Minggu, 10 Mei 2009

i can't leave you 2 ( monicogelo )

Chapter 2

Sesuai janji, setelah Shikamaru dan Temari kembali dari kantor Hokage, Shikamaru mengajak Temari ke rumahnya untuk makan siang, sekaligus mempertemukan Temari dengan kedua orangtua Shikamaru.

Jantung Temari berdebar-debar. Ia takut—apa yang dipikirkannya akan menjadi kenyataan. Ia takut—Shikaku dan Yoshino tidak akan menerima hubungan mereka. Ia benar-benar dilanda kecemasan.

“Temari? Kenapa dari tadi kamu diam saja?” Shikamaru mengagetkan lamunan Temari.

Temari hanya memandang Shikamaru dengan tatapan kosong.

“Apa yang kamu cemaskan, Temari?” tanya Shikamaru.

“Shikamaru, aku takut mereka tidak akan menerimaku,” kata Temari akhirnya. Ia tidak sanggup memendam kecemasannya.

“Jangan berpikir begitu! Kita harus optimis! Aku yakin, mereka mau menerima hubungan kita. Jangan cemas, Temari,” Shikamaru berusaha meyakinkan. Tapi Temari tidak yakin dengan ucapan Shikamaru.

Shikamaru dan Temari kembali melanjutkan perjalanan. Mereka melewati hutan klan Nara. Dan akhirnya mereka sampai di rumah klan Nara.

“Ayo, masuk,” ajak Shikamaru.

Temari mengikuti langkah Shikamaru dengan perasaan tak menentu.

Ketika pintu terbuka, Shikamaru tak menemui ibu dan ayahnya.

“Ke mana orangtuamu?” tanya Temari ketika memasuki rumah itu.

“Mungkin ibuku sedang berbelanja. Ayahku pasti sedang mengurusi rusa-rusa di hutan."

“Ooh…” Temari lega, karena sebetulnya dia belum siap untuk bertemu dengan kedua orangtua Shikamaru.

“Ayo, kita makan siang dulu!” Shikamaru menggandeng Temari ke ruang makan.

“Rumahmu, kelihatannya nyaman ya?” Temari memandang sekelilingnya.

“Yah.. seperti inilah rumahku. Ayo duduk, kita makan dulu,” Shikamaru menyuruh Temari duduk di sampingnya.

Beberapa lama kemudian, Yoshino pulang dengan banyak tas tenteng di tangannya.

“Hai, Bu!” sapa Shikamaru.

“Shikamaru! Kau sudah pulang?” Yoshino berhenti ketika melihat ‘orang asing’ yang duduk di samping Shikamaru.

“Oh ya! Aku lupa! Perkenalkan, ini Temari. Temari, ini ibuku, Nara Yoshino,” kata Shikamaru.

“Salam kenal, aku Sabaku no Temari,” Temari membungkukan badan.

Tampang Yoshino terlihat tidak bersahabat. “Siapa dia, Shikamaru?” tanya Yoshino dingin.

“Bu, aku dan dia sudah memiliki hubungan khusus..” jawab Shikamaru.

“Maksudmu, dia kekasihmu?!” ulang Yoshino.

“Wah wah.. Anakku sudah dewasa! Jadi, kau sudah punya kekasih, Shikamaru? Siapa namanya?” Shikaku tiba-tiba datang.

“Ini Temari, Yah..” kata Shikamaru.

“Salam kenal, aku Sabaku no Temari,” Temari memperkenalkan diri.

“Sopan sekali.. cantik lagi.. kalian terlihat serasi, Shikamaru, Temari..” puji Shikaku.

“Aku tidak setuju!” kata Yoshino tegas. Kata-katanya merusak suasana.

“Hei! Hei! Kau kenapa? Aku setuju dengan hubungan mereka! Sepertinya Temari termasuk gadis yang baik,” Shikaku mengutarakan pendapatnya.

“Sekali tidak setuju, tetap tidak setuju!” kata Yoshino mantap.

‘Ternyata dugaanku benar.. Dia tidak merestui hubunganku dan Shikamaru..’ batin Temari.

Shikamaru memperhatikan Temari yang masih duduk diam di sebelahnya.

“Sekali lagi kuperingatkan, jangan berhubungan dengan perempuan itu! Sampai kapanpun, aku tidak akan merestui hubungan kalian!” kata Yoshino, lalu pergi meninggalkan mereka.

Temari merasa terpukul mendengar keputusan Yoshino. Hatinya serasa disayat-sayat.

Shikamaru bisa merasakan perasaan Temari saat ini. Perlahan, ia menggenggam tangan Temari. “Jangan hiraukan kata-kata ibuku. Mungkin dia belum begitu mengenalmu,” bisik Shikamaru.

“Eehh.. Temari, maafkan kelakuan istriku tadi, ya. Dia hanya asal bicara. Mungkin dia kelelahan, jadi pikirannya kacau,” hibur Shikaku.

Temari tersenyum tipis, walau sebenarnya ia menanggapi serius perkataan Yoshino tadi.

“Err.. mau jalan-jalan ke hutan rusa?” tawar Shikamaru, sekedar untuk membuat suasana hati Temari tenang.

Temari menerima tawaran Shikamaru. Lagipula, ia juga tidak akan tahan berlama-lama berada di rumah itu. Itu hanya membuat dadanya sesak, apalagi setelah mendengar ucapan Yoshino tadi.

“Kau masih memikirkan kejadian yang tadi?” tanya Shikamaru sambil memberi makan rusa-rusanya.

“Hhh.. entah kenapa, aku tidak bisa melupakan kata-kata ibumu tadi..” jawab Temari lesu.

“Kata-kata itu terus terngiang di otakku, dan mengganggu pikiranku,” tambahnya.

Shikamaru bangkit, lalu mendekati Temari yang sejak tadi berdiri di belakangnya.

“Ayo, akan kuajak kau ke suatu tempat!” Shikamaru menarik tangan Temari.

“Hey! Aku mau dibawa ke mana?”

“Lihat saja nanti!”

Shikamaru mengajak Temari ke suatu tempat yang menjadi tempat favoritnya. Di tempat itulah ia merenung sambil memandangi awan di langit.

“Nah, kita sampai..” Shikamaru dan Temari berhenti di tepi sungai. Airnya begitu jernih. Dari kejauhan mereka bisa melihat segerombolan rusa yang sedang bermain-main.

“Apa maksudmu mengajakku ke sini?” tanya Temari.

“Ayo, duduklah,” Shikamaru duduk di atas rerumputan. Temari ikut duduk di sampingnya.

“Di tempat inilah, aku selalu merenung. Jika aku baru saja dimarahi ibuku, aku pasti kabur ke sini,” kata Shikamaru sambil tiduran.

“Tempat ini adalah tempat favoritku. Kita bisa memandangi awan di langit. Kadang, aku bisa sampai tertidur..”

“Dengan begitu, aku bisa dengan mudah melupakan semua masalah yang mengganggu pikiranku.”

Belum sampai semenit, Shikamaru sudah terbuai dengan angin semilir yang memaksanya untuk tidur. Ia pun memejamkan matanya.

“Ngomong-ngomong, apakah ibumu sering memarahimu?” tanya Temari.

“Yaaah.. hampir setiap hari. Aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya.. dia selalu saja membesar-besarkan masalah.. kalau sedang marah, wajahnya sangat menyeramkan! Hhhh.. ibuku sangat mirip denganmu.. sama-sama bawel..”

Temari melonjak kaget. “Apa!? Jadi menurutmu, aku ini BAWEL!?” tanya Temari galak.

“Memang iya! Kenapa? Mau protes?” tanya Shikamaru santai. Lalu ia bangkit dari tidurnya, lalu berdiri. “Aku tidak akan meralat ucapanku, sebelum kau berhasil menangkapku!” Shikamaru berlari secepat mungkin—memaksa Temari untuk mengejarnya.

Jadilah. Mereka kejar-kejaran mengelilingi hutan. Tanpa disadari, Temari telah melupakan kejadian tadi.

***

Brak brak brak!! “INOICHI!! BUKA PINTUNYA!!” Yoshino menggedor-gedor pintu rumah Inoichi.

“INOICHI!!” Yoshino berteriak makin kencang.

“Yoshino! Apa-apaan sih kau ini?!” Inoichi membuka pintu.

“Ada yang ingin kubicarakan! Penting!” kata Yoshino buru-buru.

“Tenang dulu.. jangan tergesa-gesa begitu.. ayo masuk,” Inoichi dan Yoshino masuk ke ruang tamu.

“Ada apa sih?” tanya Inoichi.

“Kau masih ingat rencana kita kan?” singgung Yoshino.

“Rencana apa ya?”

Yoshino membisiki sesuatu di telinga Inoichi. Kelihatannya serius..

“Oh itu.. memang ada apa?” tanya Inoichi.

“Gawat! Shikamaru sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain! Bagaimana ini, Inoichi?!”

“Nani?!” Inoichi shock. “Kalau begitu, kita harus laksanakan rencana kita sekarang juga!” kata Inoichi mantap.

“Aku setuju! Cepat, suruh anakmu bersiap-siap!” desak Yoshino.

“Ino!! Kemarilah!!” panggil Inoichi.

Ino segera berlari menghampiri ayahnya.

“Eh, ada Yoshino-san! Oya, ada apa ayah memanggilku?”

“Cepat ganti bajumu! Jangan lama-lama! Kita tidak punya waktu lagi!” perintah Inoichi.

“Memang kita mau ke mana?” tanya Ino.

“Arrh.. nanti akan kujelaskan! Sekarang, bersiap-siaplah!”

“Baik, Yah!” Ino segera menuju ke kamarnya.

“Yoshino, terima kasih atas infonya. Lebih baik, kau pulang sekarang! Nanti, aku dan Ino akan menyusul ke rumahmu!”

“Ya sudah, aku pulang dulu,” Yoshino pamit.

***

Di kamar Ino.. “Ino, ada yang ingin ayah bicarakan kepadamu,” kata Inoichi.

“Ayah, jelaskan kepadaku! Sebenarnya aku ini mau dibawa ke mana?”

“Baiklah, akan kuceritakan. Tapi sebelumnya, maaf ya kalau hal ini begitu mendadak. Ayah sudah merencanakan ini sejak lama.”

“Rencana apa, Yah?”

“Aku dan Yoshino.. melakukan perjodohan untukmu dan Shikamaru..”

“Hah?! Jadi maksud ayah, aku akan dijodohkan dengan Shikamaru? Begitu?”

“Sekali lagi ayah minta maaf, karena hal ini terlalu mendadak. Aku sudah membuat perjanjian dengan Yoshino.”

“Aku tidak mau! Aku sudah menyukai laki-laki lain, Ayah!”

“Ino! Satu hal yang harus kau ketahui! Ini hanya sandiwara ayah!”

Ino terdiam mendengar kata ‘sandiwara’.

Seakan bisa membaca pikiran Ino, Inoichi melanjutkan pembicaraannya, “Sebenarnya ayah hanya berpura-pura menerima tawaran ini. Jika kau nanti menikah dengan Shikamaru, sebagai balasnya, Yoshino akan memberi kita tanduk rusa yang harganya sangat mahal jika dijual! Maka itu, ayah menerima tawaran ini!”

“Begitukah? Apa Yoshino-san mengetahui hal ini?”

“Tentu saja tidak, baka!”

“Jadi, hanya karena tanduk rusa, ayah menerima tawaran itu?”

“Ya! Jangan salah sangka! Biarpun cuma tanduk rusa, tapi ‘pemilik’ tanduk itu adalah rusa andalan klan Nara!”

“Wah, ayah hebat! Tapi.. aku bingung.. kenapa dia memilih tanduk rusa itu sebagai balasannya? Memangnya dia tidak takut rugi?”

“Haha! Karena aku akan membalasnya dengan uang..”

“Berarti, ayah ingin aku menikah dengannya hanya karena tanduk rusa!?”

“Kau jangan terkecoh.. tawaranku itu hanya tipuan belaka! Aku tidak serius ingin memberinya uang! Aku hanya membohonginya! Bagaimana?” tanya Inoichi.

“Mmmm.. ok, aku terima. Asal kita bisa lebih kaya karena tanduk rusa itu, apapun akan kulakukan!” kata Ino dengan senyum sinis.

“Ah! Anakku memang pintar! Ingat ya, nanti jika kau bertemu dengan Shikamaru dan keluarganya, kau harus berperilaku yang baik. Jangan sampai memalukan!” Inoichi mengingatkan.

“Tenang saja, Yah.. aku juga tidak akan membiarkan Shikamaru direbut perempuan lain! Aku tidak mau perempuan lain merebut tanduk rusa itu dari kita!” tekad Ino. Mereka berdua pun tertawa penuh kemenangan (evil laugh).

“Wahahahaha! Kita akan jadi lebih kaya!” kata Inoichi.

To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you