Minggu, 10 Mei 2009

i can't leave you 4 ( monicogelo )

Chapter 4

“APA!?” Pekik Naruto di depan wajah Ayame. “Shikamaru dan Ino…”

“Itu betul, Naruto! Aku mendengarnya sendiri dari Ino!” tambah Ayame.

“Aku betul-betul tidak setuju! Shikamaru sama sekali tidak cocok dengan Ino!” kata Naruto.

“Ya! Aku setuju denganmu! Shikamaru lebih cocok dengan Temari-san!” kata Ayame menggebu-gebu.

Teuchi hanya diam memandang mereka berdua sambil geleng-geleng. ‘Dasar Ayame! Biang gosip!’ pikirnya.

“Hei, Naruto!” Kiba yang baru datang, menyapa Naruto. Lalu duduk di sebelah Naruto.

“Kiba!! Ada berita buruk!!” kata Naruto dengan suara keras. Kiba yang duduk disebelahnya, menjauhkan telinganya dari Naruto.

“Bisakah kau bicara pelan-pelan? Jangan berteriak di telingaku!” gerutu Kiba.

“Aku tidak bisa santai! Ini benar-benar serius!” kata Naruto lagi.

“Ada apa memangnya?” Kiba mulai penasaran.

“Kau tahu tidak, Ino akan bertunangan dengan Shikamaru!!”

Kiba terdiam sebentar. Butuh waktu lama untuk merespon ocehan Naruto, apalagi dalam keadaan lapar. Saat ini ia benar-benar kelaparan. Hana tidak ada di rumah, jadi tidak ada yang memasak untukknya.

“Ah! Yang benar saja!” kata Kiba kemudian.

“Ayame nee-chan mendengarnya sendiri dari Ino!” ujar Naruto.

Kiba langsung kehilangan nafsu makannya. “Mendengarnya saja, aku jadi tidak nafsu makan.. Aku tidak bisa membayangkan Shikamaru dan Ino menikah lalu berjalan berdampingan menuju altar.. Hiii!! Sungguh pemandangan yang menyeramkan!!” Kiba bergidik.

“Ihhh… kalau aku diundang ke pesta pernikahan mereka, aku bersumpah, aku tidak akan datang!!” tekad Naruto. “Mataku bisa meleleh karena melihat mereka berdua duduk di singgasana!” lanjutnya.

“Sok tahu! Singgasana itu kursi raja! Bukan kursi pengantin! Lagipula, belum tentu kau diundang! Percaya diri sekali!” Kiba meledek.

“Hah! Terserah apa katamu! Yang penting aku tidak setuju dengan hubungan mereka!”

“Hei, hei, sebenarnya kau ini teman Shikamaru atau ayahnya? Kenapa jadi kau yang emosi?”

“Aku juga punya hak untung menentang hal seperti ini!! Ya kan, nee-chan?!”

“Yap!! Hidup ShikaTema!!” Ayame mengepalkan tangan dan meninju ke udara.

“Say no to ShikaIno!!” sahut mereka berdua.

“Kiba! Naruto! Sebenarnya kalian ke sini untuk memesan ramen atau hanya untuk bergosip!?” Teuchi mulai risih karena kedai andalannya dijadikan tempat bergosip.

“Eh, iya, paman! Maaf! Maaf!”

***

“Waah.. akhirnya pekerjaan kita selesai juga…” Shikamaru bangkit dari kursi kerjanya, lalu merentangkan kedua tangannya, yang menunjukkan bahwa ia puas dengan setumpuk pekerjaan yang akhirnya bisa terselesaikan.

“KITA? Hei! Kau sama sekali tidak ada niat untuk bekerja! Dari tadi, kau hanya mengeluh! Kau tidak mau bekerja, jika aku tidak memaksamu!” Temari mengomel.

“Haaah.. cerewet..” celetuk Shikamaru. “Cepat bereskan data-data ini! Akan kuajak kau ke suatu tempat!” Shikamaru membereskan bertumpuk-tumpuk dokumen di atas meja.

“Kita mau ke mana?” tanya Temari penasaran. “Ke hutan lagi?”

“Sssh.. Tidak usah banyak tanya! Cepat bantu aku bereskan data-data ini!” kata Shikamaru sambil membereskan berlembar-lembar dokumen yang tersebar di lantai.

“Ya, ya,” Temari ikut membantu merapikan dokumen-dokumen itu.

Setelah mereka selesai membereskan dokumen-dokumen itu, Shikamaru langsung membawa Temari keluar dari ruangan itu.

“Kita mau ke mana sih? Beritahu aku!” desak Temari.

“Jangan cerewet! Nanti kau akan tahu sendiri..” kata Shikamaru.

Shikamaru membawa Temari ke pusat kota. Di kiri-kanan mereka ada banyak tempat penginapan dan kedai makanan. Suasananya sangat ramai. Banyak anak-anak yang berlarian di sana-sini.

“Kau ingin tahu, kan, aku mau membawamu ke mana?” pancing Shikamaru.

“Ya! Maksudmu, kau mau membawaku ke tempat seperti ini?” Temari bertanya balik.

“Bukan! Aku ingin membawamu..” Shikamaru memalingkan pandangannya—melihat ke arah ukiran-ukiran wajah Hokage. “Ke atas sana!” Shikamaru menunjuk ke arah puncak bukit.

“Ke atas sana?” ulang Temari. “Kelihatannya menyenangkan!”

“Memang iya! Ayo, ikuti aku! Akan kutunjukkan jalannya!” kata Shikamaru.

Mereka berdua pun berjalan menuju tempat yang dituju Shikamaru. Tempat itu berada di atas bukit—dimana wajah-wajah Hokage terukir.

Setelah berjuang menaiki anak-anak tangga yang cukup banyak dan melelahkan, mereka sampai di atas bukit.

“Bagaimana? Indah bukan?” Shikamaru melihat pemandangan desa Konoha dari atas bukit.

“Waah.. Tempat ini mengagumkan! Hawanya juga sejuk!” kata Temari.

Sebenarnya Shikamaru mengajaknya ke tempat ini karena ia berharap Temari bisa melupakan kejadian di Ichiraku Ramen tadi. Mungkin, setelah ia menikmati pemandangan Konoha dari atas bukit, pikirannya jernih kembali.

“Shikamaru?”

“Kenapa?”

“Soal rencana pertunanganmu dengan Ino, apa kau akan menerimanya?” tanya Temari serius.

‘Sial! Ternyata kejadian itu belum lenyap dari otaknya!’ pikir Shikamaru. “Tentu saja tidak!” jawab Shikamaru tegas. “Tidak mungkin aku menerima perjodohan ini! Sampai kapanpun, aku tidak akan setuju!”

“Tapi, bagaimana kalau ibumu terus mendesakmu? Apa kau akan tahan dengan semua ini?” tanya Temari.

“Haaah!! Bisakah kau berhenti membicarakan hal itu?! Aku tidak mau tahu lagi tentang perjodohan itu!” bentak Shikamaru.

‘Shikamaru, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Tapi.. aku mengkhawatirkan keadaanmu. Apa kau sanggup menghadapi semua ini?’ batin Temari.

“Ermm.. Temari, maaf ya, tadi aku emosi, jadi aku tidak sengaja membentakmu..” kata Shikamaru setelah emosinya mereda.

“Aku mengerti perasaanmu. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama,” kata Temari.

“Sudahlah, daripada kita membicarakan hal yang paling tidak ingin kudengar, kita ke kedai dango saja! Mau?” tawar Shikamaru.

“Ayo!” Temari bersemangat. “Tapi…” tiba-tiba ia teringat satu hal.

“Tapi kenapa?” tanya Shikamaru.

“Kalau kau pulang terlalu malam, apa ibumu tidak akan marah?”

“Biarkan saja! Aku bosan kalau setiap hari harus pulang tepat waktu! Sekali-sekali, aku ingin diberi sedikit kebebasan!”

Temari menghela napas. “Terserah kau sajalah!”

“Sekarang, kita ke kedai dango ya!” kata Shikamaru dengan penuh semangat.

“Menuruni tangga-tangga ini lagi!?” tanya Temari. Tubuhnya langsung lunglai, mengingat betapa lelahnya menuruni satu per satu anak-anak tangga itu.

“Kenapa? Capek? Apa perlu kugendong?” canda Shikamaru.

Temari tersenyum jahil. “Boleh saja, kalau kau bisa!” kata Temari seakan menantang.

Hei! Shikamaru tidak main-main! Tanpa banyak bicara, ia langsung menopang tubuh Temari dengan punggungnya. Apa ia sanggup? Ingat! Temari membawa kipas RAKSASA di punggungya! Kita lihat saja, mungkin setelah sampai di bawah, Shikamaru akan jatuh pingsan dan berada di bawah perawatan intensif Tsunade.

“Shikamaru!! Turunkan aku!!” Temari memukul-mukul pundak Shikamaru. “Kau mau cari mati, apa?! Memangnya kau sanggup!?”

“Aku ikhlas kok! Lagipula, aku lihat, wajahmu agak muram. Kau pasti kelelahan karena bekerja seharian. Sedangkan aku? Seperti katamu, aku hanya mengeluh dan mengeluh. Maka, aku melakukan ini sebagai balas budi untukmu! Kau pantas menerimanya!” kata Shikamaru panjang lebar.

“Aku mau jalan sendiri!! Turunkan aku!!” Temari meronta-ronta.

“Sudah! Kau diam saja! Jangan ribut!” sungut Shikamaru.

Temari akhirnya diam. Percuma juga ia meronta-ronta minta diturunkan. Shikamaru tidak akan melepaskan Temari sebelum sampai di dasar bukit.

***

Lagi-lagi Shikamaru memecahkan rekor. Ia BERHASIL menuruni anak-anak tangga itu sampai ke dasar bukit. Dengan membawa BEBAN BESAR tentunya.

“Lihat, aku hebat, kan?” kata Shikamaru puas.

“Aku berhasil menggendongmu sampai ke dasar bukit! Aku hebat, kan, Temari?” tanya Shikamaru. Tapi tidak ada jawaban.

“Temari? Hey!” Shikamaru menurunkan Temari. Dilihatnya, kedua mata Temari terpejam.

‘Apa!? Dia sampai tertidur!?’ pikirnya. “Heh! Bangun!” Shikamaru mengguncang tubuh Temari. Tapi Temari masih tetap tidur. Wajahnya terlihat tenang.

“Menyusahkan! Masa aku harus menggendongnya sampai ke kedai dango!? Aku bisa gila!” omel Shikamaru.

“GYAHAHAHAHAHA!!!” tiba-tiba Temari yang tadinya tertidur, langsung tertawa keras.

“Temari!! Kau tidak tidur!?”

“Aku cuma bercanda!! Hahahaha!! Aku tidak tahan lagi ketika mendengar omelanmu barusan!!” Temari masih tertawa.

“Haaah.. kau ini, ada-ada saja! Ayo, kita makan dango!”

“Iya, iya..maaf..”

***

Hari sudah malam. Temari sudah kembali ke penginapan. Sedangkan Shikamaru, saat ini, ia tengah ‘berjuang’ memasuki rumahnya sendiri. Kenapa? Ia berusaha, sebisa mungkin langkahnya tidak terdengar oleh ibunya. Kalau Yoshino sampai tahu—Shikamaru pulang pada pukul 9 malam, Yoshino mungkin akan membantainya.

‘Shikamaru.. berjuanglah..’ Shikamaru mengendap-endap. Sial! Yoshino ada di ruang tamu! Ia sedang tidur di sofa. Mungkin ia menunggu Shikamaru pulang.

‘Bagaimana ini?? Ibu ada di situ!’ pikir Shikamaru sebelum semakin dekat dengan ruang tamu.

Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian yang cukup, ia melewati ruang tamu dengan sangat hati-hati. Bagai berjalan melewati beruang liar. Setidaknya itu yang ada di pikiran Shikamaru saat ini.

“Shikamaru!” ow ow! Sialnya lagi, Yoshino terbangun. Matanya yang tajam mengarah ke Shikamaru yang berdiri mematung.

‘Gawat.. gawat…’ Shikamaru terlihat pasrah.

“Kenapa baru pulang?” tanya Yoshino dingin.

Shikamaru hanya bisa diam. Ia tak berani memandang wajah ibunya.

“Pasti kau keluyuran dengan gadis berambut aneh-mu itu ya!?” tebak Yoshino.

“Bu! Dia punya nama! Namanya Temari, bukan ‘gadis berambut aneh’!” balas Shikamaru.

“Ah! Apapun namanya, aku tidak peduli!” Yoshino semakin marah. “Aku sudah tidak tahan dengan sikapmu itu. Sekarang, kau harus ikuti kata-kata ibu!”

“A—apa yang harus kuperbuat?” tanya Shikamaru gugup.

“Mulai sekarang dan mulai detik ini, kau tidak boleh berhubungan dengan gadis itu! Putuskan hubungan kalian!” kata Yoshino tegas.

“Apa maksud ibu!? Aku mencintainya! Apa salahnya aku berhubungan dengannya?!”

“Shikamaru!! Apa kau masih belum mengerti juga!? Ibu kan sudah bilang, ibu sudah menjodohkanmu dengan Ino! Kau harus terima...”

“CUKUP!!! Rasanya kepalaku mau pecah!! Aku tidak mau lagi membicarakan hal ini!!” Shikamaru berbalik, hendak menuju ke kamarnya.

“SHIKAMARU!! SEBENARNYA SIAPA YANG KAMU PILIH? IBU, ATAU GADIS ITU?!” tanya Yoshino dengan suara parau. Sepertinya, ia menangis..

Langkah Shikamaru terhenti. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa kau lebih memilih dia dibandingkan aku, ibu kandungmu sendiri?” tanya Yoshino lirih.

Kali ini, Shikamaru benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

‘Bu, aku sangat mencintaimu.. Tapi aku juga sangat mencintai Temari..’

To Be Continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you