru!” Yoshino menarik lengan Shikamaru.

“Apa lagi sih, Bu? Aku mau istirahat!” kata Shikamaru agak kesal.

“Ke sini sebentar! Istirahatnya nanti saja!” Yoshino menyuruh Shikamaru duduk.

“Kenapa sih?” tanya Shikamaru. Shikamaru melirik ayahnya. “Ayah! Ada apa ini? Sepertinya serius sekali!” kata Shikamaru. Ayahnya tak bisa menjawab selain memasang muka pasrah. Sama seperti Shikamaru, Shikaku juga belum tahu apa-apa tentang rencana istrinya ini. DAN dia sama sekali tidak menyetujui perjodohan ini.

Yoshino terlihat kebingungan harus berkata apa. “Eeh… begini, Shikamaru. Aku dan Inoichi-san sudah membuat perjanjian.. ehh..”

“Perjanjian apa, Bu!? Bicara yang jelas!” Shikamaru agak memaksa.

“Emm.. ah! Inoichi! Kau saja yang melanjutkan!” kata Yoshino kepada Inoichi.

“Begini, Shikamaru. Aku dan ibumu sudah merencanakan perjodohan untukmu dan Ino,” jelas Inoichi.

“Perjodohan? Maksudmu, aku akan dijodohkan ama INO?” Shikamaru terbelalak.

“Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan Ino?” kata Inoichi.

“Apa-apaan itu!? Aku tidak mau!!” elak Shikamaru.

“Shikamaru!! Kau harus mau!! Pokoknya ibu tidak mau tahu!” kata Yoshino kasar.

“Aku tidak mau, Buuu!! Aku sudah memiliki Temari!!” balas Shikamaru. Dan terjadilah perhelatan hebat diantara mereka berdua. Sementara itu, Shikaku yang tidak tahu apa-apa tentang rencana ini, hanya bisa duduk diam menyaksikan istri dan anaknya bertengkar.

“CUKUP, BU! AKU TIDAK MAU TERLIBAT DALAM PERJODOHAN INI! SEKARANG AKU MAU ISTIRAHAT!” Shikamaru mengakhiri perdebatannya.

“SHIKAMARU!!” Yoshino berusaha menahan. Tapi terlambat, Shikamaru sudah masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

Yoshino berlari ke arah pintu kamar Shikamaru dan berteriak. “Shikamaru, kamu harus menuruti perkataan ibu!! Jika tiba waktunya, kamu harus menikahi Ino! Dan satu lagi, ibu tidak mau kamu berhubungan dengan perempuan berambut aneh itu!!!” kata Yoshino tegas. Lalu ia kembali ke ruang tamu.

“Eh, aku minta maaf, ya, Ino, Inoichi.. Mungkin dia belum siap dengan semua ini..” kata Yoshino.

“Tidak apa-apa, aku mengerti.. mungkin Ino dan Shikamaru hanya butuh pendekatan lebih lanjut. Siapa tahu, nanti Shikamaru mulai mencintai Ino, begitu juga dengan Ino..” kata Inoichi sambil melirik Ino dan memberi sebuah kode.

“Eh iya, ayah benar!” sahut Ino. “Aku akan buat Shikamaru jatuh hati kepadaku,” lanjutnya percaya diri.

“Ide yang bagus.. Sekali lagi aku minta maaf atas kelakuan Shikamaru tadi..” Yoshino membungkukan badan.

“Tidak apa-apa,” kata Inoichi. “Eh, aku dan Ino pamit, ya. Kami pulang dulu..” Inoichi pamit.

Yoshino mengantar Ino dan Inoichi sampai di depan rumah. Setelah mereka berdua pergi, Yoshino menuju ke kamar Shikamaru karena masih belum puas memarahinya.

“Shikamaru!! Dengarkan aku baik-baik!! Kuperingatkan, kau tidak boleh berhubungan dengan perempuan pilihanmu itu! Aku lebih menyukai Ino daripada perempuan itu! Ingat itu baik-baik!!” Sebenarnya masih banyak yang ingin Yoshino katakan, tapi ia ditahan oleh Shikaku.

Sementara itu di dalam kamar, Shikamaru membenamkan wajahnya di bawah bantal. Ia merasa pusing mendengar omelan dari ibunya.

“Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau bersanding dengan perempuan macam Ino! Selamanya aku hanya ingin bersama Temari!” pekiknya di bawah bantal.

Malamnya, Shikamaru benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang. Di satu sisi, ia tidak mau meninggalkan Temari. Di sisi lain, ia berpikir; tidak mungkin dia melawan nasehat ibunya. Bagaimanapun juga, Yoshino tetaplah ibu kandung Shikamaru.

“Bagaimana ini..” gumam Shikamaru. “Apa yang harus kuperbuat?”

***

Besok paginya, Shikamaru menjemput Temari di tempat penginapan. Wajahnya terlihat lesu dan seperti tak memiliki gairah hidup.

“Shikamaru, kenapa kamu terlihat kusut? Ada apa?” tanya Temari dalam perjalanan menuju kantor Hokage.

“Kusut? Kamu kira aku benang?” Shikamaru berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Ahaha! Maksudku, mukamu itu! Kenapa lesu?”

“Ah! Kau ini seperti tidak pernah mengenalku saja! Dari dulu mukaku kan memang begini, tidak pernah berubah.”

Wajah Temari tiba-tiba berubah jadi serius. “Aku tahu kau menyimpan sesuatu,” kata Temari. “Apa yang kau sembunyikan?” tanya Temari dengan sorotan mata yang tajam. Shikamaru jadi agak ketakutan melihat sorot mata itu.

“Tidak ada!” jawab Shikamaru cepat, namun tak meyakinkan.

“Jangan coba-coba membohongiku!” Temari semakin curiga.

“Aku tidak menyembunyikan apa-apa! Lagipula, apa yang harus kusembunyikan?!” balas Shikamaru.

“Shikamaru, aku sudah cukup lama mengenalmu. Jadi sudah pasti aku tahu bagaimana tampangmu kalau sedang dilanda masalah!” kata Temari. “Ayo beritahu aku!” Temari semakin memaksa.

“Sudah! Cukup! Sekarang lebih baik kita percepat langkah kita! Nanti kalau terlambat, kita bisa dimarahi Tsunade-sama!” Shikamaru mempercepat langkahnya—mendahului Temari.

“Kamu kok mendadak berubah begini, sih? Aneh sekali..” komen Temari setelah menyamakan langkahnya dengan Shikamaru.

“Apa yang berubah?” tanya Shikamaru secuek mungkin.

“Tadi, aku tanya baik-baik, kau malah sewot!” jawab Temari.

‘Apa katanya?? Baik-baik?? Bah! Melihat sorot matanya saja, aku sudah hampir mati ketakutan!’ pikir Shikamaru.

“Apa pentingnya sih kau bertanya hal seperti ini!? Merepotkan..”

Sebelum Temari sempat membalas kata-kata Shikamaru, tiba-tiba seseorang memanggil.

“Hai! Shikamaru-kun!” panggil suara aneh itu. Pemilik suara itu menghampiri Shikamaru. “Eh, ada Temari juga..” kata orang itu dengan wajah angkuh. “Eh, ya, Shikamaru-kun, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya orang itu sambil sok mengibas-ngibaskan rambut pirangnya yang dikuncir ekor kuda. Heeeh.. siapa lagi kalau bukan si Ino itu.

“Aku biasa saja,” jawab Shikamaru pendek. Ia benar-benar malas berbicara dengan teman setimnya itu.

“Ih! Kok kamu cuek sih?!” Ino menggandeng tangan Shikamaru dengan mesra, layaknya sepasang kekasih. Temari yang melihat pemandangan itu, mulai panas dibuatnya.

“Apaan sih!? Main gandeng aja!” Shikamaru menepis tangan Ino.

“Shikamaru-kun! Kita kan—“

“Ah sudah! Jangan ganggu aku! Aku mau mengurusi persiapan ujian Chuunin! Ayo, Temari,” Shikamaru menarik pergelangan tangan Temari dan cepat-cepat meninggalkan perempuan itu.

“Shikamaru-kun!! Nanti siang kita makan di Yakiniku Q yaaa..” teriak Ino sebelum Shikamaru menghilang. Tapi sepertinya Shikamaru sama sekali tak menanggapi ajakan Ino.

“Ukh! Gadis Suna itu, menyebalkan!” Ino menggerutu.

Beralih ke Shikamaru dan Temari.

“Ada apa diantara kau dan Ino?” Temari angkat bicara. “Kelihatannya kalian ‘dekat’ sekali,” lanjutnya.

“Aku tidak ada apa-apa dengannya. Kenapa? Kau cemburu?” goda Shikamaru.

“Tidak. Aku hanya merasa aneh, aku merasa sepertinya ada hubungan khusus diantara kalian. Hubungan yang ‘lebih’ dari sekedar teman,” kata Temari.

“Jangan berpikir yang macam-macam! Mana mungkin aku bisa menyukai perempuan seperti dia? Dia saja yang sikapnya aneh!” tukas Shikamaru.

“Yang benar? Jadi, kau dan dia tidak ada apa-apa?” selidik Temari.

“I-Y-A! Mana mungkin aku berani menduakanmu!?” Shikamaru meyakinkan. Temari sedikit lega. Setidaknya, ia yakin kalau Shikamaru benar-benar berada di pihaknya.

***

Ruang kerja Shikamaru dan Temari..

Tumpukan dokumen-dokumen ada di mana-mana. Benar-benar b-e-r-a-n-t-a-k-a-n.

Hari semakin siang. Temari masih bekerja dengan serius. Sementara Shikamaru membenamkan wajahnya di kedua lengan tangannya. Ia hampir mati stres karena melihat begitu banyak tumpukan dokumen yang harus ia kerjakan.

“Ayolah, Shikamaruu.. kita hampir menyelesaikan tugas ini! Cepat bantu aku!” sungut Temari.

Shikamaru mendesah. “Haah.. baiklah..”

Tok.. Tok.. Tok.. seseorang masuk ke ruang kerja mereka. “Shikamaru, Temari-san, waktunya makan siang!” kata orang itu yang tak lain adalah Iruka, yang ikut membantu persiapan ujian Chuunin.

“Yay! Makan siang!” kata Shikamaru girang.

“Kau ini! Giliran makan siang, langsung semangat!” ledek Temari.

“Arrrh.. tidak usah banyak bicara! Ayo, akan kutraktir kau makan di Ichiraku Ramen!” kata Shikamaru, lalu keluar dari ruangan itu.

“Ichiraku Ramen? Itu tempat favoritnya si Naruto kan?” tanya Temari.

“Ya! Sejak aku sering dipaksa Naruto untuk makan di Ichiraku Ramen, aku jadi tertarik. Kadang, kalau sempat, aku beli makanan di sana,” jelas Shikamaru.

Mereka pun masuk ke kedai itu. “Selamat siang, Shikamaru, Temari-san!” sapa Ayame ramah.

“Mau pesan ramen? Berapa porsi?” tanya Teuchi.

“2 porsi saja,” jawab Shikamaru.

“Eh, apa tidak apa-apa, kau yang membayar?” tanya Temari.

“Sudahlaaah.. sama pacar sendiri, jangan perhitungan!” kata Shikamaru.

“2 porsi ramen, siap!” Teuchi menaruh dua mangkuk ramen di hadapan Shikamaru dan Temari.

“Wa! Cepat sekali!” komen Temari.

“Ayo, dimakan. Nanti keburu dingin,” kata Shikamaru.

“Itadakimasu!” Temari melahap makan siangnya.

Sambil makan, mereka asyik mengobrol. Tiba-tiba, datanglah Ino..

“Shikamaru-kun! Ayo kita ke Yakiniku Q!” ajak Ino.

“Aku kan sedang makan! Apa kau tidak lihat?” kata Shikamaru cuek.

“Tadi kan aku sudah mengajakmu! Kenapa kamu malah di sini!?” kata Ino manja.

“Kau kan bisa mengajak Chouji!” balas Shikamaru.

“Tapi aku lebih suka denganmu!” rengek Ino. Sebisa mungkin ia membuat Temari makin panas.

Tapi di luar dugaan, Temari malah mengizinkan Shikamaru makan siang bersama Ino. “Kalau kau mau makan dengan Ino, pergi saja. Aku bisa makan sendiri,” kata Temari.

“Loh? Tidak mungkin, aku meninggalkan kau sendiri di sini! Aku akan tetap di sini!” Shikamaru bersikeras.

“Shikamaru-kun! Ingat, aku ini TU-NA-NGAN-MU!” Ino sengaja memenggal-menggal kata terakhir agar lebih JELAS.

Seketika itu juga, Temari kaget. ‘T..tunangan?’ batinnya. ‘Shikamaru.. dan Ino?’ Temari merasa sekujur tubuhnya melemas.

“INO!!” Shikamaru setengah teriak.

“Ayo, Shikamaru-kuun.. kita ke Yakiniku Q.. tinggalkan saja sendiri dia di sini! Dia kan bukan siapa-siapanya kamu!” kata-kata Ino semakin SADIS.

“INO!! APA YANG BARU SAJA KAU—“ kata-kata Shikamaru tertahan ketika mendengar suara gebrakan meja yang berasal dari tangan Temari.

“CUKUP SUDAH!! AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI! SHIKAMARU, KALAU KAU INGIN BERSAMA INO, PERGI SAJA SANA! TAK USAH PEDULIKAN AKU! SEKARANG INI, AKU BUKAN SIAPA-SIAPAMU LAGI! KARENA KINI AKU SUDAH TAHU, KALAU KAU ADALAH TUNANGAN RESMI INO!!!” Temari benar-benar tak mampu memendam amarahnya. Ia lalu meninggalkan kedai itu. Benar-benar dahsyat, ia membentak dengan suara yang sangat keras. Sampai-sampai, Teuchi dan Ayame sembunyi di bawah meja. Saking ngerinya.

“Tunggu!! Temari!!” Shikamaru mau mengejar Temari, tapi tangannya dicengkram kuat oleh Ino.

“Kau mau ke mana, Shikamaru-kuuun??” rengek Ino.

“LEPASKAN AKU!!” bentak Shikamaru. Untuk pertama kalinya ia membentak seorang perempuan. Ino sampai kaget melihat seorang Nara Shikamaru, bisa membentak dengan suara sekeras itu, ditambah mata yang melotot.

Setelah lepas dari cengkraman ‘maut’ dari Ino, ia segera berlari menyusul Temari.

“Temari, tunggu dulu!” Shikamaru berhasil meraih tangan Temari.

Temari membuang mukanya, lalu cepat-cepat menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya.

“Untuk apa kau menyusulku?” Temari berusaha menormalkan suaranya. “Bagaimana dengan Ino-mu itu?” lanjutnya.

Melihat gerak-gerik Temari, Shikamaru langsung tahu, kalau Temari baru saja menangis. Walau tanpa suara sedikit pun.

“Aku ingin mengakui satu hal,” kata Shikamaru pelan. Temari mulai penasaran ingin mendengar pengakuan dari Shikamaru. Akankah ia (Shikamaru) mengaku kalau ia sudah bertunangan dengan Ino lebih dulu, sebelum Temari mendapatkan cintanya dari Shikamaru? Itulah yang ada di benak Temari.

“Ibuku melakukan perjodohan untukku.. dan Ino..” Shikamaru berat untuk mengatakannya. “Tapi, kau jangan salah sangka! Aku tidak menyetujui perjodohan itu! Sungguh! Aku sama sekali tidak mencintai orang seperti dia!” kata Shikamaru.

“Sudahlah, Shikamaru. Lagipula, ini kemauan ibumu, kan? Aku tidak bisa melarang, jika itu adalah perintah ibumu. Lebih baik, kau ikuti kata-kata ibumu. Berbahagialah dirimu bersama Ino, jangan pedulikan aku lagi..” Temari tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Bicara apa kau ini!? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi!? Apa kau lebih bahagia melihatku bersama Ino!?” Shikamaru mengguncang-guncang pundak Temari, seakan berkata ‘Hei! Sadarlah, apa yang baru saja kau katakan tadi!’

Temari tak sanggup melihat wajah Shikamaru. Ia hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan Shikamaru.

“Asal kau tahu,” Shikamaru merendahkan nada bicaranya. “Aku hanya mencintaimu. Aku tidak mau dijodohkan dengan perempuan lain. Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bisa meninggalkanmu..”

Temari terpana mendengar kata-kata Shikamaru. “Tapi.. bagaimana dengan—”

“Ssssh.. jangan ungkit-ungkit masalah perjodohan itu lagi.. aku sudah cukup lelah mendengarnya! Sekarang, lebih baik kita kembali ke akademi untuk menyelesaikan tugas-tugas kita,” potong Shikamaru.

Senyum Temari mengembang. “Ayo, kita ke akademi!” kata Temari ceria.

“Hey, kalian berdua, TUNGGU!!” tiba-tiba Teuchi memanggil dari depan kedai. “Kalian kan belum bayar! Mana uangnya?” tagih Ayame.

“Naruto berjanji akan membayarnya…” teriak Shikamaru dari jauh.

Sementara itu, Naruto yang baru mau masuk ke kedai, hanya bisa bengong melihat uluran tangan Ayame dan Teuchi. “Naruto, mana bayarannya?” tagih Teuchi.

“Bayaran apa? Makan saja belum, masa sudah ditagih?!” tukas Naruto.

“Jangan bohong! Shikamaru bilang, kau sudah berjanji akan membayarnya!” Teuchi semakin liar. “Kalau tidak mau bayar, kau tidak boleh ke sini lagi!” ancam Teuchi.

“Eh, ya, ya! Aku akan membayar!” Naruto mengeluarkan dompetnya. Naruto takut mendengar ancaman Teuchi. Baginya, itu adalah ancaman terburuk yang pernah ia dapat.

Aduh.. Teuchi.. Bodohnya.. Mau saja ditipu Shikamaru..

To Be Continued...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you